Posted: 5 Juni 2007
Assalaamu 'alaikum,
Pagi ini naik bus SBS sebel banget rasanya. Pak sopir berkali-kali ngerem mendadak setiap mau berhenti di halte. Kasian yang berdiri, sampai harus terpelanting-pelanting dan berpegangan kuat-kuat supaya gak jatuh. Untung saya dapat duduk, jadinya cuma badan yang terguncang sedikit saja. Rasanya hal begini bukan sekali dua kali saya alami.
Entah kenapa di jalur ke timur dari Paya Lebar Road, sopir bus selalu saja punya hobby menginjak rem kuat-kuat. Tiap pulang kerja acap kali ada pemandangan lucu nan katro. Orang-orang yang berdiri kadang saling bertumbukan soale terhuyung-huyung kena badai ngerem mendadak.
Herannya lagi orang-orang sini kok pada sabar-sabar. Gak ada gitu yang komplain. Apa memang hobi konyol ngerem begini sudah dianggap biasa yah? Coba kalo di Jakarta, itu sopir minimal udah diteriakin, kalo gak, boleh jadi sandal jepit melayang di kepalanya.
Jadi ingat komentar seorang teman, saat saya baru datang untuk bermukim di sini. Katanya, sopir bus di sini gak bisa mengemudi dengan bener. Nikmatin aja kebiasaan mereka sering mendadak. Waktu itu saya cuma tersenyum saja, karena memang belum tau realita. Tapi setelah menikmati pengalaman bertahun-tahun di sini, akhirnya saya sependapat dengan rekan saya itu.
Adakah ini cuma kebiasaan para bus yang ada di daerah timur? Ataukah juga terjadi di wilayah lain di negeri jiran ini? Ataukah memang ngerem mendadak itu diperlukan karena body bus begitu besar dan berat, sehingga kalau rem tidak diinjak sekuatnya maka bus tidak berhenti tepat waktu pada posisi semestinya? Mengapa tidak dari jauh-jauh saja rem diinjak secara perlahan oleh pak sopir? TANYA KENAPA.
Wassalaam,
Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
No comments:
Post a Comment