Sunday, June 17, 2007

Logika terbalik kultur berbeda

Posted: 11 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

Bulan lalu saat tugas di Jakarta, karena untuk keperluan apply sesuatu, saya pergi ke appointed dokter untuk melakukan simple test kesehatan. Selain pengambilan urine, di situ juga ada daftar pertanyaan yang harus dijawab. Namun alangkah terkejutnya sang dokter, ketika saya berkata bahwa baru-baru ini di negeri jiran saya melakukan test HIV.

Reaksi saya juga gak kalah terkejutnya atas reaksi dia, walau lantas saya jelaskan bahwa test HIV itu dilakukan sebagai persyaratan untuk mendapatkan Green Card yang baru. Dia coba mengerti tapi tetap saja sampai sekarang saya masih diburu untuk memberikan copy hasil test HIV tersebut kepada mereka.

Dipikir-pikir, jangan-jangan logika di sana terbalik. Bukankah yang namanya health check dll jarang dilakukan oleh orang-orang sana, dan terkadang tes itu dilakukan untuk mengkonfirmasi atau membuktikan praduga sesuatu. Semprul, boleh jadi di pikiran mereka, saya itu diduga kena AIDS, karena itu saya melakukan test HIV.

Kalau di jiran, test HIV menjadi compulsory untuk perpanjangan izin kerja maupun izin tinggal. Ini dimaksudkan untuk pencegahan masuknya bibit penyakit ini ke sini. Sekali kita terbukti kena HIV, boleh jadi malam itu juga kita bakal disuruh hengkang dari negeri tersebut. Tes kesehatan lain bersifat optional. Namun biasanya saat pertama kali datang, harus dilakukan general check up. Dan gak sedikit yang secara pribadi melakukan regular general check up.

Wew, apakah ini karena beda kultur, beda pemikiran, sehingga logika antara tetangga pun jadi terbalik. Yang satu berpikir tes dilakukan karena ada praduga dan hasil tes yang akan mengkonfirmasi kebenaran praduga itu. Namun yang satunya lagi berpikir, tes adalah untuk pencegahan, gak peduli ada atau gak-nya sesuatu yang salah itu.

Kalau mau diperluas lagi, dalam kehidupan sehari-hari, bukankah biasanya kita baru meributkan sesuatu kalau sesuatu itu telah terjadi? Lihat saja dari kasus bencana-bencana, kecelakaan dll, namun gak pernah terpikir sebelumnya bagaimana supaya hal itu tidak terjadi.

Agak beda, maaf, dengan beberapa negara yang lebih di depan kita. Contohnya, di Jepang, yang paling ekstrem, setiap sesuatu itu ada manual khusus yang di training kan secara reguler. Misalnya mereka kerap melakukan pelatihan anti gempa bumi secara reguler. Sopir bus pun bahkan punya buku manual andaikan terjadi pembajakan bus, dan ini dituruti dengan patuh.

Pernah ada kejadian pembajakan bus, dan sopirnya berlaku seperti manual yang ada, alias harus diam, berada di posisi mana dll. Lucu kayak robot, namun sang sopir gak disalahin walau keliatan bego, alasannya dia cuma ikut petunjuk yang ada di buku manual.

Logika terbalik yang menarik, yang bersumber dari kultur dan pemikiran masing-masing. Mana yang benar, mana yang baik, semuanya relatif. Cuma, saya pribadi berharap kita bisa merevisi lagi logika kita agar punya kebiasaan untuk memikirkan pencegahan sesuatu, dibandingkan baru meributkan atau memikirkannya, apalagi saling menyalahkan setelah segala sesuatu itu terjadi.

Hanya opini dari seorang yang dhoif dan naif. Ada yang punya opini lain?

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

No comments: