Sunday, June 17, 2007

Nothing is impossible

Posted: 9 Juni 2007

Assalaamu 'alaikum,

Jujur, ikhlas dan tegas, demikian bunyi spanduk besar yang bertebaran di kawasan Permata Hijau, lengkap dengan foto orang yang dicalonkan plus lembaran bukti pembayaran pajak iklan. Pak Sarwono yang punya motto itu memang bermarkas di kawasan Simprug Golf, tidak jauh dari Permata Hijau.

Namun sayang, pada dying minute menjelang penutupan daftar Cagub DKI, Pak Sarwono dengan tegar namun ikhlas dan pasrah menyatakan mengundurkan diri dari jalur pencalonan via Parpol. Kalau memang ada kesempatan via jalur independen, maka itulah yang akan ditempuhnya, meski semua itu sangat tergantung kepada niat MK untuk memutuskannya.

Mantan menteri kelautan ini memang pantas patah hati. Jauh-jauh hari namanya digadang-gadang sebagai calon alternatif menandingi Pak Adang, calon dari PKS, dan Pak Fauzi, calon dari Koalisi Jakarta alias seluruh partai minus PKS. PKB, PAN beserta Koalisi "Recehan" (gabungan partai-partai kecil) sudah berencana menggolkannya. Bukan apa-apa, syarat dari pencalonan Cagub adalah minimal 15% suara. Hilangnya satu dari 3 unsur di atas, menyebabkan syarat minimum tak terpenuhi.

Namun apa lacur, ketika bola sudah di kotak penalti, pencalonan Pak Sarwono, yang menggandeng Pak Jeffrie Geovanie harus kandas. Alasannya PKB ngotot untuk memasangkan beliau dengan Oneng alias Rieke Dyah Pitaloka, sebagai pengganti Rano Karno, untuk posisi Cawagub. Sedangkan Pak Sarwono merasa sreg dengan Pak Jeffrie dan menuntut komitmen 3 unsur itu pada kesepakatan sebelumnya yang memutuskan paket ini.

PAN pun tiba-tiba mundur dengan alasan Pak Sarwono tidak mampu menarik partai-partai memenuhi syarat 15%. Punah sudah semuanya. Kemudian ketika waktu tersisa tinggal 24 jam lagi, nama Pak Agum Gumelar dan Pak Didik J. Rachbini mencuat sebagai calon alternatif. Tapi apa daya, politik Indonesia memang kutu kupret. Ternyata PAN dan PKB tidak benar-benar bersungguh-sungguh menginginkan calon alternatif.

Semua itu semata ibarat dagelan yang berujung pada pencalonan Pak Fauzi Bowo, dan memang akhirnya terbukti bahwa PAN dan PKB ikut mendukung incumbent Wagub DKI ini menyusul Golkar dan PDIP yang secara "menakjubkan dan menggelikan" tiba-tiba bergandengan tangan di Pilkada DKI padahal di tingkat Pusat mereka saling beradu tanduk. Jadilah akhirnya pertarungan PKS vs non PKS, yang diwakili Pak Adang vs Pak Fauzi.

Sungguh menggelikan, mengapa tiba-tiba semua berada di belakang Pak Fauzi? Ada dengan semua ini? Mengapa partai-partai yang tadinya berseberangan di tingkat Pusat dengan sewenang-wenangnya tiba-tiba memaksakan bahwa Wagub DKI ini harus menjadi gubernur berikutnya dengan cara apa pun. Patut dicurigai dan sampai obvious sekali ada banyak KEPENTINGAN yang bermain di sini. Pokoknya Pak Fauzi harus naik, TITIK, begitu kira-kira kesimpulannya.

Padahal semua sudah tau di nusantara ini, yang namanya politik, gak pernah lepas dari yang namanya DAGANG SAPI, entah apa itu Sapi-nya. Menarik untuk dicermati kira-kira imbalan dan kompensasi apakah yang harus diberikan Pak Fauzi kepada para Parpol non PKS andaikan nantinya beliau benar terpilih jadi Cagub DKI.

Entahlah, agaknya kita semua sudah kehabisan kata-kata dan muak dengan kejadian ini. Pak Adang, yang dituntut oleh masyarakat untuk menunda pendaftarannya, agar melihat dulu hasil sidang MK mengenai calon independen mencoba memenuhi tuntutan ini. Andaikan cuma Pak Fauzi saja yang daftar, maka sesuai peraturan, maka pendaftaran Cagub harus diperpanjang seminggu lagi, karena hanya ada satu calon. Demikiankah jadinya? Ternyata tidak.

Koalisi gendeng itu sudah menyiapkan rencana lain. Andaikan Pak Adang menunda pendaftarannya, mereka sudah menyiapkan calon bayangan lainnya. Meski Pak Adang tak jadi daftar, calon yang muncul ada 2, yakni Pak Fauzi dan satu lagi calon dagelan yang hadir demi memenuhi syarat. Dengan demikian Pilkada tetap bisa digelar, sebagai lucu-lucuan dengan Pak Fauzi sudah pasti tampil sebagai pemenangnya. Mau tak mau Pak Adang pun langsung mendaftarkan dirinya sebagai Cagub DKI tanpa perlu menunggu habisnya masa pendaftaran.

Pokoknya harus Pak Fauzi, bagaimana pun caranya. Demikian pesan yang diusung oleh koalisi para parpol katro ini. Entahlah jengkel sekali rasanya hati ini. Demokrasi hanya jadi mainan. Seumur hidup baru sekali ini saya bersyukur nama saya tak terdaftar sebagai pemilih di suatu pemilihan.

Bukan apa-apa, karena kalaupun terdaftar, hati ini merasa "terhina" dipermainkan begitu saja. Buat apa kita bertanding kalau sudah tau hasilnya. Andaikan memang saya tetap terdaftar, Golput mungkin adalah pilihan terbaik, dan ini mungkin juga pilihan bagi banyak orang lainnya. Sekali pun terpaksa harus memilih, boleh jadi Pak Adang lah yang saya akan coblos.

Bukan saya meragukan kapabilitas Pak Fauzi sebagai Cagub. Bukan saya menafikan posisinya kini sebagai Wagub DKI yang punya gelar Doktor, lahir di Condet dan pejabat karier. Melainkan, saya cuma kuatir ada "KEPENTINGAN ANEH: di belakang dirinya. Saya cuma takut Tuhanku meminta pertanggungjawaban saya nanti karena memilih sesuatu yang mungkin "salah" padahal sebelumnya saya sendiri sudah merasakan "konspirasi aneh" yang sangat obvious. Apabila calon yang dipilih baik, namun di tengah jalan tidak amanah lagi, itu lain soal. Namun ini sejak awal, sudah terasa janggal, tapi kenapa harus tetap dipilih? Hati nurani saya tentu bilang tidak untuk hal ini.

Letih rasanya mendengar semuanya. Menulis artikel ini pun terasa buntu, dan gak seperti biasanya kata-kata terasa mampat untuk keluar sampai di ujung jemari. Kebuntuan yang timbul karena rasa frustasi dan desperate dengan "sedemikian" konyolnya para petinggi negeri ini. Gimana bangsa ini mau maju, kalau dalam pemilihan dan pembangunannya selalu saja direcoki oleh berbagai kepentingan kelompok. Manusia-manusia buas dan penuh nafsu itu memang tak pernah puas dengan apa yang sudah didapatnya, meski mungkin dia tau bahwa semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat nanti.

Seperti kata seorang teman, bedanya Singapore dengan Indonesia, bahwa Singapore itu secara negara kuat namun secara kelompok lemah. Di Indonesia terbalik, secara negara, kita lemah, namun secara kelompok kuat. Akhirnya Presiden pun sering bingung dan ragu melangkah. Meski beliau dipilih langsung oleh rakyat dan bertanggung jawab ke rakyat dengan mandat yang sangat kuat, namun tindakannya tetap seperti Lame Duck, alias tak bergigi dan tunduk pada tarik-menarik berbagai kepentingan di bumi pertiwi. Cuma satu kata yang tertinggal dari mengamati "keajaiban nusantara".

Kata-kata itu adalah:
CAPEK DEUY!

Yah, capek banget memikirkan kekonyolan dan ketololan yang terus terjadi di sekeliling kita sementara kita tak kuasa berbuat apa-apa, selain hanya bisa berdoa, dan terus berdo'a, di mana langkah yang satu ini adalah selemah-lemahnya iman, alias kita angkat bendera putih. Demikian kah sikap terbaik? Gak juga. Allah Maha Kuasa, dan NOTHING IS IMPOSSIBLE. Segala sesuatu bisa terjadi, dan bagi-Nya hanyalah seperti membalikkan telapak tangan saja. Di atas kertas Koalisi Konyol boleh bersiap untuk bersorak. Namun hati nurani kita masih bisa bertindak. Golput pilihan terbaik, atau pilihlah yang bukan di belakangnya ada banyak kepentingan.

Barangkali kebersamaan dari tindakan ini akan bisa membuktikan kebenaran:
NOTHING IS IMPOSSIBLE.

Hanya pendapat dari seorang hamba yang dhaif. Maaf kalau tidak berkenan.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

1 comment:

Anonymous said...

Tanda - tanda "keanehan" bertambah. Dalam pengumuman tentang dana kampanye, sumbangan parpol fauzi bowo tidak ada sama sekali. Dengan kata lain, kemungkinan pencalonan fauzi bowo ini adalah "dagang sapi", bukan atas dasar kesamaan tujuan. Lalu Sumbangan masyarakat hanya sekitar 700 juta. Ini mencurigakan, jangan - jangan banyak sumbangan "masyarakat" yang tak terdaftar karena berpotensi melanggar hukum. Hampir seluruh dana dari kantong Fauzi Bowo, sekitar 10 Milyar, hasil jual rumah. Prijanto sepertinya tidak nyumbang. Bandingkan dengan dana kampanye Adang - Dani.