Saturday, June 9, 2007

Ramai-ramai buang duit di Great Singapore Sale

Posted: 25 Mei 2006

Assalaamu 'alaikum,

Minggu lalu saat jalan-jalan di PIM 2 (Pondok Indah Mall gedung 2), saya terkesima dengan
promosi Great Singapore Sale. Saya kira di situ sedang dijual barang-barang yang sama dengan
sale di tempat aslinya (Singapore). Namun ternyata hanya promosi belaka yang (mungkin) juga
disponsori oleh para travel agency. Di tempat promosi yang memakan ruang tengah terbuka PIM 2
yang cukup besar itu berjejer counter-counter travel agency yang menawarkan paket belanja
dan jalan-jalan ke Singapore khususnya selama GSS ini. Konon targetnya adalah 1 juta
customer dari Indonesia.

1 juta pelancong??? Ck ck ck, sapa bilang orang kita miskin-miskin. Buktinya banyak yang sanggup
untuk berbelanja barang branded di Singapore. Harga barang branded, meski telah di discount,
tetap saja melangit bagi mereka yang kantong-nya ngepas. Namun sebaliknya, harga barang branded
yang luar biasa itu bagaikan tak berarti bagi orang-orang kaya kita. Yang gila shopping barang
branded memang gak sedikit. Bukan cuma di Singapore, di KL, tepatnya di jalan Bukit Bintang
yang famous itu, saat jalan-jalan ke sana, dengan mudahnya saya temui banyak pelancong kita
yang berburu barang branded di sana. Pergi ke LN, memang tidak sedikit membuang uang.
Mulai dari biaya fiskal yang 1 juta rupiah, hotel tempat menginap (kecuali kalo nebeng di rumah temen),
tiket pesawat (tapi konon kini banyak budget air line ke negeri tetangga) dan biaya belanja di sana.
Tapi sekali lagi, siapa bilang rakyat kita miskin? Buktinya tiap tahun jutaan orang kita tumpah ruah
dan belanja membuang uang di negeri jiran yang mini ini.

Memang semuanya serba ada dan mengherankan di tanah air kita. Bagai gado-gado dan supermarket.
Apa aja ada, dari yang menderita busung lapar dan rela mati demi mendapat BLT yang cuma 100 ribu
per bulan, sampai yang punya koleksi mobil mewah yang per unitnya bermilyar-milyar pun ada.
Dari yang bisa ketemu nasi sehari sekali saja syukur, sampai yang hobynya makan di restoran mewah
tapi makanannya cuma diicip-icip saja dan sebagian besar dibuang, juga ada. Dari yang pakaiannya
kumuh lusuh jarang dicuci karena cuma itu satu-satunya yang dia punya, sampai yang doyan belanja
pakaian ke negeri tetangga dan koleksi pakaian mewah, semuanya ada. Semuanya ada di sana.

Negeri jiran nan mini memang berpikir smart dan sangat pragmatis. Mereka mampu mengelola "kegilaan"
hobby orang-orang kaya kita untuk buang-buang uang. Bayangkan kalau target 1 juta orang tercapai.
Katakanlah mereka nginap minimal 3 hari, di hotel yang rate-nya rata-rata SGD 125/malam.
Dan mereka belanja barang rata-rata SGD 1000. Belum lagi ekspenses lainnya selama 3 hari yang
mungkin kira-kira SGD 150. So, satu orang mungkin bakal menghabiskan minimal rata-rata
375+150+1000 = SGD 1575 alias 8,8 juta rupiah. Trus 8.8 juta rupiah dikali tarohlah 500 ribu orang
saja yang pergi, so totalnya jadi 4,4 trilyun rupiah!!! Jumlah itu bisa bertambah kalau yang datang lebih
banyak, dan belanja lebih gila. Namun jumlah itu bisa berkurang juga andaikan datangnya per keluarga.

Apa pun kondisinya, yang bakal diraih oleh negeri jiran nan mini ini adalah TRILYUNAN RUPIAH
dari kantong orang-orang negeri tetangganya yang memang senang buang-buang duit.
Negara boleh ngutang, Pemerintah boleh kebirit-birit mencari kebijakan untuk menutup defisit anggaran,
rakyat kebanyakan boleh sakit perutnya karena lapar, namun belanja barang branded harus tetap
jalan terus. "Ini kan uang, uang gue, kenapa lo sok ngatur-ngatur pemakaian uang pribadi gue?
Itu namanya melanggar hak asasi manusia", mungkin begitu yang bakal dilontarkan oleh para pelancong kita.
Yup, mereka gak salah, kan itu uang mereka sendiri. Namun ironis sekali ketika melihat kebalikan kondisi
yang terjadi di sekeliling kita. Nasionalisme hilang? Huh, siapa peduli, hari gini masih mikirin nasionalisme.
Hari gini kita harus berpikir pragmatis, apa yang menguntungkan buat kita ya kita ambil, apa yang
merugikan kita, kta tendang jauh-jauh.

Saya pribadi salut banget dengan pemikiran negeri jirang nan mini yang saya diami ini, karena mereka
sangat smart dan pragmatis memanfaatkan kondisi jirannya.
Namun di satu sisi, saya juga puyeng, dengan kondisi serba ada di nusantara kita. Okelah, kita harus
ikut-ikutan berpikir pragmatis juga. Hari gini kok masih berpikir membangun bangsa. Cari duit dulu
sebanyak-banyaknya buat kesejahteraan kita, sekalipun harus membangun negeri orang. Peduli amat
dengan kondisi bangsa apalagi tuntutan membangun negeri sendiri, kalo gak menguntungkan kita.

Au ahh, gelap, kata hati kecilku, sambil istighfar agar sang Kuasa tetap memberikan petunjuk-Nya padaku.

Wassalaam,

Papa Fariz

No comments: