Posted: 9 Mei 2006
Assalaamu 'alaikum,
Yok, sama-sama kita nyanyikan 2 lagu hymne guru yang pernah kita hapal semasa duduk di bangku sekolah dulu.
TERPUJILAH
Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prestasi terima kasihku tuk pengabdianmu
Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jahasa
TERIMA KASIH
Terima kasih kuucapkan, pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna selalu dilimpahkan, untuk bekalku nanti
Setiap hari ku dibimbingnya, agar tumbuhlah bakatku
Kan ku ingat selalu nasehat guruku
Terima kasihku guruku
Namun benarkah Bapak dan Ibu guru cukup hanya dengan dipuji dan diterimakasihi?
Apa yang mereka dapat dari pengabdiannya itu? Yang mereka perlukan bukan cuma pujian dan ucapan terima kasih.
Melainkan uang yang cukup dan kesejahteraan yang layak, karena mereka juga manusia yang butuh makan-minum,
sandang dan papan. Mereka bukan malaikat yang tak butuh apa-apa. Mereka juga punya keluarga yang butuh
dihidupi dan dikenyangkan perutnya.
Namun kini apa yang meeka dapatkan? Speechless, paling kita cuma bisa berdo'a semoga Allah SWT membalas
dengan pahala yang setimpal dengan kebajikannya, karena setiap kebajikan dari ilmu yang diajarkannya akan
terus berlipat ganda selama ilmu tersebut bermanfaat dan dimanfaatkan orang. Kalau mau "nyayur" pahala,
maka profesi gurulah yang paling tepat. Tapi kalau mau nyayur rendang beneran, saya gak tau apakah profesi ini
yang paling tepat, melihat hidup mereka yang memprihatinkan tak sebanding dengan jasanya.
Saya ingat lagi dengan memori masa lalu. Saat di mana saya pernah menjadi guru bahasa Indonesia di negeri sakura.
Pengalaman yang indah, dan sampai kini pun murid-murid saya masih mengontak saya dan mengunjungi saya secara
berkala mana kala kebetulan main ke sini. Profesi guru memang mulia dan dihormati di sana. Salah satu ungkapan
terima kasih yang mereka berikan, ya misalnya, saya kalau makan atau pesta bareng, gak diperbolehkan bayar.
kalau mereka habis jalan-jalan kemana, selalu dibawakan oleh-oleh. Bahkan ketika saya sempat opname,
mereka ikhlas untuk bergantian menjaga. Saat jalan-jalan ke Bali pun, mantan murid saya yang tinggal di sana,
sampai rela mengajak keliling pulau dewata dengan kendaraannya. Sebegitu indahnya profesi guru.
Ada juga di antara murid saya yang dia sendiri adalah guru SD di Jepang. Kesejahteraannya bagus karena
gaji dan insentifnya yang lumayan. Apalagi kalau sudah level dosen, banyak lagi dapat proyek dari luar serta
gak pernah pusing dengan penelitian, karena seberapa besar dana yang diperlukan, selalu disediakan Pemerintah sana.
Profesi guru termasuk favorit, di samping gajinya yang lumayan, hari liburnya juga lebih panjang daripada profesi lain.
Guru begitu dihormati di sana, namun hormat gak cukup secara abstrak, makanya tapi juga dengan fisik (fulus).
Karena mereka orang, yah harus diorangkan tentunya.
Guru dimanja dan dijamin kesejahteraannya, karena guru merupakan ujung tombak membina generasi muda
suatu bangsa. Supaya dia bisa konsentrasi membina sebaik-baiknya dan mengerahkan segenap kemampuannya
tentulah dia harus hidup tenang dahulu dan kenyang perutnya. kalo perut lapar, mana bisa mikir konsen. kalau perut lapar
mana bisa mendidik anak dengan nyaman dan maksimum. karena pikirannya akan melayang ke bagaimana dapur
rumahnya bisa ngepul.
Guruku sayang guruku malang. Malang nian nasibmu yang terlunta-lunta. Di samping kesejahteraan kurang,
terkadang di Jakarta, guru pun dikurangajari dan dikerjain. Bagus sekali program Pemda DKI yang memberikan tunjangan
2 juta per bulan untuk para guru. Semoga realisasi dana pendidikan di APBN yang katanya sudah 20% bisa diwujudkan.
Kalau guru gak bener, masa depan bangsa juga hancur. Makanya pepatah kita bilang, "Guru kencing berdiri,
murid kencing berlari". Pak guru memang "terkencing-kencing" karena pusing dengan pergulatan hidup dan kesejahteraan
untuk mereka yang tak seberapa. Makanya Iwan Fals sempet menelorkan lagu "Oemar Bakrie", yang mengisahkan
seorang guru yang jujur dan berbakti, namun akhirnya malah makan hati
Jangan pernah lupa dengan jasa guru kita, sekalipun dia cuma guru SD yang mengajar ABCD untuk kita.
Guruku sayang guruku malang,
sampai kapan pun kamu akan disayang, namun sampai kapan nasibmu akan terus malang?
Wassalaam,
Papa Fariz
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/09/utama/2642536.htm
Tenaga PendidikGuru "Nyambi" Jadi Tukang Becak
Helena F Nababan
Apa yang dilakukan guru honorer Sugeng Supriadi (39) benar-benar sesuai dengan ungkapan hidup adalah perjuangan. Sejak lulus Sekolah Pendidikan Guru Negeri 1 Tanjung Karang, Lampung, tahun 1986, ia bekerja sebagai guru honorer yang memegang mata pelajaran Keterampilan dan Seni Budaya Lampung di SMP Nusantara, Bandar Lampung.
Ia sudah lima kali mengikuti tes calon pegawai negeri sipil (CPNS). Terakhir, ia mengikuti tes CPNS di Kabupaten Lampung Barat. Namun, gagal karena tidak ada formasi.
"Bagaimana bisa diterima, saya selalu dimintai surat keterangan mengajar yang disertai surat siluman. Saya kan tidak mempunyai koneksi seperti itu. Apalagi, kalau harus membayar. Wah, uang dari mana?" katanya.
Sugeng Supriadi pun ikhlas menjalani hari-hari sebagai guru honorer. Selama 20 tahun mengajar, peningkatan gaji yang ia alami hanya bergerak dari angka Rp 35.000 per bulan menjadi Rp 126.000 per bulan.
Dengan tiga anak—dua di antaranya usia sekolah, yaitu Ratih Sepsilawani (13) dan Surya Galih Panengah (9)—ia merasa gaji sebesar itu jelas tidak mencukupi kebutuhan hidup dia dan keluarganya. Istrinya, Linda Santika (29), berkonsentrasi mendidik anak di rumah sehingga semuanya bertumpu pada gaji Sugeng yang hanya secuil itu.
Per hari setidaknya dibutuhkan uang Rp 25.000 untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Untuk mencukupi biaya hidup, apa boleh buat, ia pun nyambi atau bekerja sambilan sebagai tukang becak.
"Dulu pernah, selama hampir satu tahun pada 1996 saya mengajar di sekolah lain di Teluk Betung, Bandar Lampung, yaitu di SMP Tri Dharma. Tetapi sayang, penghargaan terhadap guru sangat minim. Saya hanya digaji Rp 15.000 per bulan. Akhirnya saya memilih berhenti dan nyambi narik becak saja," katanya.
Setiap hari, selesai mengajar pukul 12.45, ia akan pulang ke rumah. Setelah istirahat, pukul 17.00 sampai tengah malam ia akan berkeliling kota menawarkan jasa angkutan dengan becaknya.
Dengan mudah, pria berperawakan kecil itu bisa ditemui di depan pusat perbelanjaan Ramayana, Jalan Raden Intan, Bandar Lampung. Dengan menarik becak, setiap hari Sugeng bisa mendapatkan penghasilan tambahan Rp 15.000-Rp 20.000. Akibatnya, tak sepeser pun yang bisa ia tabung.
Saat ini Sugeng dan keluarganya tinggal di sebuah rumah warisan orangtuanya berukuran 9 meter x 6 meter di Jalan Bangau No 41 Kelurahan Tanjung Agung, Kecamatan Tanjung Karang Timur, Bandar Lampung. Di rumah tersebut tinggal pula keluarga kakaknya yang memiliki lima anak. Kakaknya juga bekerja sebagai penarik becak.
Untuk menghadapi kehidupan yang semakin sulit, Sugeng berharap pemerintah segera mengangkat guru honorer, seperti dirinya, menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
"Saat ini perbandingan antara guru hononer swasta dan negeri, lebih banyak guru swasta. Saya berharap pemerintah punya kebijakan yang adil. Saya akan terus berjuang untuk itu," katanya.
Ia berharap guru-guru honorer berpenghasilan rendah, seperti dirinya, menjadi PNS. Setidaknya hal itu bisa sedikit meringankan beban hidup mereka dan keluarganya. Selain itu, juga sedikit membantu menjamin masa depan anak-anak mereka melalui peningkatan gaji.
Di negeri ini, ada ratusan ribu guru honorer yang bernasib sama dengan Sugeng Supriadi. Gaji para pahlawan tanpa tanda jasa ini bervariasi, antara Rp 75.000 sampai lebih kurang Rp 500.000. Kalau guru honorer tersebut mengajar di sekolah negeri, honornya lumayan, antara Rp 200.000 sampai Rp 400.000, tergantung kemampuan pemerintah daerah setempat.
Akan tetapi, kalau mengajar di sekolah swasta, gurem pula, pendapatan guru honorer tersebut cukup memelas. Ada yang dibayar dengan honor Rp 75.000 per bulan. Dengan besaran honor ini, untuk uang transportasi saja sudah tidak cukup. Apalagi untuk biaya hidup sehari-hari.
Maka, menjadi beralasan kalau guru honorer seperti Sugeng nyambi menjadi tukang becak. Ia menempuh jalan keras, tetapi halal itu sebagai bentuk cinta kepada anak dan istrinya.
No comments:
Post a Comment