Sunday, June 17, 2007

Guru dan kualitas pendidikan

Posted: 2 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

Ada artikel menarik dari milis jiran, yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Kebetulan hari ini adalah Hari Pendidikan Nasional. Ternyata kunci dari suksesnya pendidikan di Finlandia, salah satunya adalah pada kualitas guru. Sekali lagi kualitas guru. Faktor lain, mungkin pada sistem pendidikannya.

Lantas bagaimanakah dengan nasib guru di negeri kita?

Minggu lalu, hati saya menangis menyaksikan tayangan TV tentang seorang guru pengawas UAN di daerah Jember, yang digebuki ramai-ramai oleh siswa-siswi yang diawasi. Sang guru, seorang Ibu paruh baya, usia 40-an dan berjilbab, sampai harus mengungusi ke WC dan sangat trauma akan kejadian ini. Alasannya sederhana, konon katanya sang guru dinilai over acting dalam mengawasi. Bagi sang guru, mungkin dia hanya menjalankan tugas sebagai seorang pengawas yang ketat. Namun apa nyana, yang diterimanya adalah bogem mentah.

Para siswa memang sudah hilang kejantanannya, dan hanya berani memukuli ibu-ibu. Ini bukan lagi kurang ajar, tapi merupakan tindak pidana. Yang perlu patut diwaspadai, adakah sesuatu yang salah, mungkin di lingkungan siswa tersebut, atau mungkin di sekolah mereka, atau bahkan di sistem pendidikan kita, hingga sanggup "dilahirkan" para siswa yang keterlaluan "kurang ajar" nya?

Sudah bukan rahasia umum lagi, kalau dapur para guru banyak yang susah ngepul. Siapa yang mau jadi guru honorer di daerah terpencil, dengan gaji ngepas bahkan selalu telat datang. Jangan heran kalau Bapak guru akhirnya harus ngajar sana-sini, di sekolah-sekolah swasta kecil dengan honor yang pas-pasan demi menjaga agar anak isteri tidak kelaparan. Bahkan ada pula guru yang ngobyek jadi tukang ojek maupun tukang becak. Wali kelas saya waktu SD dulu, mencari tambahan dengan memberikan les Matematika di sana-sini.

Bagaimana dengan guru kesenian dan olahraga? Apakah dia bisa memberikan tambahan dengan les? Ya gak mungkinlah. Kadang kalo denger cerita teman yang les, kasian juga sang guru. Mentang-mentang sang murid bayar uang les, dengan seenaknya, sang murid ada yang makan siomay dengerin les. Ada yang tidur-tiduran sambil ikut les. Ujung-ujungnya menuntut sang guru untuk memberikan kisi-kisi bahan ulangan. Sang guru karena dibayar, ya gak punya pilihan lain.

Beda nasib di nusantara dengan di negeri Sakura. Di negeri Sakura, guru begitu dihargai. Mereka dipanggil dengan sebutan "Sensei". Sensei itu artinya Master, dan panggilan ini hanya diberikan kepada orang-orang yang dihormati. Menteri, pejabat dll, dipanggil sensei. Kalau guru dipanggil sensei, maka itu artinya mereka sangat dihormati.

Dari segi kesejahteraan, kenalan saya, yang berprofesi guru (Japanese), sangat berkecukupan. Paling tidak gaji mereka tidak di bawah orang kebanyakan, dan cukup untuk hidup layak. Di Singapore pun demikian, dan juga di Malaysia. Tidak sedikit isteri dari klien saya yang beralih profesi dari bekerja di office suatu pabrik, menjadi seorang cik gu.

Di agama sendiri, kedudukan guru begitu dihargai. Andaikan ilmu yang diajarkan adalah ilmu yang bermanfaat, maka ia akan mendapatkan pahala sepanjang ilmu tersebut terus berguna. Sungguh luar biasa penghargaan dari Sang Khalik atas orang-orang yang berilmu dan yang mau mengajarkan ilmunya.

Seharusnya, dengan imbalan akhirat seperti ini, setiap orang sudah selayaknya berupaya menjadi guru, gak perlu guru akademis, namun bisa juga jadi guru kehidupan dll, sehingga ilmu yang kita miliki bisa di share manfaatnya dengan orang lain. Insya Allah pahala akan melimpahi kita di akhirat nanti.

Kalau memang kualitas pendidikan ditentukan oleh kualitas gurunya, bagaimana mungkin kualitas guru bisa meningkat sedangkan mereka tidak bisa konsentrasi karena hati mereka tak tenang hanya demi agar perut tidak lapar lagi. Boleh jadi mereka bisa idealis, namun belum tentu anak dan isteri mereka. Toh di alam real, nasi goreng sekali pun harus dibeli dengan uang dan bukan dengan idealisme. Bisa dikepruk kita nanti andaikan bilang ke si abang nasgor, bang nasi goreng sepiring bayar pake idealisme saya yah. Adakah realisasi kesejahteraan guru akan terwujud dalam waktu dekat? Konon katanya anggaran pendidikan bakal bernilai 20% dari APBN. Namun nyatanya semua itu masih sebatas wacana saja.

Guru sayang guruku malang, kapan kiranya idealisme dan pengabdianmu itu akan dibayar tunai dengan kesejahteraan yang layak? Mulia sekali orang yang mau berkorban demi mem-pintar-kan anak bangsa yang kelak jadi masa depan negeri ini. Sudah selayaknya imbal balik yang sepadan lebih diperhatikan lagi, kalau memang bangsa ini ingin maju dan lebih menghargai karya anak bangsa sendiri. Semoga fenomena Oemar Bakrie hanyalah menjadi masa lalu kita yang cukup diambil hikmahnya saja.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com


KUALITAS PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA

Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia.

Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.

Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar betanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas.Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.

Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.

Diambil dari Top of the Class - Fergus Bordewich

No comments: