Sunday, June 17, 2007

Siapa yang katro di Meruya?

Posted: 23 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

Warga Meruya Selatan (kampung sebelah saya) rame-rame siap mati untuk menentang eksekusi tanah, yang akhirnya dibatalkan. Kisruh di tahun 1977 ini bermula ketika para calo tanah menjual kembali 44 hektar tanah yang dijual ke salah satu swasta. Setelah bertarung sampai tingkat kasasi, akhirnya MA memutuskan pengembang swasta ini sebagai pemenang dan sempat memenjarakan sang calo tanah (ada 3 orang, yang satu sudah mati, yang satu hilang dan yang satu sudah cacat).

Masalahnya, tanah yang di-resale itu kini telah menjadi komplesk DPR, Unilever, Univ Mercu Buana, berbagai perumahan dll. Nah lho. Entah dari mana beredar rumor bahwa 21 Mei lalu akan dieksekusi, hingga ramai-ramai ditentang oleh gubernur DKI, seleb, FBR, rakyat dll. Katronya lagi, ketua PN Jakbar mengatakan anti eksekusi, padahal kalaupun perintah eksekusi itu ada, maka itu akan datang dari PN Jakbar.

Katronya lagi, MA itu adalah institusi hukum tertinggi di sini. Kalau putusan MA itu ditentang, jangan pernah bilang ini negara hukum, karena siapa lagi yang harus dipercaya. Adakah MA itu katro hingga menghasilkan keputusan yang salah namun sensitif dan berefek besar seperti ini?

Katronya lagi, BPN mengeluarkan sertifikat bahwa tanah ini tidak bermasalah. Dengan dasar itulah rakyat berani beli, karena kalau sertifikaat BPN itu aspal, trus sertifikat siapa lagi yang dipercaya? Adakah oknum BPN bermain? Masak sih BPN itu gak tau tanah di situ sedang disengketakan.

Yang kasian ya rakyat dan pihak swasta. Bukankah kedua-duanya menjadi korban? Bayangkan, anda kerja keras dan nabung bertahun-tahun, dan beli tanah bersertifikat. Tiba-tiba anda harus tergusur, karena tertipu, tanpa mendapatkan ganti rugi apa pun. Bagaimana perasaan anda? Kemana anda harus pindah sedangkan uang gak didapat dan di Jakarta tanah harganya selangit? Pihak swasta pun terang-terangan bingung dirinya dihujat, karena mereka juga korban, lantas kenapa dirinya dihujat dan jadi musuh bersama?

Membingungkan. Sebenarnya siapa yang katro yah? MA kah? BPN kah? Swasta kah? Rakyat kah? Atukah para pendukung anti eksekusi seperti gubernur, Satpol PP, FBR, pengacara dan seleb? Yang jelas penipunya, para calo tanah bajigur telah "terhukum" di dunia dan mungkin akhirat nanti. Yang jelas para media massa seneng banget dapat berita baru dan semangat banget mengipasinya.

Wew, jangan banyak-banyak dong yang katro. Hati-hati lho, katro itu penyakit menular. Gaswat kan kalo buanyak banget yang jadi katro? Bisa-bisa kerja kita cuma ber haha-hihi saja setiap hari, bukan kerja keras memperbaiki nasib bangsa.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
gaktahanmacetnyajakarta

No comments: