Posted: 13 Juli 2007
Assalaamu 'alaikum,
Beberapa hari lalu saya berjumpa dengan seorang client di Malaysia yang seorang keturunan India. Ada hal yang bikin saya "salut dan kagum" dengan orang ini, dan itu rata-rata memang dimiliki oleh orang India. Gaya bicaranya sangat percaya diri dan meyakinkan. Suaranya lantang, penuh intonasi dan kemantapan, yang mencerminkan kepercayaan dirinya yang sangat tinggi. Tapi apakah memang isinya demikian? Dalam hari saya geli sendiri. Sebab saya tau detil tentang sosok customer yang dibicarakannya. Rasanya gak kayak gitu deh, sepanjang yang saya tau. Tapi good job, orang ini memang hebat dan meyakinkan dari cara bicaranya.
Percaya diri memang perlu, termasuk dalam urusan komunikasi. Perkara isinya bagaimana itu urusan belakangan. Bahkan seandainya yang kita ketahui sedikit sekalipun, andaikan kita bisa meng-cover dengan Percaya diri yang tinggi serta communication skill yang baik, semua itu akan ter-cover. Bukan cuma urusan bicara, dalam melaksanakan sesuatu pun kita harus yakin dan PD habis dengan kemampuan kita. Jangan berpikir mau sukses atau menang, kalau kita sudah gak PD alias menyerah sebelum bertanding. Yakin lah dulu, PD lah dengan kemampuan kita, kalau ternyata kita kalah, ya apa boleh buat. Yang terpenting kita sudah berupaya semaksimal mungkin. Dan hasil gak selalu sejalan dengan usaha.
Jadi apakah percaya diri itu? Sudah tentu kalau kita menguasai segala sesuatu dengan komplet, maka dengan sendirinya percaya diri akan tumbuh. Namun andaikan kita tau hanya sedikit, apakah bisa tumbuh? jawabannya mungkin, karena, IMHO, percaya diri adalah suatu MIND GAME. Tengoklah dulu semasa era tinju kelas berat Mike Tyson. Sebenarnya Mike Tyson, pandai bermain Main Games. Sebelum bertanding ditatapnya sang lawan dengan buasnya, seakan dia hendak memakan habis. Kalau sang lawan menunduk, dengan mudah akan dihajarnya habis. Tapi tidak demikian dengan Evander Holyfied. Dia berani balas menatap karena punya PD bakal mengalahkan Tyson. Dan akhirnya memang kejadian, dan Tyson pun tak pernah menang atas dirinya. Ini hanyalah sebuah contoh kecil dari Mind Games.
Dan sebagai Mind Games, percaya diri itu bisa dibentuk. Contoh mudahnya adalah bangsa Amerika, bangsa Jepang, bangsa Jerman dan bangsa Singapura. Taukah anda, semenjak kecil, melalui pendidikannya, Jepang menanamkan konsep terhadap anak bangsanya, "Sekai Ichi, Sekai Hatsu". Sekai Ichi berarti nomor satu di dunia, sedangkan Sekai Hatsu berarti yang pertama di dunia. Jadi, apapun yang mereka lakukan, haruslah mencapai target Sekai Ichi atau Sekai Hatsu. Mereka menjadi terpacu untuk menjadi yang terbaik. Di bidang olahraga, seringkali kita lihat orang Jepang itu, sekalipun pria, kalau kalah nangis, kalau menang pun nangis. Menyebalkan memang. Tapi inilah perwujudan bahwa mereka sudah berupaya mati-matian untuk emraih Sekai Ichi, Sekai Hatsu.
Amerika pun tak ketinggalan. Lihat pertandingan baseball dan basket ball mereka. Padahal itu cuma selevel pertandingan domestik Amerika. Tapi dengan pongahnya mereka berani meng-klaim sang pemenang sebagai juara dunia. Katanya pertandingan domestik itu adalah World Series. Menjengkelkan, dan itu sama saja dengan tidak menganggap bangsa lain. Pedulikah mereka? Tentunya tidak, akrena mereka menganggap mereka lah yang terbaik.
Jerman pun punya slogan yang namanya Deutsche Ubber Alles, alias Jerman di atas segalanya. Ini juga merupakan wujud percaya diri mereka yang berlebihan. Singapore punya sifat Kiasu, alias Win at All Cost. Pokoknya menang dan jangan ketinggalan. Dan ini memang ditanamkan melalui pendidikan mereka di sekolah. Sampai-sampai kolega saya tiap pergi dengan saya, selalu saja bicara dengan bangga tentang Singapore. Ini Singapore, katanya. Semuanya harus paling dulu dan harus paling maju. Gak boleh ada jalan cacat, terlambat respon dll, katanya dengan PD.
Percaya diri memang penting, agar kita bisa sukses. Tentunya agar tak dibilang omong kosong, pemupukan percaya diri itu harus diimbangi kemampuan nyata, yang bisa dibangun misalnya melalui pelatihan terus menerus dll, untuk menguasai keadaan dan lingkungan. Again, percaya diri akan timbul dengan sendirinya apabila kita mampu menguasai keadaan. Apabila sesuatu itu sudah kita kuasai, dengan kata lain, kita sudah menguasai medan, selain percaya diri yang timbul, maka kita bisa lebih fokus untuk mengarahkan gerak dan langkah kita menju target ataupun cita-cita yang diinginkan. Sudah barang tentu lingkungan yang baik dan pergaulan yang rapi juga akan meningkatkan rasa PD kita. Imbas dari kawan-kawan yang berhasil akan bernilai positif untuk memacu diri kita, agar paling tidak mengikuti jejaknya, bahkan lebih bagus lagi kalau bisa lebih.
Kalau PD bisa dibentuk melalui pendidikan, kalau PD bisa dibentuk melalui rangsangan yang positif, baik itu dari aktivitas, pergaulan informasi dll, tentulah hal yang sebaliknya akan justru menenggelamkan PD itu. PD adalah suatu Mind Games, dimana kuat lemahnya juga tergantung rangsangan dari luar. Karenanya sejatinya adalah suatu hal yang ridicuolus kalau melihat kenyataan di bumi pertiwi. Kenapa yah media kita bisa sampai punya slogan "Bad News is Good News". Tahan kah anda setiap hari selalu dicecoki berita-berita yang berbau masalah belaka, tanpa ada berita yang terlihat membanggakan. Ibaratnya makin jelek, makin hancur, maka akan makin heboh dan menuai kontroversi. Itu berarti akan semakin banyak orang yang menonton, dan berarti pula akan banyak iklan yang masuk yang bisa dikonversi ke bentuk fulus.
Saya sendiri sempat jengkel suatu ketika dengan berita itu. Kalau cuma memaparkan sih oke-oke aja. Kita harus terbuka kok. Namun berita itu kan punya rasa, dan rasa itu tergantung sang redaksi yang mengarahkannya. Pernah saya jadi berpikir setelah diterjang ribuan berita jelek tentang bangsa kita. Bangsa Indonesia memang bangsa brengsek, mengurus sesuatu gak ada yang benar. Semuanya sudah rusak, begitu kesan saya dalam hati. Sampai akhirnya saya tersadar bahwa saya tidak boleh terjebak dalam Mind Games. Ya, sebenarnya informasi itu adalah bagian dari Mind Games. Berita yang jelek mengakibatkan kita APATIS dan PESIMIS. Kalau sudah begini Percaya Diri akan hilang. Kalau PD sudah hilang, gak usah lagi deh bicara berjuang, apalagi sukses, karena kita sudah kalah sebelum bertanding.
Hal inilah yang sebenarnya diinginkan oleh pihak lain yang mungkin gak suka melihat kita maju dan besar sebagai suatu bangsa. Namun salahkah pihak lain itu? Mereka gak salah, namun kita lah yang bodoh. Kitalah yang justru terjerembab dalam kubang kehilangan kepercayaan diri yang dibentuk oleh informasi buruk yang justru dihebohkan oleh bangsa kita sendiri. Wajarlah hari ini Pak SBY sampai mengatakan bahwa bangsa kita memang paling senang memperolok diri sendiri. Kalau sudah gak ada PD atau merasa yang terburuk di dunia, gimana kita mau maju dan menang. Sayangnya, kita tidak tau apakah pemasok yang buruk-buruk itu paham dengan konsep Mind Games seperti ini? Bukan berarti gak boleh, namun alangkah bijaksananya andaikan informasi yang ada terus dipilah, dan kecenderungan yang negatif bisa direduksi.
Pemerintah Singapore dengan sengaja mengontrol pemberitaan di sini, seperti semasa kita punya Departemen Penerangan dulu. Tujuan tak lain, selain menjaga stabilitas, juga agar masyarakat sini tetap PD dengan kemampuan dan leadership Pemerintahnya. Berarti mereka akan trust kepada Pemerintah, dan itu memudahkan penggerakkan pembangunan.
Percaya Diri is a Mind Game. Sebenarnya sebagai bangsa kita dulu punya slogan bagus, yakni Bangga sebagai Bangsa Indonesia, ataupun Cinta Produksi Dalam Negeri. Sayang sekali penanaman dan pengarahannya tidak terkontrol. Apalagi tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas hidup sehingga setara dengan slogan tersebut, dan membuat kita mampu benar-benar membanggakan Indonesia. Entah sudah telat atau belum, berpijak dari realita yang ada serta pemberitaan buruk yang terus menerus, akhirnya yang bagus-bagus pun kini hanya dianggap angin lalu, sekedar lips service serta masyarakat telanjut apatis dan gak interes sama sekali. Kesan seperti inilah yang perlu diperbaiki, karena, sekali lagi, gimana mau maju dan menang, kalau PD saja kita tidak punya.
Di tingkat pribadi, kita bisa menumbuhkan PD pula, dengan meyakinkan bahwa diri kita pasti bisa, diri kita pasti berhasil, lakukanlah dengan sebaik-baiknya dan tidak mudah menyerah. Sebenarnya dalam konsep agama ini sudah jelas dan tersirat. Konsep itu bernama Tawakkal. Di sini, kewajiban manusia adalah berupaya sebaik-baiknya, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Dan kita tidak dibenarkan bersikap pasrah, alias apa adanya, malas berupaya dan kalah sebelum bertanding. Sebisa mungkin, kita harus menghilangkan hal-hal negatif, seraya yakin dan PD dengan apa yang kita lakukan.
Percaya Diri, sekali lagi, is a Mind Game. Dan ini faktor yang paling penting, yang menentukan kesuksesan sesuatu baik pada tingkat individu bahkan pada tingkat bangsa sekalipun. Konsepnya tetap sama pada level apa pun. Yakni kita punya persiapan dan perencanaan yang baik hingga kita mampu menguasai keadaan. Di situ PD akan tumbuh dengan sendirinya, kalau memang kemampuan kita sudah memadai. Rasa PD ini harus ditunjang dengan pemikiran yang selalu positif serta lingkungan yang baik pula, agar kita tetap on track dan trus terpacu mengejar ketertinggalan, serta "iri" dalam arti yang positif. Dan PD itu bisa dibentuk, semisal di tingkat bangsa, melalui pendidikan, seperti pada bangsa Jepang dan Singapura, dan tentunya bisa pula dilatih dan dibina terus.
Lalu, jauhilah sebisa mungkin setiap hal-hal yang dapat melemahkan jiwa kita. Asupan negatif, lingkungan negatif, sifat suka-suka dan masa bodoh, serta kemalasan untuk meningkatkan kualitas akhirnya akan melemahkan PD bahkan mungkin dapat menghilangkannya. Kalau PD sudah hilang, kita gak usah berpikir untuk bertanding, apalagi berpikir menang, Karena kita sudah pasti kalah sebab sudah menyerah dalam bertanding. Ingatlah PD itu adalah Mind Game semata. Tergantung kemana kita mengarahkannya, dan tergantung adakah niat kita untuk menguasainya dan bukan malah dikuasai oleh sang Mind Game. Jangan pernah takut dan kalah dengan Mind Game. Dan ingatlah selalu akan konsep Tawakkal bahwa kewajiban seorang hamba adalah melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya, sambil berserah diri akan hasilnya kepada Sang Maha Kuasa. It's only a mind game, jangan pernah kalah dengan Mind Game.
Wassalaam,
Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com/
FS Account: mailto:boedoetsg%40hotmail.com
5 comments:
Hehehe... tapi kalo over pede bisa keliatan malah ancur.
Memang masih berlaku sih motto "lebih baek pede daripada bego." Nggak dimana2 tuh, di luaran Indonesia juga gitu
Good article, Yu! Mudah2an gak terlambat buat orang Indonesia... keseringan dicekokin yg negatif mulu sih emang...
Ngemeng2 Uber Alles, gw jadi inget Bu Niken :D alles gute und gute besserung. Tschus!
salam kenal dari bandung pak, punya cerita tentang manfaat PD pas seumuran saya ngga ? Lagi butuh inspirasi nih
terimakasih ya pak !
Bukan berarti suara lembut dan manis mencerminkan orangnya tidak PD.Tapi emang bener "pikiran" kita bisa membuat kita gak PD dan gagal sebelum berperang.nice essay.Btw salam kenal ya..gw suka baca blog bapak, nambah pengetauan.aku add bapak di FS(Valdis Wong)saya.
Bukan berarti suara lembut dan manis mencerminkan orangnya tidak PD.Tapi emang bener "pikiran" kita bisa membuat kita gak PD dan gagal sebelum berperang.nice essay.Btw salam kenal ya..gw suka baca blog bapak, nambah pengetauan.aku add bapak di FS(Valdis Wong)saya.
Post a Comment