Sunday, June 17, 2007

Haruskah anak ditolak kehadirannya?

Posted: 7 Juni 2007

Assalaamu 'alaikum,

Seorang Ibu muda, tersangka pembuang janin bayi di Singapore dibebaskan dari tuntutan hukuman penjara, dan sebagai gantinya harus menjalani 15 bulan masa percobaan dan 80 jam kerja sosial. Alasan pihak pengadilan, sang ibu melakukan hal itu karena berada dalam tekanan yang stress yang sangat tinggi, hingga tak tau harus berbuat apa. Kini pun ia berada dalam pengawasan counselling. Sang ibu memang mengalami trauma KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), dimana sang suami sangat ringan tangan. Keluarganya kini hanya memiliki satu orang remaja putri.

Sebelum ini dia sudah mengandung dua kali, namun dengan alasan tak sanggup menanggung biaya BANYAK ANAK, sang suami memaksa kandungan tersebut keduanya digugurkan. Pada yang ketiga ini, dia berupaya menyembunyikan baik dari keluarganya atau pun teman-temannya, karena ia juga takut mengalami kekerasan fisik serta disuruh menggugurkan kembali kandungannya. Stress, trauma dan takut luar biasa, hingga ia tak tau harus bagaimana.

Janin bayi itu dilahirkan sendiri, dipotong ari-arinya lalu dibungkus kain dan dimasukkan ke dalam loker di supermarket tempatnya bekerja. Es maupun kamper yang ia letakkan bersama jasad dari janin bayi ternyata tak kuasa menahan busuknya sang jasad hingga kasus ini terungkap dan mengguncangkan Singapore.Inti masalahnya adalah penolakan terhadap KEBERADAAN JUMLAH ANAK yang "banyak", atau lebih ekstremnya lagi penolakan keberadaan anak dengan alasan ekonomi.

Masalah ini memang banyak menghinggapi masyarakat negara-negara industri seperti Singapore, Jepang, Eropa, AS dll. Sedikitnya jumlah anak memicu kekuatiran tentang masa depan negeri tersebut. Dan memang kini terbukti bentuk populasi di negara tersebut piramida terbalik, alias jumlah penduduk tua lebih besar daripada jumlah penduduk usia muda. Di masa depan ini akan berbahaya.

Semakin sedikit jumlah usia produktif (15-64 tahun), membuat mereka akan semakin payah menanggung beban dari usia non produktif (khususnya yang di atas 64 tahun). Pemerintah jiran mencoba memberikan insentif baby bonus, bahkan konon (CMIIW) sampai usia SD, dan besarnya meningkat untuk anak kedua dst.

Tapi apakah orang sini banyak yang mengambilnya? Teman lokal saya berkata, memang pada saat kelahiran bayi kami dapat cash yang lumayan, demikian pula sampai usia SD. Namun selanjutnya bagaimana? Bukankah itu anak perlu makan, pakaian, sekolah dll juga? Itu kan biayanya gak sedikit. Ada pula yang lebih ekstrem dengan gak mau punya anak, karena lagi-lagi anak dianggap sebagai beban belaka. Entahlah apakah mereka tidak berpikir siapa yang akan take care mereka di hari tua nantinya.

Faktor pemicu lambatnya pertumbuhan penduduk adalah semakin banyaknya wanita yang lebih memilih karier. Ada yang selanjutnya tetap melajang atau pun menikah namun di usia yang tinggi. Sudah barang tentu di usia tinggi, melahirkan anak akan lebih riskan, dan jumlah anak yang dilahirkan juga akan lebih sedikit.

Sebenarnya masalah pemikiran bahwa anak jadi beban adalah juga mulai menjangkiti kalangan muda di daerah urban di Indonesia. Saya sempat berkelakar dengan teman, bahwa saya bingung kok bisa yah orang tua saya membesarkan 8 orang anaknya, dan Alhamdulillah jadi orang semua. Enaknya, keluarga besar itu kalo pada ngumpul rame banget. Jumlah cucunya juga banyak, riuh rendah, dan lucu-lucu semuanya. Tapi kini banyak orang yang berpikir karena dipaksa oleh keadaan, untuk berhitung terlebih dahulu sebelum punya anak banyak.

Zaman telah berubah, dan zaman semakin kompetitif. Apa-apa juga semakin mahal, termasuk biaya sandang pangan dan edukasi sang anak. Kecuali kita sudah merasa secure secara ekonomi, hingga mampu membesarkan anak secara layak dengan pendidikan dan kesejahteraan yang memadai. Zaman dulu lain, ortu kita berpikir sambil jalan, dan akhirnya tetap bisa berhasil, meski gak semuanya bisa begitu.

Kini pertanyaannya sebenarnya berapa jumlah anak yang ideal? Adakah anak sejujurnya menjadi beban keluarga? Apakah banyaknya jumlah anak memang akan membuat ekonomi keluarga terhuyung-huyung? Manakah yang lebih baik, anak sedikit tapi memiliki pendidikan yang cukup atau anak banyak yang tak terurus.

Memang di sebagian kalangan masyarakat ada yang masih memegang teguh bahwa banyak anak banyak rejeki. Tiap anak membawa rejeki masing-masing, dan kita tak tau dari anak yang mana kita akan mendapatkan rejeki. Namun ironisnya, realita di masyarakat, tidak sedikit keluarga yang jumlah anaknya banyak, tapi gak punya kemampuan ekonomi yang cukup sehingga anak-anak mereka tak terurus dan jadi berandal.

Bapak driver yang mengantar saya pernah berkisah bahwa temannya tinggal di daerah Galur. Di situ banyak keluarga tak mampu tapi beranak banyak. Ada tetangganya yang punya anak 10, dan si anak masing-masing punya skill tersendiri. Ada yang jadi copet, penjudi, bandar narkoba dll. Beberapa bulan lalu seorang anaknya mati ditembak, kayaknya oleh polisi. Bulan sebelumnya ada yang mati tenggelam karena menghindari kejaran amukan massa.

Tetangga di kampung sebelah pun ada yang punya anak banyak. Sayang, sang bapak cuma kerja bangunan serabutan. Akhirnya sang anak paling tinggi cuma lulusan SD. Ada yang jadi tukang ojek, ada yang jadi tukang sampah, atau pun kerja di restoran. Masih untung gak ada anaknya yang jadi pencoleng. Di kampung sebelahnya ada lagi remaja gantung diri.

Remaja ini punya back ground keluarga besar, tapi ekonomi Bapaknya pas-pas-an tapi si Bapak suka tebar pesona alias tukang kawin. Akhirnya sekolahnya putus di tengah jalan, nyari kerja juga susah. Orang tuanya juga gak sempat lagi ngurus dia apalagi ngasih perhatian lebih. Baru-baru ini diputusin pula oleh pacarnya. Lengkap sudah penderitaannya dan ini jadi agaknya jadi alasan dia untuk commit suicide.

Memang gak semuanya seperti itu. Hanya suatu ironi saja, andaikan kita beralasan mengikuti aturan religius dengan memperbanyak anak tapi kita sendiri gak mendidik anak secara religius serta tak punya kemampuan ekonomi yang cukup. Ataukah memang jumlah anak itu sudah merupakan takdir mutlak yang tak dapat diganggu gugat. Namun juga karena pemikiran kapitalistik yang telah meracuni kita, akhirnya gak sedikit di antara kita yang ketakutan punya anak dan enganggap anak jadi beban.

Whatever lah, semua itu berpulang ke individu masing-masing, karena mereka sendiri yang paling tau kondisi pribadinya dan paling punya kepentingan dengan pemikirannya. Yang jelas anak itu adalah Titipan Allah, dan gak selayaknya kita menolak kehadiran mereka. Kalau perihal ekonomi, IMHO, itu adalah kewajiban orang tua untuk menafkahi dan memberikan pendidikan yang layak. Bukankah kita diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi mencari rejeki.

Memang bicara saja mudah, tapi paling gak kita harus berupaya keras mendapatkan yang terbaik untuk keluarga kita. Kalau sudah mentok, itu berarti memang sudah garis hidup dan kita tawakkal saja. Tawakkal itu artinya berserah diri setelah berusaha semaksimal mungkin dan bukan berpasrah diri menggantungkan nasib tanpa berikhtiar.

Attitude, masa depan dll sang anak, adalah tergantung pula bagaimana kita take care terhadap mereka. Andaikan kita sibuk, boleh jadi waktu terbatas, namun kualitas bersinggungan dengan anak bisa ditingkatkan. Anak adalah masa depan keluarga dan bangsa. Pepatah simpel Jawa mengatakan, orang tua bisa dianggap sukses apabila sang anak bisa lebih berhasil daripada dirinya sendiri. Ukuran berhasil silahkan didefinisikan sendiri apakah itu hanya menyangkut hal material ataupun hal rohaniah pula.

At last, IMHO anak itu adalah Titipan Ilahi. Kewajiban kitalah mendidik dan menafkahinya selayaknya. Jangan sampai berpikir bahwa anak itu menjadi beban keluarga seperti yang banyak terjadi di kalangan urbanis. Apalagi sampai pada tingkat ekstrem menolak keberadaan anak, semisal dengan menggugurkan kandungan dll.

Mengenai berapa jumlah anak yang ideal, itu berpulang kepada diri masing-masing. Toh diri kita sendiri, sekali lagi, yang tau tentang kondisi kita apakah mempu memberikan kejahteraan dan penghidupan yang layak pada mereka. Dan toh, pengaturan jumlah anak alias Keluarga Berencana kini masih jadi polemik yang tak terselesaikan di kalangan ulama sekali pun.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
kepengenbangetpaizbisapunyaadik

1 comment:

Anonymous said...

Hai!! Ntah gimana, tau2 gw nyampe ke blog loe. Keren tulisan2 loe, biar panjang tapi tetep enak dibaca ;)

Tapi gw punya opini yg beda dgn loe, terutama ttg wanita karir yg menyebabkan jumlah kelahiran menurun.
Sangat ga adil menyalahkan wanita utk hal ini. Ga ada yg menyalahkan pria yg tidak tahu menggunakan kondom (KB) atau kalo selama ini wanita tidak pernah dipuji untuk jasanya 'menjaga' rumah. Seringkali urusan dapur dan anak dianggap sepele oleh suami atau pihak laki2, padahal itu sama atau bahkan lebih susah daripada ngurus karir di luar.

Kurangnya apresiasi laki2 & masyarakat terhadap wanita yang jaga rumah, tentu saja membuat wanita semakin malas utk menjadi seperti itu.

Wanita juga manusia, punya mimpi dan cita-cita. Memang wanita punya 'kodrat' untuk bisa melahirkan tapi sebagai manusia beradab, sangat barbar kalo melihat wanita hanya sebagai vagina berjalan (maaf kalo terlalu vulgar).

Maaf kalo kepanjangan dan terlalu kasar, mgkn gw msh harus belajar utk memperhalus kata2.

Peace!!