Saturday, June 9, 2007

Ironi bunda tercinta, tanya kenapa?

Assalaamu 'alaikum,

Kok lucu sih, orang terkaya di Indonesia, Pak Sukanto Tanoto (boss Raja Garuda Mas) dengan kekayaan US$ 2,8 milyar (25 trilyun rupiah), ternyata perusahaannya menunggak kredit ke Bank Mandiri sebesar 4 trilyun rupiah.
Uangnya banyak tapi kok utangnya gede juga yah?
Pak Sukanto sendiri kini tinggal di Singapore, walau konon katanya sering bolak-balik Jakarta-Singapore.
Kantor pusat RGM sendiri kinijuga di Singapore juga.
Menembus pasar global, begitulah alasan yang dikemukakan.

Padahal kita semua tau APBN kita cuma berkisar 600-800 trilyun, sedangkan utang kita sekitar 1000-an trilyun.
Tapi dana parkir kita di luar negeri mencapai up to 1500 trilyun.
CMIIW, terutama kalau ada yang punya updating data-nya.
FYI lagi, kita pernah di"rampok"secara besar-besaran via dana BLBI yang besarnya 160 trilyun rupiah.

Kalau condominium mewah di Singapore banyak dimiliki dan dihuni oleh orang Indonesia, itu sudah biasa.
Konon katanya, penjualan setengah dari condominium baru nan mewah di negeri jiran nan mini ini lari ke orang-orang kita.
Jangan heran kalau promosi properti di Singapore dan Aussie begitu gencar dimuat di media massa sana.
Siapa bilang orang kita miskin-miskin?
Buktinya yang punya duit trilyunan gak sedikit.

Pemerintah jiran sini welcome banget kalau ada orang kita yang datang sekalian bawa duit banyak banget.
Dijamin bakal dikasih Permanent Residence (PR) dengan mudah, sudah dibentuk badan khusus untuk menampung uang mereka, dimana minimal disetor 20 milyar rupiah.
Dan mereka EGP banget uang yang dibawa ke sini itu hasil usaha halal ataukah hasil ngerampok negeri tetangganya.
Mereka juga gak peduli apakah diparkirnya uang negeri jiran di negeri mereka akan berefek buruk kepada saudara tuanya itu.
Itu kan urusan dia, Emang Gue Pikirin,begitu mungkin katanya. So what gitu lho?

Hanya ada satu pertanyaan di benak saya yang tendensius dan menjurus SARA (tanpa H). Mengapa yang bisa punya duit banyak itu mayoritas dari ras tertentu?
Lantas mengapa mereka lebih suka parkir dananya di luar negeri?
Apakah itu semata karena alasan bisnis, ataukah karena alasan egosime dan cari aman sendiri, ataukah ada alasan lainnya?
Siapa bilang orang-orang kita miskin-miskin, toh yang kekayaannya bertrilyunan rupiah gak sedikit.
Siapa bilang bangsa kita ini miskin, toh Freeportbisa "meledak" karena tambang emasnya nomor satu di dunia dan tambang tembaganya nomor dua di dunia.

Then minyak dan konco-konco mineral kita keluar di mana-mana, ikan di lautannya dijarah habis bangsa asing tetap gak habis-habis, hutannya ditebangi dan dibakari tetap juga gak habis-habis, alamnya dirusak tapi tetap saja masih tersisa keindahan.
Siapa bilang bangsa kita ini bodoh, buktinya dari tingkat SMU sajakita sudah jadi jawara ilmiah di tingkat dunia, dan ahli-ahli kelahiran bumi pertiwi banyak yang melanglang buana menembus batas negara.
Wajar saja, apabila banyak orang lain yang menjuluki kita "untaian zamrud di khatulistiwa", "sebongkah surga yang dicampakkan Yang Maha Kuasa ke muka bumi", dll.

Siapa yang bilang yahh?
Buktinya banyak kok buktinya kalau kita ini sebenarnya kaya raya, pintar-pintar, bagus-bagus, indah-indah dll.
Namun kenapa yah, di jalan-jalan Jakarta masih banyak orang yang bisa nemu segumpal nasi sehari sekali saja sudah bersyukur "menyembah-nyembah" tanda berterima kasih.
TANYA KENAPA yahh, namun jangan tanya ke saya tentang jawabannya.
http://www.detikfinance.com/indexfr.php?url=http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/09/tgl/05/time/152308/idnews/669034/idkanal/4

Wassalaam,
Papa Fariz

No comments: