Posted: 24 Mei 2007
Assalaamu 'alaikum,
KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) menggugat monopoli Temasek dalam dunia telekomunikasi Indonesia. Temasek via anak perusahaannya Singtel, menguasai 35% saham Telkomsel, sedangkan share Telkomsel di dunia Telkom kita adalah 55%. Then, via STT (Singapore Tech Telemedia/Star Hub), mereka menguasai 41% saham Indosat, padahal selain menguasai satelit vital kita, Indosat meraup share 27% dari dunia Telkom kita.
Dengan demikian total, share Temasek di dunia Telkom kita adalah 82%, via Telkomsel dan Indosat. Wajar saja, karena adanya monopoli begini tarif pulsa Mobile Phone di Indonesia tergolong mahal.
Kalau di Singapore, untuk menelepon sesama handphone, biayanya paling mahal cuma 10 sen SGD/menit alias 580 rupiah per menit, di Indonesia apabila kita menelepon operator yang sama, biayanya berkisar mulai 1000 rupiah per menit, dan apabila menelepon operator lain bisa melonjak lebih dari 3000 rupiah per menit.
Ck ck, ck, inilah yang cukup bikin saya pusing saban ke Jakarta kok rasanya pulsa cepat habis. Inilah yang bikin saya heran, kok bisa-bisanya saya tiap ngisi pulsa 100 ribu dulu dapat pulsa gratis 10 ribu, atau tiap nelpon 10 ribu, selalu dapat gratis pulsa 10 ribu.
Bukankah itu menandakan operator kita meraup keuntungan yang sangat besar sehingga mampu memberikan diskon lebih dari 10%? Itu kan berarti labanya jauh di atas 10%, sehingga diskon 10% dianggap ecek-ecek saja. Belum lagi pemasukan yang berlimpah dari kuis SMS, yang begitu diminati oleh masyarakat kita padahal tarifnya 2000 rupiah per SMS.
Namun Temasek sudah mengisyaratkan untuk melepaskan saham mereka di Indosat dengan alasan menghormati nasionalisme Indonesia. Setiawan Djody, dengan menggandeng bank asing maupun konon operator Rusia, berminat membeli saham Temasek di Indosat, at least 15 trilyun rupiah. Sesimpel alasan nasionalisme itukah mereka tiba-tiba berminat melepas saham Indosat?
Tentunya tidak, yang pasti mereka sudah berhitung, dan mereka sudah sangat puas karena dalam hitungan jari tangan tahun mereka sudah meraih laba yang luar biasa dari dunia Telkom kita, dan kita mampu menjual saham Indosat dengan harga berlipat-lipat dari saat mereka beli dulu.
Hmmm, siapa lagi nih yang katro? Apakah orang-orang kita yang katro sehingga dikuras habis koceknya dengan biaya tarif yang sedemikian mahalnya? Ataukah lagi-lagi orang kita yang katro untuk menjual BUMN berpotensi untung dengan harga murah ke negeri asing? Ataukah orang-orang kita yang lagi-lagi katro, karena gak bisa ngurus BUMN berpotensi untung, namun menjadi benar-benar menguntungkan ketika manajemennya dikelola oleh bangsa asing?
Ataukah Temasek yang terlalu smart untuk sanggup melakukan "penjajahan ekonomi" terhadap saudara tuanya yang mungkin "katro, mengingat Temasek sadar penduduk negerinya cuma 4 juta sedangkan sang saudara tuanya punya anak berjumlah 240 juta alias 60 kali lipat, dan tentunya amat sangat menggiurkan?
Ataukah cuma saya yang terlalu pusing kenapa akhir-akhir ini kok semakin sering kepengen menggunakan kata-kata Katro? Ahh, jangan-jangan ini gara-gara kebanyakan nonton talk show sehingga kata-kata Katro itu mengendap di benak pikiran saya. Semoga kata katro itu gak bakal keluar lagi, karena cukup membikin sedih hati ini manakala menggunakannya, walau tak ada niatan apa pun.
Semoga kata katro itu di kemudian hari bakal diganti dengan kata "HEBAT". Namun gimana dengan kasus Temasek ini? Kitanya yang katro ataukah mereka yang smart? Andaikan kejadian seperti ini tidak berulang lagi di masa depan, tentulah bangsa kita boleh jadi lebih makmur nantinya.
Wassalaam,
Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
No comments:
Post a Comment