Sunday, June 17, 2007

Jakarte kite punye

Posted: 5 Juni 2007

Assalaamu 'alaikum,

Di suatu pertengahan malam di penghujung Mei, saat melintas di flu over Pasar Kebayoran Lama terasa ada yang tak biasa. Pasar yang biasanya begitu ramai, padat dan macet dan tentunya membikin jengkel para pengguna lalu lintas, hari itu berbeda sekali nuansanya. Sepi dan lenggang, sementara di pojokan jalan tampak parkir beberapa truk polisi dan abdi Kamtibmas ini juga tampak berjaga dengan senapan laras panjang.

Apalagi kalau bukan peristiwa bentrokan beberapa hari lalu yang memakan 2 korban jiwa. Meski kata tetangga yang polisi, yang mati sesungguhnya 5 orang, cuma biar gak tambah heboh cukup 2 sajalah yang diberitakan. Peristiwa memilukan, sekaligus mengenaskan bahkan memalukan. Pasalnya mungkin "sepele", menurut kabar burung, konon katanya FBR (Forum Betawi Rempug) berupaya menguasai lahan parkir dan pasar yang memang sangat menggiurkan di situ. Padahal preman kampung setempat sudah membuat organisasi sendiri yang bernama IKB (Ikatan Keluarga Betawi) Kebayoran Lama.

Siapa yang tak tergiur. Lahan kosong di samping pasar seluas 1000 m2 itu sanggup menambang uang 15 juta per hari. Belum lagi uang jago. Tiap pedagang dari pagi hingga malam, bisa dikutip sebanyak lebih dari 7 kali, dengan total kutipan 4500-10.000 rupiah per hari. Mau masang petromaks aja bayar nambah. Jangan-jangan mau ngegeser gerobaknya sedikit, juga mesti bayar lagi. Biasalah tikus makan tikus, gak mungkin tikus makan gajah.

15 juta sehari kalau dikalikan 30 hari jadinya 450 juta sebulan. Belum lagi ditambah uang jago. Alhasil totalnya dana non budgeter atau nama keren dari Pungli di pasar ini mencapai 1 milyaran lebih sebulan. Gak tau uang itu disetorkan ke siapa-siapa saja atau dibagikan ke beberapa orang.

Yang menyedihkan lagi, yang bentrok sesama etnis Betawi. Setau saya, yang dibesarkan dengan banyak tetangga orang Betawi, etnis yang satu ini adalah etnis yang sangat religius. Dari nama mereka saja, hampir semua anak Betawi memakai nama berbau agama. Mungkin karena dimanja oleh eksistensinya, akhirnya banyak para tetua mereka yang kerjanya cuma menjual tanah, namun tanpa berpikir bagaimana zaman ke depannya hingga harus mempersiapkan sang anak meraih edukasi yang lebih tinggi. Ini adalah fakta dan realita, dan bukan maksud lain.

Teman kuliahku dulu yang orang Betawi juga pernah cerita, dirinya yang kuliah di Elektro UI ngetop banget di daerahnya. Katanya, dengan senyum nyinyir, jarang banget anak Betawi sekolah tinggi. Sinetron si Doel Anak Betawi yang dibintangi oleh Rano Karno, sebenarnya adalah sindiran halus buat kaum Betawi agar menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi. Kini banyak dari mereka yang tersingkir ke pinggiran dan termarjinalisasi, termasuk di tempat saya dibesarkan.

Dulu, sebelum krisis ekonomi, untuk urusan premanisme pun, Jakarta banyak dikuasai oleh kelompok Ambon dan Timtim. Lantas ada kelompok preman kecil di terminal-terminal dari kalangan Batak, Palembang maupun Arek. Setelah kasus pertentangan di Tanah Abang, yang berlanjut dengan pembakaran Mess Cendrawasih yang nota bene banyak diisi oleh orang dari Timur Indonesia, maupun pengusiran Hercules dari Tanah Abang, membangkitkan kesadaran "urang asli" untuk "menjaga daerahnya sendiri". Akhirnya bermunculan ormas-ormas mereka dan yang paling mentereng adalah FBR (Forum Betawi Rempug) dan Forkabi (Forum Komunikasi Anak Betawi). Konon totalnya ada sekitar 1700-an ormas mereka.

Namun sangat disayangkan sekali, akhirnya pembentukan ormas tersebut tidak mengarah ke hal-hal yang positif. Yang muncul ke permukaan hanyalah premanisme murahan. Tengoklah dimana ada posko mereka, biasanya di situ ada uang jago (uang keamanan). Kemana perginya Pak Polisi yang katanya bertugas menjaga Kamtibmas, kalau kita harus bayar uang jago lagi ke pihak lain?

Sudah bukan cerita aneh, kalau dalam sengketa lahan, para preman, akhirnya saling baku hantam, hingga nyawa melayang. Nyawa melayang sebenarnya perkara besar. Nyawa kucing saja ada harganya, hingga kalau ditabrak mobil, si penabrak langsung ngurusin, apalagi nyawa manusia. Ataukah memang arogansi premanisme ini semata hanyalah luapan dan hempasan rasa frustasi dari mereka yang termajinalisasi hingga tak dapat meraih prestasi puncak di bidang lain?

Saban melihat ada peristiwa rusuh, ataupun ada demo-demo, dan bendera mereka berkibar di mana-mana dan dibawa keliling Jakarta, kadang jadi terasa ngenes juga. Boleh jadi mereka hendak menunjukkan "Jakarte Kite Punye", namun bukankah sesungguhnya pada akhirnya preman yang maju di depan, digebuki dan mati konyol itu tidak sadar bahwa dirinya sesungguhnya dimanfaatkan oleh pihak lain untuk kepentingan sesaat? Bukankah yang diraih dari masyarakat adalah justru anti-pati dan bukannya simpati? Kalau duit juga ujung-ujungnya, bukankah sebenarnya ada cara lain juga yang lebih smart dan mumpuni dalam meraih hal itu.

Jakarte Memang Kite Punye, namun sayang sekali kalau mereka malah membawa nama Betawi, sedangkan kelakukan mereka cuma mengarah ke premanisme murahan. Saya sangat tidak yakin kalau mereka yang bercokol di ormas atas nama Betawi itu boleh dibilang mewakili kaum Betawi, mengingat kelakuan mereka yang jauh dari inti kehidupan masyarakat betawi yang sejatinya.

Kini Pilkada Jakarta hampir bergulir. Masing-masing kandidat mulai membawa-bawa nama Betawi pula. Yang satu, sudah jelas dari namanya berdarah Jawa, meski lahir di Jakarta, mengaku Betawi asli. Yang satu lagi, meski dari ranah Pasundan, tiba-tiba muncul menjadi salah satu ketua Ormas Betawi. Kasian kalau lagi-lagi Betawi dimanfaatkan begitu saja. Boleh jadi, sama seperti daerah lain, mereka sejatinya tenggelam dalam euphoria kerinduan diperintah oleh putera daerahnya sendiri.

Sosok seperti Mohammad Husni Thamrin diharapkan muncul untuk memimpin mereka. Namun dengan kondisi seperti ini, mungkinkah hal itu terjadi? Semntara, maaf, lagi-lagi mereka makin tersingkir, dan akhirnya baik kaum tua dan anak mudanya, lantaran terpaksa, tidak sedikit yang kepincut menjadi anggota Ormas karbitan.

Jakarta memang Kite Punye, namun apakah itu hanya slogan belaka? Karena dalam aktualisasinya tentunya diperlukan modal SDM dll yang memang mumpuni. Kalau hanya berupa slogan simbolik dengan aktualisasi aksi premanisme, maka di kemudian hari hanyalah fenomena katro yang muncul karena lagi-lagi akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Dan itu sama artinya pembodohan yang tak pernah disadari oleh yang di"kerjain".

Maaf kalau tidak berkenan. Tidak ada maksud apa-apa selain memaparkan fakta dan realita.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
rinduteman2betawimasakecilku

No comments: