Saturday, June 9, 2007

Separah inikah mentalitas pengemudi di Jakarta?

Posted: 29 Mei 2006

Assalaamu 'alaikum,

Saya punya suatu pengalaman buruk di jalan Jakarta. Kira-kira di akhir tahun lalu, jalan tol di dalam kota macet total.
Kebetulan waktu itu saya mau keluar di exit Gedung MPR/DPR. Macetnya luar biasa, yang saya sendiri gak tau apa
penyebabnya. Namun saat sampai jalur keluar di Gedung DPR/MPR dan kami langsung melaju ke jalan Gatot Subroto,
tiba-tiba dari arah kanan, secara mendadak sebuah Honda City berhenti memalang mobil saya. Masih untung driver
saya sigap dan sempat mengerem, hingga jarak antara mobil saya dan Honda City yang berhenti secara tiba-tiba itu
cuma sebesar 5 jari tangan saja.

Selanjutnya dari dalam Honda City itu keluar pria berbadan tegap, agak gemuk dan berkumis, dan langsung mendatangi
mobil kami sambil marah-marah. Saya dan sopir saya bingung, karena kita gak melakukan apa-apa. Nabrak juga
nggak, trus apa salah kami? Walau begitu saya berpikir, mungkin dia merasa keki karena mobilnya terhalangi oleh mobil
kami. Mungkin, tapi saya juga bingung, wong saat itu lagi macet parah. Dia marah-marah gak jelas dan terus memaksa
driver saya untuk keluar. Lantas dia balik ke mobil, membawa sebuah pistol (saya gak tau jenisnya) dan mengancam
akan menembak kami.

Sopir saya, saya tahan dan saya gak ijinkan keluar. Biarin dia marah-marah dulu sampai puas. Gak ada gunanya dilayani.
Saya juga saat itu gak ada (kebetulan dan entah kenapa) perasaan takut terhadap pistolnya. Kalau mau tembak ya tembaklah,
toh banyak saksi dan saat itu memang benar-benar gak yakin (entah kenapa juga) dia bakal berani nembak. Sopir saya
terus mencoba beradu argumen. Saya yang disebelahnya "berlagak tenang", menahan sang sopir sambil terus ngeliatin orang
itu marah-marah. Berlagak PD dan tenang, dengan harapan orang itu malu atau mengira bahwa kita bukan orang sembarangan.
Akhirnya setelah agak reda, barulah sopir saya itu saya suruh turun dan minta maaf, terlepas salah atau tidaknya kami.
Orang itu akhirnya ngeloyor pergi balik ke mobilnya dan cabut.

Sopir saya cuma berkomentar, kalau gak ada Bapak, mungkin saya sudah buka baju nantang minta ditembak. Terus saya
timpali lagi, saya gak yakin dia itu, sekalipun bawa pistol adalah anggota militer. Kalau anggota militer "cuma" dididik
nembak musuh. Jadi kalau ada yang dirasa nantang dia pastilah langsung diamuk, tanpa pake otak dan tanpa memikirkan
apa akibatnya kemudian. Dah gitu mobilnya juga mobil ber-plat hitam. Boleh jadi dia anggota militer yang berpakaian sipil.
Walau begitu, saya juga mengingatkan sang sopir barangkali ada kesalahan dia yang mungkin dia gak sadari namun membikin
jengkel orang lain.

Dalam hati saya cuma merenung:
1. kenapa orang-orang di Jakarta pada arogan, gak mau antri dan berangasan, kasar, suka main hakim sendiri?
2. kenapa setiap masalah itu maunya diselesaikan dengan kekerasan, dan apakah kekerasan itu sudah menjadi budaya kita?
Saya selalu liat, di negeri jiran nan mini ini, kalau ada kecelakaan lalu lintas, pengemudinya sama-sama keluar, tapi gak
ada yang ngotot-ngototan. Tinggal panggil polisi, kemudian untuk perbaikan mobil tinggal claim insurance dari si penabrak.
3. andaikan itu pistol beneran, dan andaikan dia bukan militer, kok bisa-bisanya dengan mudah memiliki dan sewenang-wenang
memakai pistol itu meskipun kami tidak mengancam jiwanya? Apa dia pikir kami takut dengan pistol? andaikan dia anggota
militer, kok sikapnya sewenang-wenang terhadap orang sipil seperti kami? Apakah cuma segitu level militer kita?
4. kenapa Jakarta selalu macet dan ibaratnya di sini gak ada aturan lalu lintas, serta semuanya serba hantam kromo?
Saya jadi teringat sindiran seorang teman Jepang saya yang tinggal di Jakarta. Katanya, di Indonesia lalu lintas semrawut
karena kita gak dididik tentang manner ber lalu lintas. Ehmm, apalagi SIM di kita banyak yang nembak, ya gak?
5. saya bersyukur, karena saya yakin Allah lah yang memberi saya kekuatan agar tidak takut pada senjata api itu dan
memberikan ketenangan. Kalau dipikir-pikir lagi secara normal, ngeri juga andaikan itu senjata api beneran, lalu ditodongkan
dan diledakkan ke kepala kita.

Memang tiada yang lebih kuat dan kuasa selain daripada Allah SWT.
Namun kini gimana solusinya agar orang kita menjauhi budaya kekerasan serta mau tertib berlalu lintas?
Kalau orang yang educated, tentulah dia akan cenderung menjauhi budaya kekerasan.

Wassalaam,

Papa Fariz

No comments: