Posted: 28 Mei 2007
Assalaamu 'alaikum,
Please offer this seat to someone who needs it more than you.
Itulah semboyan "kebaikan" yang agak agaknya sudah mendunia karena tidak cuma di Indonesia saja, melainkan saya temukan juga di Jepang, Malaysia dan Singapore. Namun bagaimana dengan kisah berikut ini:
Alkisah ada sepasang sejoli yang tengah bercengkerama.
Cowok: Sayang, aku kasian sekali kalau lagi naik bus atau kereta, ada nenek-nenek, orang hamil atau anak kecil berdiri di dekatku.
Cewek: Woww, kamu memang benar-benar hebat darling. Jiwa sosialmu memang tinggi. Gak salah deh kalo aku bakalan milih kamu.
Dengan mata berbinar-binar sang cewek lantas bertanya,
Cewek: Lantas apa yang kamu lakukan darling?
Cowok: Aku langsung PURA-PURA TERTIDUR.
Cewek: akdjrjsdujbfkzsdhksdkfjlasdjlasdjka.
Begitulah kisah yang bertolak belakang dengan semboyan, namun sebenarnya menggambarkan realita yang sesungguhnya di sekitar kita.
Kebetulan kemarin, saya bersama anak dan bundanya naik MRT (subway) di jiran ini. Stasiun yang hendak ditempuh gak jauh, cuma 6 stasiun. Namun Paiz kecil yang baru 3,5 tahun begitu masuk kereta langsung rewel. "Papa mau duduk Pa", pintanya. Saya cuma memperhatikan sekeliling saya. Di sebelah Paiz kecil, ternyata sudah ada anak kecil yang sedikit lebih tua darinya, yang lebih awal berdiri. Alamak dodol Garut pikir saya.
Saya amati lagi mereka yang duduk di bangku. Ternyata banyak yang pura-pura gak lihat, masa bodoh, pura-pura tidur ataupun asyik berpacaran. Akhirnya 2 stasiun berikutnya, saya baru dapat seat untuk anak saya, itu pun setelah berlomba dengan seorang pria, yang "kurang tau malu" mau rebutan kursi dengan anakku yang masih kecil itu.
Geramkah kita? Sejujurnya iya, tapi EGP juga, abis mau gimana lagi. Saya cuma bisa menenangkan Paiz kecil sambil bilang sebentar lagi turun. Yoo wess toh, walau semboyan kebajikan dunia juga bertebaran di senatero gerbong itu. Toh ini bukan pemandangan yang baru. Seringkali di MRT maupun bus, saya ngelihat mereka yang sepatutnya duduk, harus menahan diri untuk tetap berdiri karena gak ada yang mau berbaik hati memberikan tempat duduknya.
Di Jakarta, di awal tahun ini saya pun pernah mengalaminya. Waktu kendaraan pribadi lagi rusak, so saya ajak keluarga saya menikmati bus Kopaja menuju rumah mertua. Waktu itu saya sengaja naik dari pintu depan, dan bus agak kosong walau tempat duduk penuh berisi, karena memang saat itu sedang libur panjang. Sambil saya susah payah menggendong si kecil, saya berdiri di dalam bus.
Di Jakarta lebih parah, para pria penumpang lainnya bukan cuma pura-pura tertidur, tapi merasa tak berdosa duduk santai sambil menghisap rokok tanpa peduli penumpang lainnya kibas-kibas menghindari asap rokok. Lagi-lagi kursi baru saya dapatkan saat ada penumpang yang turun. Ini juga bukan hal pertama, sebelumnya saat mencoba naik busway, para penumpang lebih kejam lagi. Gak ada yang peduli dengan nenek, anak kecil ataupun ibu hamil yang membutuhkan. Pengen rasanya "nabok" itu orang. Tapi biarin aje, EGP deh, nanti kita dikira pahlawan kesiangan yang sok bermoral.
Hmm, apakah rentetan kejadian ini merupakan cerminan semakin individualistisnya kita semua dan semakin hilang tingkat kepedulian sosial di antara kita? Ataukah cuma kebetulan saja saya yang menyaksikannya, sedangkan sebenarnya mayoritas gak seperti itu adanya. Entahlah, saya juga gak terlalu peduli, karena memang no big deal. Namun sejujurnya kalau mau ditelaah lebih dalam, agaknya telah terjadi pergeseran nilai-nilai di masyarakat.
Boleh jadi gak sedikit orang yang berpikir "gue udah susah payah nyari tempat duduk, enak banget dikasihkan ke orang" ataupun "perjalanan gue masih jauh nih, masak gue harus ngasih kursi gue" ataupun " gue juga capek boo bukan cuma situ aje" ataupun "kenapa gue yang harus punya peduli sosial, sedangkan yang lain pada cuek bebek? ogah deh gue jadi pahlawan kesiangan".
Dan kalau dipikir lagi, memang kini semakin banyak nilai kebajikan yang cuma jadi slogan formalitas belaka. Semua hanya sekedar basa-basi yang timbul dari permukaan semata agar dilihat lebih apik dan karena tuntutan ewuh pakewuh. Belum tentu slogan itu di realitanya timbul dari lubuk nurani yang terdalam.
Sedikit demi sedikit kita terus biarkan hati kita dihinggapi debu. Padahal kata Imam Ghozali, hati itu laksana kaca, kalau terus ditempeli oleh debu, maka cahaya Ilahi tidak akan sanggup lagi menerobos hati kita, hingga akhirnya dorongan untuk berbuat baik pun pudar perlahan tapi pasti.
Entahlah, biarin aja, itu kan urusan individu. Toh masyarakat juga bingung mau meneladani siapa saat ini untuk hal kebajikan. Apalagi dengan begitu bertebarannya fenomena kemunafikan di sekitar kita, yang bahasa kerennya bernama "Lips Service". Biarlah itu kembali ke individu masing-masing, sampai ada yang mau mengingatkan sembari mencontohkannya.
Di dunia realita yang individualistis pada akhirnya memang fenomena hipokrit "dibutuhkan" dan acap tumbuh subur. Baik buruknya silahkan menilai sendiri. Namun rasanya kok hati ini jadi ngenes liat fenomena "Lips Service" yang cuma sekedar formalitas, namun semakin hari semakin memprihatinkan saja.
Khusus untuk slogan di kendaraan umum, barangkali sepantasnya diubah menjadi: Please (DO NOT) offer this seat to someone who needs it more than you.
Hanya sebuah intermezzo.
Wassalaam,
Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
No comments:
Post a Comment