Posted: 17 Mei 2007
Assalaamu 'alaikum,
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/17/time/105030/idnews/781859/idkanal/10
Gedung DPR diancam bom. Otomatis para penghuninya harus menghentikan pekerjaannya dulu sekaligus harus merelakan dirinya dievakuasi. Tim Gegana Polri pun bergegas menyisir keberadaan bom tersebut. Dan lagi-lagi hasilnya NIHIL. Ketipu Nih Yee, mungkin begitu kira-kira ejekan sang "pengancam" teror. Tapi kalo polisi gak menyisir, terus kejadian bener-bener ada ledakan, mereka bakal disalahin juga. Sedang andai menyisir dan gak ketemu, yahh pastilah jengkel dikerjain melulu.
Dan ini bukan kali pertama terjadi, namun sudah puluhan kali. Ada sebagian pelaku yang tertangkap, ada yang gak. Di antara yang tertangkap, ada bocah SD, orang stress dll. Gimana cara mereka meneror? Ya umumnya via SMS lah yang dikirim ke nomor-nomor polisi.
Lho bukankah nomor hand phone mereka sudah teregistrasi? Mereka terjadi berulang-ulang dan banyak yang gak tertangkap? Di sinilah konyolnya registrasi nomor HP kita. Seingat saya awal tahun 2006 memang dicanangkan nomor HP harus diregistrasi. Saya pun dikirimi SMS berulang-ulang. Katro-nya, setelah saya me-registrasi, masih juga dikirimi SMS sejenis. Lantas kemana data yang pernah saya berikan itu? Apakah mereka asal kirim ke berbagai nomor sebagai reminder saja.
Yang paling KATRO lagi, registrasi cuma via SMS, dan ditanya nomor KTP, alamat dll. Tapi gak ada verifikasi data-nya. Saya sampai geleng-geleng kepala memikirkan kok bisa-bisanya gak perlu verifikasi data dari pelanggan. Kalau mereka kirim data palsu gimana? Tapi kan ada nomor KTP. Halah, di Indonesia itu jangankan KTP palsu, paspor palsu saja gak susah bikinnya kok. Gak heran deh, kalo pelaku teror bom bisa tetap nekat dan jarang tertangkap.
Mereka baru bisa tertangkap kalau mereka itu katro juga. Dari data palsu yang di registrasi sudah pasti polisi gak bisa melacak. Wong registrasi dilakukan sendiri bukan via toko HP yang jual nomornya. Mereka tertangkap kalau setelah mengirim nomor itu, trus SIM card-nya tidak dibuang, melainkan dipakai lagi. Di sinilah sinyalnya tertangkap dan polisi bisa memburunya.
Dalam urusan registrasi, sikap negeri jiran nan mini kita patut ditiru.
Di sini hampir semua nomor HP adalah pasca bayar, dalam artian kita beli nomor, makai dulu trus keluar tagihan. Di Indonesia juga sudah mulai ada pelayanan sejenis. Namun di sini ada juga nomor yang bisa dibeli sebagai prepaid card, seperti kebanyakan yang dipakai di Indonesia. Minggu lalu saya coba beli nomor dan prepaid Singetl. Dulu asal beli oke, namun kini harus diregistrasi. Untuk verifikasinya saya diminta bawa Pasport.
Alasannya di situ ada fotonya, jadi cashier di convenient store bisa ngeliat langsung memang orang tersebut yang membeli atau bukan. Green Card saya yang gak ada picture-nya pun ditolak. Pokoknya harus Paspor atau identitas lain yang ada picture-nya. Demikian verifikasi dilakukan. Data yang di record complet dan Paspor kita di scan lalu dikirim datanya ke Pusat. Dengan demikian gak ada yang neko-neko menyalah-gunakan prepaid card.
Entahlah, saya gak tau, kalau di operator kita, apakah data kita akan rapi tersimpan ataukah hanya sekedar sebagai syarat saja. Namun gak terpikir kenapa mereka gak mem-verifikasi data? Ataukah nantinya setelah semua data masuk, terus mereka mengecek sendiri nomor KTP para pelanggan itu? Musykil banget rasanya. Ini kan tindakan masa bodoh juga, yang penting beres sebagai syarat.
Tapi gak usah heranlah kalau teror bom itu terus berulang secara konyol. Karena memang sistemnya yang mendukung kekonyolan ini. Satu lagi yang konyol, kalau kita ngisi data buat undian, begitu undian selesai, harusnya kupon undian berisi nama perserta yang tidak terpilih itu, harus dibakar. Tapi ini gak, malah disembarangin. Di sinilah terjadi yang namanya penipuan dapat mobil dari ini itu, dll dengan memakai data confidential yang terbuang itu. Ya modusnya, sang pemenang disuruh nyetor pajak sebesar 20% dari harga hadiah itu. Kalo mobil berharga 150 juta, berarti pajaknya 30 juta. Begitu pajak dibayar, ci luk ba, ketipu nihh yeee.
Saya pun suatu kali pernah dapat kiriman surat sebagai pemenang undian berhadiah 7 Keajaiban salah satu Hypermarket. Waktu itu katanya saya dapat Honda Jazz, klop banget dengan idaman keluarga kami akan mobil mungil ini. Ketika isteri telpon tentang surat itu, serta merta saya langsung REJECT isi surat dan saya jelaskan prinsip saya sbb.
Di dunia ini hasil ada karena usaha. Untuk dapat hasil yang baik, berarti kita harus kerja keras, biar bisa dibilang you deserve to get it. Jangan berpikir kita itu orang yang paling beruntung di dunia, sehingga bisa dapat undian yang peluang menangnya nol koma nol nol nol sekian persen. Forget it. Kalau pun terjadi, itu semata karena Allah SWT baik ke kita, namun jangan pernah berharap banyak karena kita bukan orang yang istimewa dan orang biasa-biasa saja.
Pulang ke rumah, saya cek, weww, ternyata orang kita kalo nipu itu profesional. Suratnya keren, ada TTD notaris, dan pengesahan dari Dirut Hipermarker itu, dan data-data lainnya. Pendeknya bener-bener profesional. Suatu langkah yang patut ditiru, karena kerjanya profesional, hanya sayang salah sasaran. Wajar saja orang-orang gedean pun banyak yang tertipu dengan beginian.
Kalau mau diperluas, bukan cuma undian begini, undian SMS maupun Investasi bodong seperti Drussel, QSAR sudah cukup membuat Katro para pejabat kita dan orang kaya kita. Udah tau gak masuk akal, masih pada ngikut. Tapi kenapa masih terjadi berulang-ulang? Itu karena kita KATRO akibat terlalu GREEDY dan senengnya berpikir enak, gak mau kerja tapi dapat duit gede. Ini cerminan sifat dasar kita yang pemalas dan bokis.
Whatever lah, cuma yang bikin saya jengkel, saya dapat surat itu bukankah karena tindakan sang hipermarket yang serampangan dengan menelantarkan data yang kita berikan. Sejak saat itu akhirnya saya pribadi memutuskan gak akan ikut ngisi undian-undian katro. Lagipula saya sadar bahwa saya bukan orang yang istimewa untuk bisa beruntung menang hadiah segede itu. Lotere sendiri kalau secara agama, akhirnya jatuhnya ke meragukan bahkan cenderung haram. So, no benefit at all yah?
Hmm, mau lotere, mau registrasi nomor HP, semuanya dilakukan secara katro. Piyee nihh. Semoga ke depannya ada perbaikan. Bosen kan jadi katro melulu? Biarin aja Mas Tukul dewek-an yang Katro, dan kita gak perlu ikutan katro :P. Bukan apa-apa, negara gak bisa dibetulin kalo yang ngebetulin pada katro. Kalo untuk urusan ecek-ecek begini kita dah katro, gimana untuk urusan besar. Nanti jadinya malah Katro Kuadrat deh. Pisss yah, hanya sekedar fenomena di antara kita.
Wassalaam,
Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
No comments:
Post a Comment