Posted: 9 Mei 2007
Assalaamu 'alaikum,
Kemarin pergi dengan seorang kolega yang Singaporean, di jalan sempat diskusi tentang situasi dan kondisi di Indonesia. Dengan PD saya berkilah, bahwa kondisi ekonomi bisa diperbaiki, dan bangsa Indonesia sudah berada di jalan yang benar ke arah sana. It's a matter of time. Namun ada satu anugerah yang tidak diperoleh saat masih berada dalam cengkeraman rezim masa lalu.
Anugerah itu bernama KEBEBASAN, yang nilainya tak dapat dihargai dengan berapa pun besarnya uang. Dulu, untuk unjuk rasa saja susah. Mau demo ya silahkan, tapi jangan ditanggung kalau setelah itu sang pemimpin demo hilang. Inilah anugerah yang mungkin belum diraih secara mutlak oleh tetangga-tetangga kami maupun pelbagai negeri lainnya. Dulu yang namanya kebebasan cukup mahal dan kita khawatir yang namanya agen ganda bertebaran dimana-mana.
Saya jadi ingat semasa kuliah di negeri utara dulu waktu jaman Pak Harto. Sesama mahasiswa (kebanyakan Bapak-bapak dosen), waktu ngumpul ngomongnya hati-hati sekali. Sebab kita gak tau siapa di situ yang sesungguhnya jadi spy/kepanjangan rezim waktu itu.
Kuatirnya, bolehlah kita di situ nekat ngomong sembarangan. Namun kalo pulang, dan dilaporin oleh si spy, karier kita, bahkan keluarga kita akan diganggu nantinya. Wew, "menakutkan" dan "mencekam" juga masa-masa itu. Siapa sih yang gak takut dengan Rezim nusantara waktu itu?
Ada sih orang yang dicurigai jadi partisan rezim kita. Cuma, dimana-mana yang namanya agen ganda sulit diketahui (wew ini dari beberapa buku yang pernah saya baca). Yang jelas agen ganda itu tentunya dapat imbalan entah berupa materi langsung maupun credit point khusus. Curiga secara langsung dihindari karena kuatir salah dan menyakiti perasaan orang tersebut. Namun kewaspadaan satu sama lain jalan terus. Ngomong masalah politik atau meng-kritik Pemerintah, hanya benar-benar dengan orang yang kita "tsiqoh" semata.
Saya ingat waktu itu, bahkan ada beberapa orang dari pihak tertentu, yang diblok gak boleh ikut kumpul-kumpul, karena dikuatirkan mereka adalah agen ganda, dan sejawat kami diminta keep kewaspadaan terhadap mereka. Walau dalam pergaulan keseharian sebagai sesama mahasiswa sepantaran, teman saya ini biasa-biasa saja. Namun, karena senior meminta waspada, ya waspada curiga hati-hati jalan terus sembari bergaul biasa dengan dia.
Hmmm, kenangan zaman rezim Babe 10 tahun yang lalu. Agen ganda memang susah dicari. Dan kolaborator kayak gini gak jarang berasal dari orang yang gak kita sangka-sangka.
Gimana dengan mereka-mereka yang merantau di suatu negara yang mungkin belum punya kebebasan mutlak (misalnya: Thailand dll deh, jadi deg2an nih)? Gak masalah selama mereka gak ngurusin urusan internal negeri setempat apalagi hal politik. Gimana pun juga di situ kita adalah sebagai tamu yang bermukim. Sudah barang tentu tuan rumah gak akan suka kalau urusan dapur mereka diorek-orek oleh sang tamu.
Nenek moyang kita sendiri sudah mengajarkan prinsip bagus: "Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung". Dengan begini selain kita bisa mempertahankan sikap santun kita, kita juga bisa selamat dimana-mana. Kecuali kita punya keberanian dan kekuatan untuk mengimplemantasikan, "Belalah kebenaran walau pahit sekalipun".
Thanks and Best Regards,
Papa Fariz
No comments:
Post a Comment