Posted: 1 Juni 2007
Assalaamu 'alaikum,
Minggu lalu isteri saya kebetulan mengajak makan di luar ke sebuah tempat makan yang konon terkenal di bilangan Kebon Jeruk. Ternyata makanan di situ adalah semua serba bebek-bebek-an, walau sebenarnya cuma ada 4 macam menu saja, yakni bebek goreng, bebek bakar, bebek lada hitam dan bebek sambal hijau (yang gak ada cuma Donald Bebek:D). Saya langsung teringat dengan tayangan wisata kuliner saat Ramadhan lalu, dimana warung bebek ini masuk TV.
Harganya lumayan, bisa dibilang murah dan bisa dibilang mahal. Sepotong bebek alias 1/4 bebek dihargai 13.500 rupiah. Kalau lengkap dengan nasi dan teh manis, total jadinya sekitar 20 ribu per porsi. Rasanya? Wahh, mungkin lidah saya saja yang agak aneh. Daging bebek dimana-mana memang begitu rasanya. Agak gurih dibanding daging ayam. Namun, kok rasanya bumbunya gak nendang banget alias biasa-biasa saja. Gak beda jauh dengan bebek goreng yang pernah saya makan di daerah Blok A.
Namun kenapa warung bebek yang satu ini sedemikian terkenal? Wah, saya juga bingung, soalnya lidah saya mencicipi dengan penilaian yang biasa, karena memang makanan yang tersajikan terkesan biasa. Tapi yang jelas, seingat saya, si empunya memang tokcer dalam memilih bebek.
Bukankah di Jakarta makanan yang berbau bebek masih jarang sekali? Di sinilah beliau mengincar rasa penasaran warga dengan mempopulerkan masakan bebek-bebekan. Karena unik dan spesial, akhirnya agaknya makanan di warung bebek ini berkembang dari mulut ke mulut hingga terkenal di seantero Jabotabek.
Lihat saja di warungnya terpajang foto-foto para selebritis yang sempat makan bebek di situ, berikut komentarnya. Tentunya ini menambah daya jual, karena masyarakat akan berpikir, orang ngetop aja makan di sini dan bilang enak, masak gue beda sih dengan mereka. Hebatnya lagi, sifat latah orang kita keluar lagi, dan akhirnya di samping warung bebek tersebut, berdiri warung bebek dan resto bebek lainnya di sepanjang jalan Panjang Kebon Jeruk.
Tahukah anda ada satu hal yang membuat saya benar-benar berdecak kagum. Apakah itu? Warung bebek ini benar-benar antri, dan saya sendiri pun harus terhipnotis ikut antrian demi dapat mencicipi daging bebek. Hari itu adalah hari Minggu, dan kata seorang pelayan, ini belum seberapa, paling heboh adalah pas hari Sabtu.
Konon katanya bebek yang terjual bisa mencapai 3000 porsi alias 750 ekor bebek! Oke deh kita pukul rata, yang terjual tiap hari cuma 20.000 porsi, dan tiap porsi, gak termasuk tambahan lauknya, berharga 20 ribu. Itu artinya omzet sehari adalah 3000 x 2000 alias 40 juta sehari! Kalau dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pemasukan per bulannya adalah 1,2 milyar!!!
Wek wek wek, ternyata bebek bisa bikin orang jadi milyuner. Konon katanya laba bersih dari bisnis makanan, setelah dikurangi biaya gaji, bahan makanan dll, di Jakarta adalah 30-50%, alias uang bersih yang masuk ke kantong owner-nya adalah 360 juta sampai 600 juta rupiah per bulannya. Fantastis bukan? Benarkah demikian? Saya sendiri agak meragukan keterangan sang pelayan, namun sayangnya kite bukan wartawan yang bisa ketemu langsung sang owner untuk mendapatkan angka pastinya.
Namun, tukang bakar bebek di warung berucap, paling sedikit banget sehari terjual 800 porsi, dan itu berarti pemasukan harian, berdasarkan angka ini, mencapai hampir 20 juta, dan dalam sebulannya adalah lebih dari setengah milyar rupiah. Tetap saja bebek bikin orang jadi milyader juga.
Wek wek wek, bebek ternyata memang fantastis. Namun dari sini saya terkesan dengan "kecemerlangan" ide sang owner, dan gak mudah bisa menemukan ide brilyan yang kini booming begitu. Satu hal lagi yang perlu dicermati adalah kesuksesan branding si bebek. Sekarang the food sells itself. Dah gak usah dihebohkan, orang pada datang sendiri untuk mencicipi. Then, ada fakta yang tak terbantahkan bahwa sebenarnya Jakarta itu adalah gudang uang dan lahan yang subur untuk berbisnis (kalau berminat), karena memang untuk consumer product, populasinya besar dan sifat orangnya yang penasaran dan latah-an.
Hanya saja ide brilyan gak selamanya bisa datang, dan kadang baru timbul setelah kita kepepet.:) Tapi kalo pengen jadi "jenderal", simpelnya kita cuma punya 3 pilihan, yakni berbisnis sendiri, jadi pejabat yang benar-benar mumpuni ataukah jadi koruptor kelas kakap (maaf kalau ada yang tak sependapat). Kecuali kalo kita mau rejeki kita ditakar orang terus, atau sudah feel comfortable dan puas dengan kondisi kita saat ini.
Anyway, wek wek wek, bebek memang fantastis dan sanggup membuat orang jadi milyuner. Wew, terlalu bombastis kah?
Wassalaam,
Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
No comments:
Post a Comment