Posted: 15 Juni 2007
Assalaamu 'alaikum,
Wanita ayu dengan pakaian minim dan seronok, ditambah belahan dada yang menantang, terpampang sebagai cover beberapa tumpukan majalah di salah satu kedai di Batam. Mata pria mana yang tak tergoda untuk meliriknya. Namun ada satu yang lebih bikin tercengang. Kalau Matra yang berharga 28 ribu, lalu Popular yang berharga 32 ribu, dan juga Male Emporium yang berharga 32 ribu adalah pemain lama, maka ada satu yang terlihat lebih ekslusif dan terbungkus plastik. Majalah itu bernama Playboy yang dihargai 50 ribu rupiah.
Hmm, belum lekang dari ingatan, majalah ini sempat mengundang pro dan kontra. Demo anti Playboy terjadi di sana-sini. Banyak orang yang "menjerit" karena kehadirannya. Bahkan dagelan pengadilan pun terjadi, di mana Erwin Arnada, Pemred yang sudah berinvestasi 2 milyar demi kehadiran majalah pria ini, sempat dituntut di pengadilan, meski akhirnya dibebaskan. Andara Early, yang sempat berpose seksi sebagai cover majalah itu pun, sempat ketar-ketir dituntut di pengadilan.
Markas Playboy di kawasan Jaksel sempat diserbu dan dihancurkan, hingga akhirnya dipindahkan ke Denpasar. Demo penolakan sedemikian kencang, namun Pemerintah tidak bergeming. Kata Pemerintah, don't judge the book by its cover, dan atas nama kebebasa dan HAM, Pemerintah tidak kuasa melarang Playboy.
Walau begitu, Pemerintah jiran, baik Singapore dan Malaysia sudah bersiap menjatuhkan denda serius apabila ada yang nekat membawa majalah ini ke jiran. Tak tanggung-tanggung ribuan dollar bakal dikemplang kepada para pelanggarnya. Meski mungkin isi Playboy versi nusantara tidak sampai bugil, namun Playboy tetaplah Playboy buat mereka. Sehingga sikap mereka sudah jelas, menghindari kontroversi yang tak perlu dengan melarang terbitnya Playboy di kedua negeri itu.
Banyak pihak meradang, dan Playboy nusantara pun berlagak "tau moral" dengan menjanjikan bahwa peredarannya hanya melalui pesanan alias tidak diperdagangkan di tempat umum. Pedagang kecil yang sempat mengedarkannya, sempat kena "kepruk" para polisi dan laskar. Kasian banget mereka, maunya cari untung tapi kena getah. Namun apa lacur, semua janji dan harapan kini berkeping-keping secara sia-sia.
Yang jadi pertanyaan, kalau akhirnya Playboy bisa me-masyarakat, untuk apa dahulu diperdebatkan dan dikontroversikan? Bukankah itu cuma buang-buang waktu, biaya dan energi kita semata, tanpa ada hasil signifikan apa pun yang kita dapatkan?
Pihak Playboy memang pandai bermain waktu. Mereka tau bahwa bangsa kita ini PELUPA dan PEMAAF. Toh memang sudah berulang kali terjadi, setiap kontroversi di bumi pertiwi akan hilang dan tenggelam seiring dengan perjalanan waktu. Apalagi kalau setelahnya ada kasus baru yang lebih menghebohkan. Media massa kita juga doyannya cuma cari kehebohan.
Buat mereka lumayan fulus mereka bakal bertambah, tanpa peduli dengan kondisi masyarakat yang sudah kepayahan dihajar berita-berita buruk tentang Indonesia.Lucunya lagi, biasanya kita cuma meributkan dan saling tunjuk hidung, tanpa memikirkan penyelesaian yang tuntas akan suatu masalah. Akhirnya memang penyelesaian yang mengambang alias sama saja gak ada penyelesaiannya.
Tengolah kasus boraks dan formalim. Adakah perangkat hukum yang diterapkan untuk menindak tegas pelakunya? Gak ada, dan akhirnya bukan cuma masalah ini gak selesai, melainkan muncul masalah beras ber-klorin, minyak goreng jelantah yang diolah dengan strong acid pemicu kanker H2O2 (hidrogen peroksida) dll. Kasus dana rapelan DPRD yang sempat heboh, akhirnya juga berakhir dengan diam-diam, dimana Pemerintah tetap mengabulkan dana baru buat mereka itu.
Kalau sudah ditelan waktu, biasanya gak dihebohkan lagi. Di sinilah jalan damai biasanya dieksekusi, peduli apakah jalan damai itu memihak kepada masyarakat atau tidak, itu urusan lain. Jangan-jangan kita memang punya hobby tuman (kebiasaan) senang kepada halilintar. Makanya hero lokal di sini pun adalah Gundala Putra Petir. Halilintar alias petir itu datangnya begitu mengejutkan, menggelegar bahkan menakutkan semua orang. Namun setelah itu ia akan hilang lenyap tak berbekas bagaikan tak pernah terjadi apa-apa. Begitupun dengan kontroversi di kita.
Ributnya sampai menguras fisik, pikiran dan waktu bahkan biaya. Bahkan kalau perlu diwarnai gontok-gontokan di sana-sini. Tapi akhirnya ya lenyap begitu saja, tanpa kesan dan pesan. Kalau kesan dan pesannya aja sudah gak ada, apalagi solusinya. Begitulah realita di antara kita. Untuk mengobatinya tak gampang. Dan bukankah kita malah menikmatinya sebagai suatu dinamika kehidupan di nusantara? So what gitu lho. Yep, biarin aja deh, enjoy ajalah, memangnya seberapa pentingnya solusi masalah itu ditemukan buat kita? Entahlah, yang penting kita semua tetap bisa enjoy dan ber haha-hihi.
BTW, tentang kasus Playboy, sejujurnya, majalah pria lain di Indonesia, "nampaknya" justru lebih sronok daripada Playboy. Kalau mau jujur, yang harus ditindak ya semuanya, dan bukan cuma Playboy. Hikmah dari kasus ini ada juga sih, yakni hilangnya koran-koran kuing dari orbitnya di masyarakat. Namun boleh jadi ini hanya sementara. Supply ada karena ada demand. Tinggal adakah niatan dari pihak yang punya otoritas untuk mengontrol hal ini.
Bisnis esek-esek dimana-mana memang gak ada matinya, Wajarlah kalau profesi tertua di dunia itu, konon katanya, adalah maaf, pelacur. Bisnis esek-esek (plus) judi memang tak pernah merugikan. Tapi jangan harap ada kepedulian dari mereka terhadap kondisi moral rakyat. Kuncinya ada di pihak otoritas. Mereka niat atau gak untuk menertibkannya demi masyarakatnya sendiri. Kalau gak ada niatan yang sungguh-sungguh, ya sutra lah, dan akhirnya selalu terjadi begitu dan penyelesaiaannya selalu menggantung.
Wassalaam,
Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
1 comment:
Bener, sblm Playboy muncul di Indonesia, udh banyak majalah2 lain yg isinya malah lebih seronok drpd isi Playboy awal2 di sini, tapi orang sepi2 aja tuh... :-p Bgitu denger nama Playboy baru ribut. Blum liat Maxim, FHM, dll? Atau kalo ga sampe bugil gpp, yg penting bikin (excuse me) "bangun" ya?
Post a Comment