Posted: 10 Mei 2007
Kalo kata Mas Tukul, "Kalau ingin menjadi besar, harus membesarkan orang lain. Ingin menjadi besar, kok malah ngecilin orang lain. Ibaratnya orang bercermin, kalau kita tersenyum, maka bayangan di cermin pun akan tersenyum. Pan gak mungkin kitanya tersenyum, tapi bayangan cermin kita cemberut". Ini cuma ucapan seorang Tukul lho.
Kembali ke laptop. Tentang Melayu, saya cuma prihatin aja Mas, sebagai sesama Muslim, walau sedih karena gak bisa bantu mereka apa-apa saat ini. Hanya pikiran saya melayang, apakah ini cermin ke-frustasi-an dari sosok-sosok yang ter-marjinalisasi? Ekonomi kurang, mau melanjutkan pendidikan ke level tinggi mentok, hingga akhirnya cuma dapat kerja kelas rendahan, padahal biaya hidup di sini tingginya bukan main. Pendeknya, hidup di sini sudah kompetitif, sedangkan mereka agaknya, mungkin, sulit melihat titik terang ke arah perbaikan nasib mereka. Ini akhirnya berujung kepada rasa frustasi.
Fenomena sejenis mudah kita temui di perkampungan padat nan kumuh. Kebetulan saya dulu pernah sempet merasakannya di daerah Kemayoran, sebelum babe beli rumah di kawasan asri di Jaksel. Kalo mau liat contoh real di Jakarta, coba saja ke kawasan Galur. Di situ kawasan berjuta masalah (maaf yah orang Galur). Mau pencolong, narkoba, kapak merah dll, dah lengkap deh. Para ustadz bisa memperbaiki daerah itu? Wew, udah puluhan tahun gak keliatan hasilnya tuh.
Hidup ini memang indah, buat mereka yang sudah secure dalam hal kebutuhan dasar hidup. Namun belum tentu indah buat mereka yang perutnya keroncongan. Jangan berpikir bahwa orang lain yang keroncongan akan sekuat mentalnya seperti kaum alim yang tetap takwa meskipun sering terkpasa berpuasa.
Pada akhirnya, itu akan berujung pada gimana ekonomi diperbaiki. Dengan Melayu ini pun kaitannya demikian. Urusan memperbaiki akhlak, mungkin para ustadz yang pegang peranan utama, namun bagaimana dengan urusan lain yang lebih bersifat "duniawi" namun sesungguhnya menunjang masalah akhlak dan moral ini? Nah di situlah, mungkin, ke depannya peran kita. Ini masalah pan ujung-ujungnya ke ekonomi dan pendidikan juga. Melayu sini begitu, ya karena ekonomi dan pendidikannya yang terjepit.
So, intinya perbaikan akhlak dan moral semata tak cukup kalau tidak dibarengi dengan perbaikan kesejahteraan dan peningkatan harkat hidup.
Getooo, kalo menurut saya sih. Ngenes aja lihat banyak kejadian Melayu ngawur. Itu kan menandakan hal ini mayoritas. Perlukah kita pikirin atau gak, ya "sa bodo teing, wong bukan bangsa kita". Hanya hikmahnya saja yang perlu kita ambil, karena ada contoh sepadan juga di kita, yang perlu diperbaiki, mungkin dengan andil kita.
Wassalaam,
Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
1 comment:
katanya kemiskinan dkt dg kekufuran, bener juga. banyak org yg karena lapar akhirnya nyuri, rampok, bunuh, sampai nukar aqidahnya dengan kebutuhan2 dasar itu... satu org muslim yg hidupnya "lebih dari cukup" ngga akan bisa menanggung semua orang yg kekurangan. tapi kalau rame2, mudah2an semua orang bisa ter-cover. tapi sayangnya sering ditemui org2 (mungkin krn melayu? masa sih?) sukanya "dikasih ikan", tapi nggak mau "dikasih pancing". keenakan minta ikan terus, udh dikasih pancing tapi nggak dimanfaatin... padahal kalau dia udh bisa mandiri, bantuan bisa beralih ke saudara2nya yg lain yah... kasih pancing lagi.
Post a Comment