Posted: 10 Mei 2007
Assalaamu 'alaikum,
Semalam di bis, mata orang-orang satu bis tertuju kepada sepasang muda-mudi dengan pandangan yang kesal. Bagaimana tidak, sepasang merpati itu dengan tidak tau malunya, dengan mupeng (Muka Pengeng) berasyik masyuk di dalam bis. Yang cowok memepet sang cewek sambil, maaf yahh kiss2 gitu.
Yang lebih menyedihkan lagi, keduanya adalah Melayu. Bukan sekali ini saya lihat muda-mudi Melayu berpakaian seronok ataupun bertingkah tak tau malu. Saya juga pernah dengar, kehamilan di luar nikah sudah bukan hal yang aneh lagi di kalangan mereka. Ditambah lagi, kebanyakan dari level pendidikan mereka tertinggal dari etnis lain, sehingga ketika bekerja, bisa jadi sopir pun sudah bersyukur. Kadang di HDB yang saya lintasi, malam-malam mereka suka nongkrong bagai gak ada kerjaan, kongkouw-kongkouw duduk di bawah dengan sampah berserakan.
Bukan apa-apa, kalo etnis lain saya gak terlalu peduli. Namun Melayu itu kan 100% Muslim dan itu berarti saudara kita juga. Jadinya ngenes bin prihatin kalau mereka sampai terseret jauh ke nilai-nilai minus. Melayu Bangkit? Melayu Boleh? Agaknya masih jauh panggang dari api untuk berpikir ke sana. Semoga fenomena semalam hanyalah fenomena minoritas yang kebetulan tampak.
Namun bagaimana kah sesungguhnya kondisi etnis Melayu di sini? Adakah akan membaik dari beragam segi, sedang dalam annual speech-nya tahun lalu, PM Lee menyebut bahwa etnis saudara kita ini adalah yang paling tertinggal.
Entahlah, dan apa hubungannya langsung dengan kita? Yang jelas prihatin lihat kondisi semalaman. Kalo nyatanya seperti itu mayoritasnya, dan itu berarti Melayu (Belum) Boleh (maksudnya belum bisa mengejar ketertinggalan).
Wassalaam,
Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
No comments:
Post a Comment