Posted: 23 Agustus 2007
Assalaamu 'alaikum,
Percakapan antara mantan Dirut Garuda, Indra Setiawan dengan Pollycarpus, terdakwa agen BIN, dalam sidang PK kasus pembunuhan aktivis HAM Munir. Polly mengakui itu adalah suaranya, dan dia sempet geleng-geleng kepala menatap ke arah IS sambil berujar kacau 3x.
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/indexphp/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/23/time/060013/idnews/820495/idkanal/10
Sebenarnya benang merah kasus ini sudah mulai kelihatan. Namun sebenarnya siapakah yang diuntungkan dari kasus dibunuhnya sang aktivis HAM itu? Mengapa pembunuhan ini bisa terjadi dan bisa-bisanya bukti seperti ini hadir untuk membongkar kasus itu?
Salah satu teori yang mungkin adalah keberadaan sosok Mr. X yang merupakan "sang pengkhianat".Pembunuhan Munir boleh dibilang pembunuhan yang "konyol", kalau tidak bisa dibilang "tolol". Seberapa berbahayanyakah Munir? Sebegitu kredibil-nya kah beliau sehingga sampai sebegitu pentingnya untuk dibunuh? Apakah impact dari lenyapnya dia akan begitu besar seperti mengingat selama ini kebanyakan target operasi inteljen adalah "orang-orang besar" bahkan sampai ke level negara? Kalau melihat track record-nya Munir, beliau memang vokal, namun sebenarnya beliau "belum apa-apa" dan "tidak berarti apa-apa". Kevokalannya boleh jadi "menjengkelkan" pihak tertentu, namun rasanya sulit dinalar kalau tindakan terhadapnya harus sampai ke level eksekusi. Inilah yang bisa dinilai sebagai pembunuhan nan konyol bahkan mungkin "tolol".
Boleh jadi sang Mr. X itu adalah pencetusnya, karena mendengar kegerahan orang-orang tertentu atas Munir. Boleh jadi dia jugalah yang merekayasa dan merencanakan semua ini, termasuk menentukan siapa eksekutornya, kapan dan dimana, serta bagaimana cara menghapus jejak nantinya. Dimana-mana, untuk operasi inteljen, kalau mission completed, maka semua jejak harus dimusnahkan. Semuanya hampir berjalan sempurna, bahkan Poly pun divonis bebas karena tidak ada bukti yang cukup kuat dan meyakinkan sebagai pembunuh, serta tak ada bukti dalangnya adalah BIN.
Namun amat disayangkan, kisah manis ini tertelikung, oleh Mr. X yang ternyata adalah agen ganda. Manis banget permainannya, hingga kini posisinya berbalik, yang terpojok justru adalah BIN, militer dan mungkin banyak orang nantinya. Pembunuhan yang "kurang berharga" ini boleh jadi berhasil dimanfaatkan oleh pihak di belakang Mr. X yang entah siapa, justru untuk memperburuk dan menjatuhkan citra para pembunuh Munir andaikan bola panas yang menggelinding itu tidak segera dihentikan.
BIN pun sadar, Polly pun sadar dan juga IS, bahwa apa yang menjadi sangat rahasia buat operasi mereka kini telah jatuh ke tangan publik, dan mereka harus mati-matian menolaknya. Kini barulah mereka tersadar akan siapa sosok Mr. X sebenarnya. Orang awam dan publik, mungkin tak tau dan sulit mencari jejak Mr. X. Tapi inteljen kita, dan khususnya para komplotan pembunuh Munir ini sangat tau dan kini tersadar telah dikhianati. Pembunuhan "orang biasa" sekelas Munir ini memang cukup keren, dilakukan di atas pesawat dalam perjalanan ke Amsterdam, dan Munir pun diperiksanya di Belanda sana.
Rekayasa yang begitu logis dengan target Munir harus mati, namun sebenarnya rekayasa yang menunjukkan "kebodohan" inteljen kita yang kecolongan, mengapa Munir yang kena dan mengapa harus dengan cara seperti itu. Apa pun jadinya kini semua sudah telanjur. Kini pihak-pihak terkait sudah pasti jengkel setengah mati, dan berupaya cuci tangan dari kasus ini serta memutus mata rantainya. Istri Munir kasian karena dizhalimi, suaminya lebih kasian lagi, selain dizhalimi jadi bahan mainan pihak-pihak tertentu dengan kepentingan tertentu. Inteljen kita kah pemenangnya? Sudah jelas bukan, namun Mr. X dan rang di belakangnya itulah sang pemenang.
Siapakah Mr. X itu? Ada dimanakah dia sekarang? Wallaahu 'alam. Boleh jadi ia kini telah "hilang lenyap" tak berberkas. Boleh jadi ia "dihilangkan" secara abadi, namun boleh jadi dia menghilang to somewhere dan hidup dengan identitas barunya, seperti dalam film "Eraser" yang dibintangi oleh Arnold Schwazenegger. Film Eraser itu bukanlah fiksi belaka, namun juga sebuah realita yang benar-benar ada dan terjadi. Ya at the end, mission has completed, dan pemenangnya adalah pihak di belakang Mr. X. Siapakah dia? Entahlah. Namun tujuannya sudah jelas banget. Silahkan pihak-pihak yang "kena tembak" untuk "glabah" cuci tangan sana-sini. Yang jelas Mr. X dan pihak di belakangnya lagi tertawa terpingkal-pingkal seraya berkata "Mampus Lu".
Hanya sebuah opini dari teori konspirasi yang mungkin adanya.
Wassalaam,
Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@hotmail.com
Be Useful, Be Yourself. U + U = double U alias W. be Useful + be Urself = Wahyu. Jadilah dirimu sendiri, karena kita diciptakan Allah SWT dengan keunikan dan potensi kita masing-masing. Namun jadikanlah dirimu juga bermanfaat buat insan lain. Karena hidup akan terasa hampa apabila kita tidak memberikan manfaat untuk siapa-siapa.
Wednesday, August 22, 2007
Munir: unsolved teori konspirasi dan puzzle zig zag
Posted: 22 Agustus 2007
Assalaamu 'alaikum,
news
Kasus pembunuhan high profile atas aktivis HAM, Munir, memasuki babak baru. Kasus ini menjadi menarik perhatian, karena si korban adalah seorang aktivis HAM, sekaligus ketua Kontras (Komisi Anti Kekerasan dan Orang Hilang), yang terkenal bersuara vokal terhadap militer kita. Ditenggarai tewasnya Munir ini merupakan suatu aksi inteljen, yang dilakukan via agen-agen mereka. Aksi inteljen memang menarik, dan banyak diangkat di beragam movie seperti Bourne, Bond, MI, Die Hard dll. Walau begitu, apa pun jadinya, faktanya kini adalah Munir telah tewas dan tiada.
Awalnya saya pernah berpikir alangkah bodohnya para inteljen, mengapa Munir harus dibunuh di atas pesawat yang terbang tinggi dari Singapore menuju Belanda. Waktu itu, Munir memang akan berangkat ke Belanda untuk menyelesaikan pendidikan S-2, dan dikuatirkan, ke-vokalannya di luar negeri akan justru membawa dampak negatif pada sebagian kalangan bahkan mungkin pada "negara". Kalau dibunuh di atas pesawat, bukankah ini suatu tindakan tolol, karena lingkup kejadian sangat kecil, dan pelakunya akan sangat mudah ditemukan. Itulah pandangan "naif" tentang ke"tolol"an inteljen kita, kalau memang mereka dalangnya.
Ternyata akhirnya, kenapa Munir dihabisi di pesawat kini baru dapat dimengerti. Kalau beliau kena dampak racun di atas pesawat, hampir pasti Munir akan mati. Di pesawat, peralatan P3K, sangatlah terbatas dan musykil mampu menetralisir dampak racun Arsenikun yang akut itu. Pesawat juga gak mungkin turun karena sudah terbang tinggi jauh di langit. Gak sembarangan, pesawat tiba-tiba minta ijin landing, dan waktu pesawat turun sampai landing pun tidak sebentar. Tapi kalau diracun di darat, dengan mudah sang korban dibawa ke RS, dan masih tersisa waktu untuk menetralisir racun sekaligus menyelamatkan jiwa sang korban.
Pendeknya pilihannya ada 2, dihabisi di udara yang mana sang target pasti mati, namun kemungkinan terbongkar akan sangat besar, ataukah dihabisi di darat dimana sang target belum tentu mati, namun akan sulit mencari jejak sang eksekutor. Nyatanya, sesuai dengan tipikal inteljen, pilihan pertamalah yang dipilih. Sang target haruslah mati. Urusan ketauan atau gaknya, itu biasa di dalam dunia inteljen dengan istilah "penghilangan jejak dan mata rantai". Diharapkan kalaupun hampir terbongkar maka missing link kasus ini harus ada dengan pembuktian yang minim. Jangan lupa, perlu seorang martir yang sebenarnya lebih pantas disebut tumbal, apabila memang benar-benar terbongkar nantinya.
Polycarpus kah sang eksekutor itu? Poly yang pilot Garuda ini memang yang pertama dicurigai. Kedatangan dia ke Singapore memang sungguh aneh. Poly terlihat SKSD ke Munir di hari-hari belakangan, dan lucunya kepergian dia ke Singapore adalah tanpa alasan yang jelas dengan berbekal surat palsu yang dikeluarkan oleh Dirut Garuda. Datang di malam hari, terus balik ke Jakarta di pagi buta, lantas apa yang dikerjakannya di Singapore? Gak ada yang bisa dikerjakan di malam hari, karena malam hari memang waktu tuk bobo. Poly juga terbukti melakukan kontak dengan seorang pejabat BIN berkali-kali sebelum kasus pembunuhan ini, serta Poly terlihat agresif melakukan PDKT ke Munir sampai-sampai ia menyesuaikan "rencana dinas" sungguhannya dengan jadwal keberangkatan Munir. Aneh memang.
Selain Munir ada pula orang lain yang "dicurigai", yakni Ongen, seorang pemusik yang konon berada di dekat Munir, di salah satu kafe di Changi, yang ditenggarai sebagai tempat "peracunan" sang aktivis itu. Ada pula WNI yang tinggal di Belanda, yang seorang ahli kimia, dan turut berada di dalam pesawat yang sama dengan Munir, dicurigai pula sebagai satu komplotan. Dokter yang baru dikenal Munir di pesawat pun tak lepas dari tuduhan sebagai komplotan pembunuh dimana kemungkinan peran sang dokter adalah memastikan kematian sang target. Sudah barang tentu, kru pesawat tak luput dari dicurigai.
Kompleks memang kini permasalahannya. Adakah memang Poly itu sang eksekutor Munir? Bagaimana pun masih tetap ada azas "He is not guilty until proven guilty". Inteljen pun pintar "menghilangkan jejak", dan toh terbukti para penegak hukum, yakni polisi, jaksa dan hakim tidak bisa membuktikan bahwa Poly memang sang pembunuh dan keputusannya pun Poly dibebaskan karena tuduhan tak terbukti.
Adakah Poly memang pembunuhnya? Bisa ya bisa tidak. Tidak di sini, maksudnya boleh jadi dia hanyalah seorang tumbal belaka. Cara kerja para intel memang zig zag. Satu sama lain saling mengawasi. Bukan tidak mungkin ada agen lain yang bekerja membunuh Munir, entah siapa dia, namun sesuai skenario, Poly yang akan jadi tumbal, karena "keanehan" yang dilakukan oleh Poly itu sangatlah obvious dan terkesan tolol, tidak berkesan cara kerja seorang agen intel.
