Sunday, June 17, 2007

Amanah dikejar, aji mumpung dilakoni

Posted: 6 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

Jabatan itu adalah amanah. Kinerja dan hasilnya, sesungguhnya, kalau mau disadari, bukan hanya dipertanggungjawabkan di dunia semata, melainkan juga di hadapan Ilahi nanti. Semakin tinggi jabatan tersebut, maka tanggung jawab dan pengaruhnya akan semakin besar. Kalau Pak RT salah memegang amanat, hanya satu RT yang kelimpungan.

Namun kalau jabatan itu adalah jabatan publik, apalagi sampai selevel negara, tentunya kalau terjadi something wrong, satu negara lah yang bisa-bisa kena getahnya. Pendeknya jabatan itu berat. Andaikan ia itu sadar bahwa nantinya semua akan dibawa ke hadapan Ilahi, tentulah hatinya akan cemas dan bergetar si daat dibebani suatu amanat yang teramat besar dan vital.

Tapi kenapa yah, menyoroti kehebohan minggu-minggu belakangan ini, kok agaknya fenomena yang sebaliknya malah terjadi di kita? Semuanya seakan-akan berlomba-lomba mencari jabatan. Ada partai yang menuntut jatah menteri lebih banyak sambil "ngacungin goloknya". Ada partai yang "ngamuk" ketika jatah jumlah menterinya dipotong". Ada yang begitu sumringah dan girang saat dinyatakan dirinya bakal diangkat sebagai petinggi negara.

Namun sebaliknya, yang bakal diturunkan pun tentunya kecewa dan mencak-mencak, langsung maupun tak langsung. Jabatan salah satu kementrian negara yang sebenarnya sudah baik kinerjanya pun, dikoyak-koyak, karena memang jadi incaran dan konon sudah sejak lama jadi sapi perahan parpol di nusantara.

Ibaratnya jadi menteri itu mendapat durian runtuh yang membawa bakal membawanya ke janjang lebih tinggi, baik itu dari segi nama, popularitas dan kekayaan. Apakah mereka tidak menyadari bahwa jabatan itu, sekali lagi, amanah yang amat sangat berat pertanggungjawabannya nanti? Ataukah mereka masih berpikir secara instant untuk memanfaatkan aji mumpung terhadap segala hal, selama dia berkuasa.

Sudah bukan kisah usang bahwa banyak menteri yang kekayaannya maupun bisnisnya melonjak selagi dia memegang jabatannya. Ataukah sebaiknya kita berbaik sangka saja bahwa mereka begitu nafsu dan sumringah mengincar jabatan menteri karena ingin secara langsung mendarmabaktikan diri dan kemampuannya bagi bangsa dan negara?

Entahlah, hanya hati kecil ini kadang menjadi sok tau dan sok keminter dengan menilai minus dan prihatinpara orang tua kita yang terlihat begitu "nafsu" untuk meraih posisi menteri. Adakah posisi menteri, dan mungkin posisi lain, jadi ajang untuk bla bla dan bla, dengan prinsip aji mumpung, yang memang sudah bersemayam di kebanyakan kita?

Ataukah jangan-jangan hati nurani saya yang terlalu kotor sehingga berpikir yang bukan-bukan tentang mereka itu? Semoga Allah mengampuni diri saya, dan menghilangkan sifat su'udzhan itu. Dan semoga yang benar adalah harapan bahwa mereka bukanlah nafsu, melainkan semangat untuk mengabdikan dirinya demi kesejahteraan bangsa dan negara.

Entahlah, hanya sekedar refleksi bahwa jabatan itu adalah amanah yang nantinya harus dipertanggungjawabkan jua di hadapan Ilahi.
Maaf kalau gak berkenan. Barangkali ada yang punya opini dan pemikiran lainnya?

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

No comments: