Assalaamu 'alaikum,
http://www.youtube.com:80/watch?v=EqhYIzqaKzg
Bongkar-bongkar mailbox, ketemu lagi dengan email dari seorang teman. Inikah wajah dari acara TV kita dalam sehari? Menyedihkan sekali yah. Yang saya bingung, cipika-cipiki-nya Mas Tukul kena tegur dan di banned, tapi kenapa content dari acara seperti ini malah dibiarkan oleh KPI.
Duh, KPI, kenapa judge the book by its cover saja? Cipika-cipiki memang gak boleh, hingga Mas Tukul jadi kayak "hombreng" karena cipika-cipiki dengan sesama cowok, namun content dari isi sinetron seperti di tampilan video itu, bukankah yang lebih berbahaya, namun kenapa tetap dibiarkan? Apakah yang dinilai itu hanyalah acara secara fisik saja namun tidak dengan content-nya padahal content itu lebih merusak pemikiran para generasi muda kita?
Yang paling mengenaskan, acara model begini yang justru diminati oleh masyarakat dan punya rating nan tinggi. Lihat saja SCTV dan RCTI, sungguh gak kreatif. Dari jam 6 sore sampai jam 11 malam, diisi oleh sinetron melulu. Pagi dan siangnya juga sami mawon. Tapi lihatlah, justru dari pemasukan iklan, RCTI dan SCTV berada di rangking 1 dan 2. Para pemasang iklan hanya peduli pada rating acara itu dan bukan pada content dari acara itu sendiri. Maaf, hanya 2 stasiun ini yang bisa dikomentari karena cuma ini yang tertangkap di sini.
Sinetron, Idol, Kuis dan Dance jadi acara ngetop. Acara Variety malah terpuruk jauh dan gak laku. Adakah yang salah dengan kualitas masyarakat kita sehingga acara "selevel" ini yang justru lebih banyak diminanti? Wew, boleh jadi masyarakat sudah terlalu lelah dengan himpitan kesusahan hidup serta njlimet dan bajigurnya situasi politik dan ekonomi kita yang seperti hopless, karena diberitakan yang buruk melulu sehingga menimbulkan sifat apatis dan pesimis.
Media itu, baik media cetak maupun televisi sesungguhnya merupakan sarana efektif untuk mempengaruhi masyarakat. Baik pola pikirnya, maupun dikeruk duitnya. Adakah yang masih merasa punya tanggung jawab moral untuk bisa lebih mengerti, mengawasi dan mengaplikasikan agar tayangan lebih bermutu yang bisa sampai ke rakyat, karena ini terkait dengan masalah pemikiran bangsa dan juga pada akhirnya masa depan bangsa, secara tidak langsung.
Untuk kasus siaran berita sendiri, saya sampai merasa fatigue alias lelah karena TV kita punya slogan, "Bad News is Good News", so yang jelek-jelek selalunya yang dihebohkan. Kalau memang tujuannya sekedar untuk menampilkan sekaligus membangun kesadaran masyarakat, ya oke lah. Namun kalau dihebohkan tanpa hasil, jadi weird banget rasanya. Hingga berkesan kayaknya ini bangsa brengsek banget, ngurus apa-apa gak ada yang bener. Akhirnya sifat apatis dan pesimis serta desperate akan terakumulasi.
Kalau sudah bermental apatis begini janganlah kita bicara muluk-muluk untuk membangun bangsa Hmm, memang sih tambah heboh, maka tambah laku dan itu berarti makin berduit karena makin banyak iklan yang bakal masuk.
So, gimana solusinya? Siapa kini yang punya tanggung jawab moral untuk mengontrol tayangan yang bisa meracuni pemikiran masyarakat? Jangan konyol dengan menyerahkan tanggung jawab itu kepada masing-masing orang tua agar mengawasi tontonan anaknya. Kalau seperti itu, buat apa ada yang namanya negara beserta pemerintahan dan kelengkapannya? Kalau ada niat pasti ada pemikiran untuk memperbaikinya. Kalau gak ada niat ya sutra deh.
Jangan pernah berharap banyak kepada para stasiun TV dan para produser. Karena mereka gak akan peduli apa yang namanya tanggung jawab moral apalagi masa depan bangsa. yang ada di benak mereka cuma duit, duit dan duit. Bukankah acara beginian sengaja dibuat agar duit masuk kepada mereka. PERSETAN dengan yang namanya, sekali lagi, tanggung jawab moral dan masa depan bangsa. Tapi adakah sangsi buat mereka, minimal sangsi etis?
Omong kosong brur, ya gak ada lah. Dan nyatanya mereka tetap gagah maju ke depan dengan badai tayangan gendeng versi mereka, dan terbukti pula pundi-pundi mereka semakin tebal jadinya. Ini bisnis bung, kita bukan volunteer yang bicara moral, mungkin begitu teriak mereka dalam hati sambil tertawa-tawa. So What Gitu lho?
Entahlah, kadang jadi "puyeng" juga jadinya. Apakah ini buah dari yang namanya demokrasi dan kebebasan? Hingga apa pun tak ada yang bisa dilarang dan tak ada yang boleh melarang karena akan dianggap melanggar Hak-hak Asasi Manusia, sebagai hak paling prinsipil yang dianugerahkan oleh Tuhan.
Ndak tau deh, makin pusing aje jadinya. Yah nyadar sendiri deh.
Silahkan TANYA kepada HATI NURANI anda, apakah yang begini yang namanya baik dan benar, kalau memang kuping kita sudah budeg dan mata kita sudah buta untuk sudi menerima definisi itu secara religi.
Siapakah yang punya kuasa membantu memecahkan masalah tanggung jawab moral ini? Entahlah, namun jangan sampai jawabannya tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang.
Wassalaam,
Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
No comments:
Post a Comment