Kita liat saja gimana perkembangan kasus ini. Yang jelas faktanya Munir sudah meninggal, dan menurut labolatorium di Belanda, dia mati karena diracun. Kalau dia mati diracun, tentu ada yang meracuni, lantas siapakah sang peracun itu? Ini yang masih gelap dan perlu pembuktian jelas. Ini sama menariknya dengan kematian seorang mantan agen KGB yang dibunuh di Inggris karena menyuarakan penentangan terhadapt Presiden Rusia, Putin. Kini hubungan Rusia dan Inggris menegang karena Rusia menolak ekstradisi "tertuduh" pembunuh tersebut.
Kalau ada aksi inteljen, pendapat akan kontra inteljen dalam kasus ini pun ada. Pendapat sebrang itu meragukan hasil penelitian labolatorium di Belanda yang menyatakan bahwa Munir mati diracun dengan Arsenikum. Mengapa sampai kini, katanya, Pemerintah Belanda tidak mau menyerahkan sampel dari bagian tubuh Munir yang menunjukkan bahwa Munir memang benar diracun Arsenikum? Kalau memang Munir mati diracun, bukankah tidak tertutup kemungkinan justru "lawan politik" dari yang ditentang Munir yang melakukannya dengan harapan kasus ini menjadi high profile dan tertuduh komplotan peracun akan "ditembak" oleh orang banyak dan pamornya "hancur".
Ada juga orang yang saya temui, maaf, "bersyukur" dengan kematian Munir, dengan alasan "nasionalisme". Daripada merepotkan banyak orang dan menjelekken citra bangsa sendiri, bukankah lebih baik para aktivis HAM "penjual" bangsa sendiri demi ketenaran dan perutnya itu, "dipateni" saja. Pendapat yang mungkin ekstrem dan mengerikan bagi banyak orang.
Hmm, faktanya, yang jelas kini Munir telah tiada. Yang jelas ada yang memaksakannya untuk berkalang tanah secepatnya, entah siapa dia dan entah apa tujuannya. Kalau melibatkan sosok inteljen, memang selalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang sulit ditebak. Puzzle nan zig zag ini memang menarik, namun dari sisi kemanusiaan, mengapa orang tega mencabut nyawa orang lain demi kepentingan tertentu? Apakah serendah itu harga nyawa dan apakah dia lebih kuasa dari Tuhan sehingga berhak mencabut nyawa orang lain? Ataukah kita kembalikan saja kasus ini kepada Yang Maha Kuasa dengan menyebutnya sebagian dari takdir, yang harus diikhlaskan dan ditutup begitu saja?Walllahu 'alam bissawab. Puzzle nan zig zag itu akan to be continued, entah sampai kapan. Ada yang punya opini tentang "teori konspirasi" lain?
Wassalaam,
Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com/
FS Account: mailto:boedoetsg@hotmail.com
Assalaamu 'alaikum,
news
Kasus pembunuhan high profile atas aktivis HAM, Munir, memasuki babak baru. Kasus ini menjadi menarik perhatian, karena si korban adalah seorang aktivis HAM, sekaligus ketua Kontras (Komisi Anti Kekerasan dan Orang Hilang), yang terkenal bersuara vokal terhadap militer kita. Ditenggarai tewasnya Munir ini merupakan suatu aksi inteljen, yang dilakukan via agen-agen mereka. Aksi inteljen memang menarik, dan banyak diangkat di beragam movie seperti Bourne, Bond, MI, Die Hard dll. Walau begitu, apa pun jadinya, faktanya kini adalah Munir telah tewas dan tiada.
Awalnya saya pernah berpikir alangkah bodohnya para inteljen, mengapa Munir harus dibunuh di atas pesawat yang terbang tinggi dari Singapore menuju Belanda. Waktu itu, Munir memang akan berangkat ke Belanda untuk menyelesaikan pendidikan S-2, dan dikuatirkan, ke-vokalannya di luar negeri akan justru membawa dampak negatif pada sebagian kalangan bahkan mungkin pada "negara". Kalau dibunuh di atas pesawat, bukankah ini suatu tindakan tolol, karena lingkup kejadian sangat kecil, dan pelakunya akan sangat mudah ditemukan. Itulah pandangan "naif" tentang ke"tolol"an inteljen kita, kalau memang mereka dalangnya.
Ternyata akhirnya, kenapa Munir dihabisi di pesawat kini baru dapat dimengerti. Kalau beliau kena dampak racun di atas pesawat, hampir pasti Munir akan mati. Di pesawat, peralatan P3K, sangatlah terbatas dan musykil mampu menetralisir dampak racun Arsenikun yang akut itu. Pesawat juga gak mungkin turun karena sudah terbang tinggi jauh di langit. Gak sembarangan, pesawat tiba-tiba minta ijin landing, dan waktu pesawat turun sampai landing pun tidak sebentar. Tapi kalau diracun di darat, dengan mudah sang korban dibawa ke RS, dan masih tersisa waktu untuk menetralisir racun sekaligus menyelamatkan jiwa sang korban.
Pendeknya pilihannya ada 2, dihabisi di udara yang mana sang target pasti mati, namun kemungkinan terbongkar akan sangat besar, ataukah dihabisi di darat dimana sang target belum tentu mati, namun akan sulit mencari jejak sang eksekutor. Nyatanya, sesuai dengan tipikal inteljen, pilihan pertamalah yang dipilih. Sang target haruslah mati. Urusan ketauan atau gaknya, itu biasa di dalam dunia inteljen dengan istilah "penghilangan jejak dan mata rantai". Diharapkan kalaupun hampir terbongkar maka missing link kasus ini harus ada dengan pembuktian yang minim. Jangan lupa, perlu seorang martir yang sebenarnya lebih pantas disebut tumbal, apabila memang benar-benar terbongkar nantinya.
Polycarpus kah sang eksekutor itu? Poly yang pilot Garuda ini memang yang pertama dicurigai. Kedatangan dia ke Singapore memang sungguh aneh. Poly terlihat SKSD ke Munir di hari-hari belakangan, dan lucunya kepergian dia ke Singapore adalah tanpa alasan yang jelas dengan berbekal surat palsu yang dikeluarkan oleh Dirut Garuda. Datang di malam hari, terus balik ke Jakarta di pagi buta, lantas apa yang dikerjakannya di Singapore? Gak ada yang bisa dikerjakan di malam hari, karena malam hari memang waktu tuk bobo. Poly juga terbukti melakukan kontak dengan seorang pejabat BIN berkali-kali sebelum kasus pembunuhan ini, serta Poly terlihat agresif melakukan PDKT ke Munir sampai-sampai ia menyesuaikan "rencana dinas" sungguhannya dengan jadwal keberangkatan Munir. Aneh memang.
Selain Munir ada pula orang lain yang "dicurigai", yakni Ongen, seorang pemusik yang konon berada di dekat Munir, di salah satu kafe di Changi, yang ditenggarai sebagai tempat "peracunan" sang aktivis itu. Ada pula WNI yang tinggal di Belanda, yang seorang ahli kimia, dan turut berada di dalam pesawat yang sama dengan Munir, dicurigai pula sebagai satu komplotan. Dokter yang baru dikenal Munir di pesawat pun tak lepas dari tuduhan sebagai komplotan pembunuh dimana kemungkinan peran sang dokter adalah memastikan kematian sang target. Sudah barang tentu, kru pesawat tak luput dari dicurigai.
Kompleks memang kini permasalahannya. Adakah memang Poly itu sang eksekutor Munir? Bagaimana pun masih tetap ada azas "He is not guilty until proven guilty". Inteljen pun pintar "menghilangkan jejak", dan toh terbukti para penegak hukum, yakni polisi, jaksa dan hakim tidak bisa membuktikan bahwa Poly memang sang pembunuh dan keputusannya pun Poly dibebaskan karena tuduhan tak terbukti.
Adakah Poly memang pembunuhnya? Bisa ya bisa tidak. Tidak di sini, maksudnya boleh jadi dia hanyalah seorang tumbal belaka. Cara kerja para intel memang zig zag. Satu sama lain saling mengawasi. Bukan tidak mungkin ada agen lain yang bekerja membunuh Munir, entah siapa dia, namun sesuai skenario, Poly yang akan jadi tumbal, karena "keanehan" yang dilakukan oleh Poly itu sangatlah obvious dan terkesan tolol, tidak berkesan cara kerja seorang agen intel.
Kita liat saja gimana perkembangan kasus ini. Yang jelas faktanya Munir sudah meninggal, dan menurut labolatorium di Belanda, dia mati karena diracun. Kalau dia mati diracun, tentu ada yang meracuni, lantas siapakah sang peracun itu? Ini yang masih gelap dan perlu pembuktian jelas. Ini sama menariknya dengan kematian seorang mantan agen KGB yang dibunuh di Inggris karena menyuarakan penentangan terhadapt Presiden Rusia, Putin. Kini hubungan Rusia dan Inggris menegang karena Rusia menolak ekstradisi "tertuduh" pembunuh tersebut.
Kalau ada aksi inteljen, pendapat akan kontra inteljen dalam kasus ini pun ada. Pendapat sebrang itu meragukan hasil penelitian labolatorium di Belanda yang menyatakan bahwa Munir mati diracun dengan Arsenikum. Mengapa sampai kini, katanya, Pemerintah Belanda tidak mau menyerahkan sampel dari bagian tubuh Munir yang menunjukkan bahwa Munir memang benar diracun Arsenikum? Kalau memang Munir mati diracun, bukankah tidak tertutup kemungkinan justru "lawan politik" dari yang ditentang Munir yang melakukannya dengan harapan kasus ini menjadi high profile dan tertuduh komplotan peracun akan "ditembak" oleh orang banyak dan pamornya "hancur".
Ada juga orang yang saya temui, maaf, "bersyukur" dengan kematian Munir, dengan alasan "nasionalisme". Daripada merepotkan banyak orang dan menjelekken citra bangsa sendiri, bukankah lebih baik para aktivis HAM "penjual" bangsa sendiri demi ketenaran dan perutnya itu, "dipateni" saja. Pendapat yang mungkin ekstrem dan mengerikan bagi banyak orang.
Hmm, faktanya, yang jelas kini Munir telah tiada. Yang jelas ada yang memaksakannya untuk berkalang tanah secepatnya, entah siapa dia dan entah apa tujuannya. Kalau melibatkan sosok inteljen, memang selalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang sulit ditebak. Puzzle nan zig zag ini memang menarik, namun dari sisi kemanusiaan, mengapa orang tega mencabut nyawa orang lain demi kepentingan tertentu? Apakah serendah itu harga nyawa dan apakah dia lebih kuasa dari Tuhan sehingga berhak mencabut nyawa orang lain? Ataukah kita kembalikan saja kasus ini kepada Yang Maha Kuasa dengan menyebutnya sebagian dari takdir, yang harus diikhlaskan dan ditutup begitu saja?Walllahu 'alam bissawab. Puzzle nan zig zag itu akan to be continued, entah sampai kapan. Ada yang punya opini tentang "teori konspirasi" lain?
Wassalaam,
Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com/
FS Account: mailto:boedoetsg@hotmail.com
Subscribe to:
Posts (Atom)