Saturday, June 9, 2007

Papua oh Papua, malang nian nasib dirimu

Posted: 7 September 2006

Assalaamu 'alaikum,

Kalau anda penggemar setia Liputan 6 Pagi SCTV, pasti anda tidak akan asing dengan salah satu iklan TV yang menggambarkan keindahan Papua, keceriaan rakyatnya, yang dibintangi olehpenyanyi asal Papua, Edo Kondologit.
Namun ada satu hal yang membuat saya risih dan terheran-heran.
Di ujung iklan itu, Edo berpesan dengan bunyi sbb: "Jaga Diri Dengan Kondom, Jaga Papua dari HIV".
Saya terhenyak, dan bingung dengan maksud iklan, kira-kira maksudnya apa, dan kenapa harus begitupesannya.
Sampai batin saya berteriak, "Aho ka Omae, begini kah situasi yang sesungguhnya di sana?"

Apakah dari iklan itu bisa diartikan bahwa
1. Di Papua yang namanya free sex sudah umum, tidak tabu dan biasa dilakukan orang di mana-mana
2. Kampanye pemakaian kondom dilakukan sebagai langkah dini pencegahan HIV.
Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa angka penderita HIV di sana tinggi.
Bisa juga diartikan, silahkan anda pergi ke PSK, tapi jangan lupa pakai kondom yah.

Dalam hati saya cuma bertanya-tanya, apakah hal, maaf, selangkangan sudah menjadi problema besardi sana, sehingga sampai perlu diiklankan, yang berarti mengedepankan masalah selangkangan pula.
Pada saat yang bersamaan, juga ditayangkan bagaimana perang adat di daerah Kwamki Lama.
Masing-masing pihak yang berseteru bertelanjang dada, menarikan tarian tradisional, lantas saling menyerang satu sama lain dengan tombak dan panah, sembari menamengi dirinya dengan lembaran seng.
Pak Polisi cuma bisa bilang, males banget bertindak tegas, soale kalau bentrok nanti dianggap melanggar HAM.
Dan kini suku yang masih senang bertelanjang dada bersedia menghentikan perang, asalkan diberikan kompensasi 400 juta atas setiap nyawa yang mati, sedangkan korban yang sudah mati ada 17 orang dan yang luka mencapai ratusan orang.
Akhirnya saya cuma bisa geleng-geleng kepala sendiri, sambil gak habis pikir, siapa yang berbuat siapa yang kena bayar kompensasi milyaran.

Hmm.Padahal gak jauh dari situ, si kerdil yang menjadi raksasa tengah menggali perut bumi mereka, dimana si kecil yang bernama Freeport itu berhasil menobatkan tambang emasnya sebagai yang nomor satu terbesar di dunia, dan tambang tembaganya sebagai yang nomor tiga terbesar di dunia.
Di sana emas dan tembaga gak perlu digali lagi, karena sebagian sudah berupa gundukan tanah besar alias gunung, yang cuma tinggal dicomot.
Pada tahun 2004, Freeport membukukan laba bersih alias net profit sebesar 9,3 trilyun rupiah.
As we know, harga logam naik gila-gilaan saat ini, tentunya net profit mereka menjadi sangat luar biasa.
Boleh jadi menjadi berkali-kali lipat.

Tahukah anda berapa persen Indonesia tercinta ini kebagian?
Jawabnya cuma 9.4% saja, dan sisanya dilahap oleh Freeport. Lantas berapa persen yang sampai ke rakyat Papua, dan bangsa kita pada umumnya?
Gak tau deh, boleh jadi cuma beritanya saja yang sampai.
Freeport memang rakus, Pemerintah kita memang "memble", namun yang bikin prihatin lagi kondisi rakyat Papua yang sangat mengenaskan.

Bagaimana bisa mereka mengambil alih Freeport, andaikan memang dikasih, kalau mereka saja masih kelihatan "sangat primitif".
Bagaimana mungkin mereka bisa menjalankan teknologi pertambangan, kalau hal selangkangan saja jadi problema utama?
Bagaimana mungkin mereka bisa membuat gedung pencakar langit kalau yang dilestarikan dari mereka cuma orang-orang telanjang berpakaian minim dengan wajah coreng-moreng sana-sini?
Namun adakah mereka patut dibebani tanggung jawab dengan keterbelakangannya itu?
Bukankah mereka sudah menjadi bagian dari bangsa kita sejak 37 tahun lalu?
37 tahun berlalu, cuma masih bisa memegang panah untuk berperang yang kurang jelas.
Kalau cuma panah, mana bisa menang dengan rudal cluster nantinya?

Semasa di negeri Sakura, saya sempat "jengkel" dalam hati dengan tayangan salah satu program TV sana.
Tayangan itu berisi relity show, dimana sang reporter langsung datang ke Papua.
Dari sana ditayangkan betapa primitifnya orang Papua, dengan koteka-nya, bahkan si wanita bertelanjang dada, dengan segala keliaran hidupnya, dengan segala keluguan dan kepolosannya.
Sampai-sampai saya sendiri, dan (mungkin) respon dari pemirsa lainnya adalah terheran-heran, kok masih ada yahh orang yang hidupnya seperti itu.
Some more, diberitakan dari Indonesia.
Sudah barang tentu keesokan harinya saya dihujani pertanyaan oleh rekan-rekan saya, eh lo modern amat sih, tetangga lo semalam gak pake baju, muncul di TV tuh.
Acara itu tambah bikin senewen juga, saat di episode berikutnya, sang reporter mengajak salah seorang anak Papua ke Jepang.
Sudah barang tentu ke"bego"an, dan kepolosannya itu dieksploitasi habis-habisan dan jadi bahan tertawaan para permirsa di sana.

Papua kaya potensi alamnya, dari keindahan, mineralnya, hutannya dll.
Namun semuanya itu hanyalah bisa diolah dengan ke-mart-an akal dan pikiran berikut dengan scinece dan teknologi yang dikembangkanoleh otak kita.
Jangan mimpi mau ngasih orang sana Freeport beserta tambang-tambangnya, untuk bisa hidup layak seperti kita saja pikirannya mungkin masih susah.
Kalau pikiran masih susah, salah siapa yang gak mendidik mereka jadi gak susah.
Semoga apa yang saya lihat di media massa itu bukan gambaran umum dari rakyat Papua, namun merupakan gambaran yang amat sangat kecil dari rakyat mereka.
Kalau memang apa yang saksikan itu adalah gambaran sebenarnya, paling saya cuma bisa menghela nafas seraya berkata "Papua, oh Papua, Malang Nian Nasib Dirimu".

Wassalaam,
Papa Fariz

No comments: