Saturday, June 9, 2007

Rupiah tak kuasa diikat namun sering terjerembab

Posted: 24 Mei 2006

Assalaamu 'alaikum,

"Bunda, kali ini kita gak lucky. Tapi biarlah, karena kita memang gak ada niatan bermain valas".
Demikianlah isi sebuah SMS yang saya kirim kepada bunda si kecil, manakala saya mendapati
di minggu lalu Rupiah terjerembab lebih 359 point per USD hanya dalam satu hari, atau sekitar
200 point per SGD. Kebetulan 2 hari sebelumnya saya baru saja menukarkan beberapa lembar
uang asing, untuk sekedar beli susu si kecil dan menjaga agar dapur kami tetap ngebul.
Sebenarnya mata uang asing lain juga tersungkur, namun fluktuasi yang terjadi pada rupiah
terlalu besar dan terlalu sering. Karena itu saya tidak kaget lagi. Di bulan September tahun lalu,
rupiah juga sempat menukik tajam, yang menyebabkan para turis di Bali, ramai-ramai menukarkan
dollar yang mereka punya. Lumayan, gak usaha apa-apa, tapi bisa dapat keuntungan yang tidak
kecil dari selisih rate.

Fenomena fluktuatifnya rupiah memang terlihat ridiculous, namun ini benar-benar real dan terjadi
berulang-ulang. Bisa dibayangkan betapa ngerinya orang yang mau invest ke bumi pertiwi andaikan
nilai rupiah tidak stabil. Boleh jadinya untung ruginya usaha mereka akan sangat tergantung pada
kurs rupiah. Rupiah kuat, ekspor menderita. Namun rupiah lemah, yang import akan kelabakan.
Gimana mau menyusun budget usaha kalau mata uang tidak stabil. Di Jepang, konon perubahan
nilai 1 yen per USD, akan menyebabkan efek sebesar 1 trilyun yen (80 trilyun rupiah). Entah
bagaimana halnya dengan rupiah.

Namun apa sebenarnya yang menjadi backgorund begitu lemahnya rupiah? Saya sendiri bukan
orang ekonomi, so tidak bisa menjawab dengan pasti. barangkali ada teman yang ahli ekonomi
yang mau berbaik hati membagi ilmunya tentang unusual phenomenon ini. Walau begitu saya teringat
dengan tulisan tentang ekonomi balon di nusantara, yang dimuat bulan lalu di salah satu harian ibukota,
yang ditulis oleh mantan menteri ketua Bappenas di masa presiden kita seorang wedhok.
Singkatnya adalah seperti di bawah ini dan CMIIW.

Selama ini, naik turunnya rupiah selalu berbanding lurus dengan naik turunnya IHSG (Indeks
Harga Saham Gabungan). Mengapa bisa? Bisa saja, karena pada intinya ini adalah ulah para spekulan.
Katakanlah saat ini, harga IHSG adalah 200. Para spekulan dari overseas datang ke negeri kita
dengan membawa dollarnya untuk membeli saham-saham murah di nusantara. Karena saham harus
dibeli dengan rupiah, maka mereka menukarkan dollarnya. Akibatnya permintaan akan rupiah
menjadi tinggi. Sesuai dengan hukum ekonomi, bahwa permintaan naik menyebabkan harga naik,
maka nilai rupiah pun menjadi menguat. Karena saham banyak dibeli, maka saham-saham tersebut
menjadi favorit dan harganya akan terus menanjak. Demikianlah hal itu terjadi secara kontinyu,
di mana harga IHSG terus naik dan dibarengi dengan penguatan nilai tukar rupiah.

Biasanya para spekulan mempunyai patokan khusus, pada level mana saham yang mereka telah beli,
harus mereka lepas. Katakanlah level itu adalah 600. Begitu IHSG mencapai angka 600, mereka
mulai melakukan profit taking, alias menjual sahamnya. Saham yang dibeli pada level 200, dapat
mereka jual pada level 600. Saham yang dimiliki mereka, dijual juga dalam rupiah, yang kemudian
mereka convert ke dollar. Akibatnya permintaan dollar akan naik, yang berefek berkebalikan pada
rupiah sehingga nilai tukar rupiah akan menurun. Karena saham dijuali, maka nilai IHSG akan terus turun.
Karena dollar hasil convert penjualan saham, diminati, maka nilai rupiah akan terus turun. Demikianlah
kisah rupiah yang terus-menerus dipermainkan, bagaikan dirinya tak punya kuasa untuk menahannya.

Naruhodo ne, akhirnya saya sedikit lebih mengerti tentang fenomena ajaib uang kita, walau mungkin
ini hanyalah pendapat seorang pakar ekonomi, yang belum tentu benar. Biasanya kalau rupiah terus
turun, maka BI akan melakukan intervensi dengan menggelontorkan rupiah ke pasar, demi menahan
agar rupiah tidak semakin terjerembab. Namun bukankah semakin banyak rupiah yang digelontorkan,
itu berarti semakin banyak uang yang disuplai ke pasaran, dan itu juga berati nilai uang akan semakin
turun alias terjadi inflasi? Wah, ini hanya rekaan saya sendiri, CMIIW lah. Tentang inflasi ada kisah
menarik juga, yang lain kali akan saya coba ungkapkan. Kini rupiah telah terpuruk di level 9250-an/USD.
Padahal awal bulan ini banyak pihak yang berspekulasi bahwa rupiah akan terus menanjak ke level 8300/USD.

Fenomena kejatuhan indeks saham kali ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di negeri lain, indeks saham
juga terkoreksi besar-besaran. Konon katanya, penyebabnya adalah para spekulan. Para spekulan
kini mulai melepas stok logam yang mereka miliki. Bayangkan saja emas pada tanggal 15 Mei lalu,
dalam satu hari jatuh dari level US$ 725 per ounce (US$ 27574/kg) menjadi US$ 687.50/ounce
(US$ 24251/kg), alias jatuh US$ 3003/kg dalam sehari. Kini emas diperdagangkan hanya pada level
US$ 652.50 per ounce (US$ 23016/kg) saja. Perak jatuh dari US$ 14.94/ounce (US$ 527/kg)
ke level US$ 13.25/ounce (US$ 467/kg) alias jatuh US$ 60/kg dalam sehari. Kini perak diperdagangkan
cuma pada level US$ 12.16 per ounce (US$ 429/kg) saja.

Naiknya harga minyak ke level US$ 70-an, dibarengi dengan ulah spekulan yang melepas stok metal
hingga harga metal jatuh secara drastis dalam waktu singkat, menyebabkan para spekulan di saham pun
melakukan hal serupa dengan melepas saham-samanya, hingga harga saham pun menukik dalam waktu singkat.
Konon di India, kini para polisi disebar di danau-danau dan gedung tinggi, demi mencegah upaya bunuh diri
dari orang-orang yang kalah saham. Di Arab Saudi, banyak pesta pernikahan dibatalkan, karena para
calon mempelai banyak kehilangan uang di meja saham. Kalau di Indonesia? Entahlah, saya belum dengar
info apa-apa tentang hal efek dari kejatuhan harga metal dan saham dalam waktu yang singkat.

Saya cuma berandai-andai, kini, andaikan Indonesia punya cadangan devisa yang kuat, yang konon kini
cuma ada puluhan trilyun saja, tentulah kita bisa mematok kurs kita, walau banyak yang bilang mematok
kurs tak lebih baik daripada mengambangkan kurs (floating rate). Namun rupiah, sangat disayangkan
terlalu lemah kondisinya. Kata seorang ahli ekonomi, kita memang berkehendak melakukan fix rate
terhadap rupiah. Namun apa daya kemampuan kita tak ada. Andaikan rupiah diikat, namun rupiah berontak
sedangkan tali pengikatnya tak kuat, maka putuslah tali itu. Akibat yang terjadi akan sangat parah nantinya.
Demikian analoginya. Mungkin kita perlu menunggu sampai seperti kondisi China, yang sanggup dengan
sengaja melemahkan nilai Yuan-nya, dan mengikatnya pada posisi tertentu, sehingga produk China jadi
lebih murah dari produk negara mana pun di pasaran dunia. China sanggup melakukannya, karena konon
cadangan devisanya lebih dari 9000 trilyun rupiah. Kapan yahh kita bisa punya uang sebanyak itu?

Kapan-kapan, mungkin begitu jawaban yang pas. Kalau ada yang punya opini lain, please di sharing.

Wassalaam,

Papa Fariz

No comments: