Assalaamu 'alaikum,
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/05/tgl/26/time/141521/idnews/602466/idkanal/10
RUU APP yang dipolemikkan, tapi mengapa yang berantem malah FPI-Pemuda Muhammadiyah-Hizbut Tahrir
vs Garda Bangsa-Banser-Anshor-PMII?
Itu semata-mata karena ketidak-sinkronan, dimana "oknum" FPI-PM-HTI mengusir Gus Dur agar tidak ikutan dialog
Lintas Agama di Purwakarta.
"Tindakan keras" ini memicu kemarahan dari para nahdliyin muda pendukung fanatik Gus Dur, walau Ketum PB NU,
Hasyim Muzadi sendiri meminta Gus Dur mengerem umbar pernyataan yang dapat memicu konflik. Pak Hasyim
juga menambahkan, konflik sendiri merupakan bagian dari Gus Dur, piye toh?
Masih ingat kan sewaktu GD memerintah dulu, yang rame cuma konflik-konfliknya aja, ya kan?
Trus gimana nih, kok yang berantem malah sesama Muslim, katanya yang tradisional dengan yang puritan-modern?
Trus ada gak yang punya referensi mengapa Gus Dur senang banget ber-konflik ria? Apakah karena itu adalah
"maksud terbalik/antagonis" yang dianutnya? Maksudnya GD sengaja berperan antagonis padahal maksud yang tersirat
yang sebenarnya adalah yang kebalikannya. Cara ini, memang terkadang dilakoni oleh para nahdiliyin. Contohnya:
(maaf dari kisah teman-teman, so jangan tanyakan bukti black and white-nya ke saya, namun silahkan dipikir sendiri
benar atau tidaknya hipotesa di bawah ini)
1. Dulu di akhir 80-an, Nama Benny Moerdany sudah berkibar dan mencuat untuk menggantikan Pak Harto.
Secara diam-diam, beliau sudah membangun kubu di dalam militer, yang ditandai dengan banyaknya jenderal-jenderal
dari umat kristiani, seperti Sintong Panjaitan, Maraden Panggabean dll. Namun semuanya masih berupa gerakan
tertutup namun memang sudah jelas arahnya ke penobatan sang jenderal legendaris, yang Katolik tapi sebenarnya
anak dari seorang Kyai Haji di Jateng. GD yang tau kasak-kusuk ini melontarkan pernyataan yang sangat kontroversial,
yakni bahwa seorang Non Muslim itu boleh jadi presiden di Indonesia. GD menuai kecaman sana-sini, dihujat bahkan
dituding memihak kafir. Beliau jadi tokoh antagonis, namun akibat positif-nya, wacana menggolkan Moerdani jadi
petinggi negeri ini kandas dengan sendirinya melihat reaksi kemarahan yang luar biasa dari kalangan Islam terhadap
wacana itu. Baru wacana saja sudah di"habisi", apalagi kalau kejadian benerannya. Akhirnya Moerdany sendiri tumbang
oleh Pak Harto yang juga jenderal, di mana Pak Harto secara tiba-tiba melengserkannya dari posisi Panglima ABRI
hanya dalam hitungan bulan menjelang dilakukannya SU MPR 1988. Kalau tidak lengser, besar kemungkinan Moerdany
yang akan jadi Wapres, selanjutnya naik ke jabatan presiden, entah dengan cara apa. (HMS sendiri masih pengen jadi
Presiden terus, kala itu)
2. Mengapa KH Hasyim Muzadi (HM) memilih berpasangan dengan Megawati? Konon katanya, saat itu ada perhitungan
bahwa kekuatan Mbak Mega masih cukup kuat dan berpeluang menang dalam Pilpres. Dan memang terbukti sang wedok
bisa melaju sampai ke putaran ke dua. Seperti kita ketahui, PDI sebenarnya merupakan fusi dari PNI, Parkindo (Protestan),
Partai Katolik, Murba dan IPKI. Dan sudah kita ketahui pula di sekeliling Mega, dan para petinggi PDIP banyak yang
beragama Nasrani. Kalaupun ada yang Muslim, ya sekulernya "nemen" banget. Sudah tentu pemikiran Mega akan sangat
dipengaruhi para koleganya yang kaum kafirin dan sekuler tersebut. Sebagai tindakan preventif, dan ada baiknya untuk
menjaga Mega, in case Ibu yang satu ini terpilih jadi Presiden, maka HM memilih berpasangan dengan anak proklamator
kita ini. Syukur memang akhirnya Mega tumbang. HM pun gak menyesali karena memang dari awal, mungkin gak terlalu
berminat dan sudah memprediksinya, namun itu adalah tindakan IN CASE Mega terpilih.
So, bagaimana gerak zig zag GD kali ini? Bukankah malah menuai inefektivitas yang menghabiskan energi saja, di kala
di satu sisi kelompok Islam mengusung agenda RUU APP, namun beliau malah melawan arus?
Entahlah, yang pasti para pendukung RUU APP pun sudah unjuk gigi dengan menggelar Demo Sejuta Umat.
Dan ini juga membuat "ngeri" para penentangnya, karena dari segi jumlah, memang jauh lebih luar biasa daripada
pawai Bhinneka yang mereka gelar yang antara lain berisikan para banci-banci berbusana tidak senonoh dan menuai
kecaman sana-sini. Memang agaknya rakyat kita sebagian besar gak peduli dan acuh tentang RUU ini, mungkin.
THE SILENT MAJORITY, adalah memang sudah ciri khas kita dan itu adalah tindakan yang teraman.
(Ssstttt, milis juga kayak gini kok suasananya, dan itu kan implementasi dari realita Silent Majority di kehidupan kita sehari-hari)
Then, kok pada gontok-gontokan dewe sihh? Kenapa FPI maunya selalu adu urat? Mengapa GD maunya selalu "nyeleneh"?
Anyway, kita berharap hal kecil itu tidak menjadi konflik horizontal di antara sesama kaum hijau. Capek boo, berantem melulu.
By the way, (mungkin) banyak yang berharap dan berdo'a agar RUU ini bisa jadi UU.
Wassalaam,
Papa Fariz
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/05/tgl/26/time/141521/idnews/602466/idkanal/10
No comments:
Post a Comment