Posted: 9 Mei 2006
Kalau ingin maju atau ingin jadi "Jenderal" atau ingin usaha dll, kita harus sanggup ber-inovasi.
Baik inovasi dalam pengembangan produk supaya mutu tetap bisa terjaga dan tidak kalah
dari pesaing kita yang tiba-tiba muncul, juga dalam inovasi pengembangan bisnis-nya, seperti
untuk hal promosi, branding image, marketing dll.
Mungkin ini yang lebih fair, tapi realitanya sulit juga berlapang dada. Sudah pasti ada rasa
"empet" karena produk kita dibajak, dan sebenarnya dalam skala luas, pembajakan dalam
beragam hal sudah umum di sana, karena hak perlindungan intelektualitas masih kurang.
Apalagi kalau sampai mengganggu periuk nasi. Wah, dah pasti uring-uringan. Kita yang
di luar sistem, mungkin gampang bilang, tapi kalo dah ngerasain mungkin beda lagi pendapatnya.
Saya jadi ingat saat-saat berkunjung ke salah satu client di Pasuruan. Kalau kita keluar
di pintu Tol Gempol, kita akan menemukan banyak sekali toko klepon. Klepon yang kecil
mungil dan harganya murah meriah, dengan pangsa pasar terbatas saja dah sedemikian
ketat kompetisinya. Saya jadi geli sendiri, sambil bertanya kepada driver kami, yang mana
yang asli dan yang enak.
Kejadian ini bisa pertanda dua hal juga
(1) orang kita memang punya sikap latahan, asal ada tren baru yang keliatan untung,
makanya rame-rame ngebajak hal yang sama. Makanya si pemikir asli harus punya
daya inovasi yang bagus agar bisa terus survive. Fenomena ini kan sama dengan kasus
menjamurnya warnet dan wartel. Jumlah yang terlalu banyak, sedangkan besar kue yang
tetap menyebabkan masing-masing rela dengan bagian yang kecil.
(2) ekonomi kita makin memburuk. Lapangan kerja gak nambah atau berkurang, namun
pencari kerja makin banyak akibatnya sulit dapat kerja. Dagang adalah pilihan terakhir
yang instan, namun harus dilakoni karena udah desperate gak nemu jalan keluar lagi.
By the way, tulisan Mas Eddy bagus untuk ajakan kita sharing informasi, saling membantu
dan bekerja sama untuk maju. Kalau bergandengan tangan dan dikerjain rame-rame,
perkara yang sulit pun akan mampu kita atasi dengan cepat dan mudah.
Namun dalam prakteknya di lapangan, terutama di factory dll, sering saya temui, adalah
untuk yang selevel, suatu hal yang umum untuk gak bagi-bagi ilmu, karena takut tersaingi
dan terganggu periuk nasinya. Dunia realita memang keras, men...Baik sekali orang tersebut
andaikan mau legowo bagi-bagi ilmu. Namun definitely, beda case-nya dalam hal training,
karena si pengajar gak bersentuhan langsung dengan yang diajar ataupun chance untuk
menyenggol periuk nasi muridnya.
Dalam level perusahaan, business dll, tentunya adapula informasi yang bisa/boleh di sharing
dan ada yang tidak. Namun untuk hal-hal general, ya monggo, gitu kan realitanya?
Alias ada batasan-batasannya, gitu brur, untuk hal-hal spesifik.
So, intinya dunia idealis memang indah, sayangnya dunia realita tak seindah dunia idealis,
karena di situ ada faktor eksternal dan banyak kepentingan yang terkait.
But anyway, untuk memajukan bangsa ataupun mengubah stereotype pandangan dari
budaya "yang salah" selain diperlukan ke"legowo"-an, juga diperlukan gandengan tangan
bersama dan belajar bersama.
Makanya dalam tulisan saya sebelumnya, indirectly saya minta sharing opini dari teman-teman,
mengenai kiat-kiat dan pengalaman ras tertentu yang sukses jadi "jenderal" dan barangkali kita
pun bisa mengembangkannya untuk diterapkan di antara kita, hingga kita bisa jadi "jenderal" juga,
baik di markas yang sekarang maupun di markas yang baru. Kalau kita semua jadi kopral,
ya susah bung untuk menolong yang lain, karena kondisi kita sendiri susah.
Minimal ekonomi si jenderal bisa bantu ekonomi si kopral. Makanya, yok kita semua berusaha
jadi "JENDERAL", walau konsekuensi dan tanggung jawab jenderal ya beda lah dengan kopral.
Caranya gimana? Ya dari sharing info dulu alias bagi-bagi ilmu, seperti kata Mas Edi,
dengan satu tujuan memajukan bangsa demi anak cucu kita. Next step-nya? Lhaa first step aja
belum terwujud, trus ngapain mikir next step? Bagaimana "JENDERAL"?
Wassalaam,
Papa Fariz
No comments:
Post a Comment