Sunday, June 17, 2007

Power of money vs slave of money

Posted: 3 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

Semalam belanja di Fair Price, pas sampai di kasir, kaget juga dengan pertanyaan sang kasir. Apakah anda membawa shopping bag sendiri? Kalau gak bawa silahkan pilih, mau bayar kantong plastik seharga SGD 0.10/pcs ataukah mau beli shopping bag seharga SGD 1.00? Kaget juga, tapi no big deal lah, akhirnya saya pilih shopping bag, karena bisa dipakai kembali.

Wew, sejak kapan aturan seperti ini berlaku? Apakah berlaku di semua supermarket, ataukah cuma di Fair Price saja. Sebelum ini memang pernah dengar berita bahwa dengan alasan konservasi lingkungan, Pemerintah sini akan menekan pemakaian kantong plastik. Singaporean, konon rata-rata per kepala, termasuk boros dalam pemakaian kantong plastik. Plastik ini lebih sulit di daur ulang, dan tentunya lebih berpotensi menimbulkan polusi.

Yahh, cara jitu tipikal Pemerintah sini adalah dengan men-charge kantong plastik, biar pada kapok dan mikir untuk menghemat pemakaiannya. Sudah ukan rahasia umum lagi, salah satu karakteristik orang sini adalah mendewakan materialis. Mungkin dah bawaan lahir begitu. Tengok saja ironi semboyan 5C pada bendera mereka, yakni Credit Card, Car, Condo (tambahan 2 lagi dong, lupa nih).

Karena uang segalanya, jangan heran, hampir di setiap punishment selalu diberlakukan sistem denda sebagai tambahan hukuman fisik. Littering dan meludah, serta merokok sembarangan akan kena denda SGD 500. Macam-macam deh, liat saja di kaos Singapore. That's why Singapore disindir sebagai a Fine City.

Dengan dasar, maaf, sifat greedy and stingy, denda uang sangat efektif untuk membuat jera. Bayangkan misalnya gaji kita cuma SGD 2000, trus gara-gara merokok sembarangan kita kena penalti SGD 500, apa gak sakit hati tuh? SGD 500 itu kan upah kita seminggu kerja. Kebayangkan bagaimana capeknya kerja seminggu? Karena susah cari uang, makanya uang jangan dibuang sia-sia, seperti dengan pelanggaran yang tak perlu itu.

Dah gitu besarnya denda gak tanggung-tanggung biasanya, untuk masing-masing pelanggaran. Setiap regulasi dari Pemerintah di sini, hampir pasti akan gol. Bukan apa-apa, wong di sini, partai oposisi bisa dibilang gak ada. Beruntung kehidupan ekonominya masih bagus. Kalau ekonomi ambruk, hampir pasti bergolak. Otoriterisme, gak selalu buruk, dan ini dipelopori oleh Machiavelisme yang mungkin dianut petinggi negeri jiran ini.

Jakarta pun gak ketinggalan, mau ngikut gaya sini menerapkan denda yang tinggi. Sayangnya untuk semisal pelanggaran lalu lintas, di sana denda pun bisa di nego di tempat, dengan istilah 86. Banyak peraturan kita sudah menyebutkan denda, namun sayangnya implementasinya masih kurang sekali, bahkan diabaikan. Namun di perkara korupsi, ada kemajuan.

Dulu terdakwa di denda namun bisa diganti dengan kurungan badan (subsider gitu istilahnya). Namun kini pengadilan menerapkan, selain denda biasa, ada lagi keharusan membayar sejumlah uang negara yang dirugikan, gak mau tau gimana caranya, bahkan kalau perlu harta benda tersangka disita dan menjadi milik negara. Sipp deh, kalau gini, biar pada kapok.

Uang bisa dijadikan alat pemaksa penerapan regulasi. Baik buruknya relatif. Apakah memang kini sudah zamannya uang dipakai di segala penjuru kehidupan. Sedihnya, di nusantara, ada istilah, Uang Ada Semua Beres, Ada Uang Abang Sayang Tak Ada Uang Abang Kutendang dll. Namun, bukankah ini juga menjadi pertanda bahwa pikiran kita telah terasuki dengan yang namanya materialisme. Semuanya uang, uang dan uang.

Hal regulasi pun harus dipaksakan dengan uang agar kapok. Saat ini, gak sedikit calon mertua yang menilai calon menantu dari kesuksesan dari segi harta. Demikian pula orang menilai kesuksesan seseorang hanya dari segi materi saja. Dari hal mobil, rumah, dll yang dimiliki pribadi ybs.

Uang memang bukan segala-galanya. Namun uang memang penting. The hungry man become the angry man. Karena gak ada uang, perut lapar. Karena gak ada uang, gak sedikit orang yang berbuat nekat. Karena kurang uang, kejahatan meningkat di mana-mana. Itulah The Power of Money, yang memang luar biasa. Namun adakah kita harus tunduk pada Power of Money, yang mungkin membawa kita menjadi seorang budak uang, yang berpikiran uang, uang dan uang, di mana uang adalah segala-galanya buat kita, di mana akhirnya bukan uang yang menjaga kita malah kita yang mati-matian menjaga uang.

Jangan sampai energi negatif power of money menjadikan kita slave of money. Justru haruslah sebaliknya, bagaimana kita memanfaatkan energi positif power of money, untuk kepentingan kita, bahkan untuk hal yang bermanfaat buat orang lain. Apakah itu? Bagaimana bentuk realnya? Silahkan dipikirkan sendiri.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

No comments: