Tuesday, October 30, 2007

Blog Papa Fariz Jilid II

Posted: 29 Oktober 2007

Assalaamu 'alaikum,

http://papafariz.blogspot.com/

Alhamdulillah akhirnya updating kedua dari Blog Papa Fariz hampir selesai. Tulisan pada periode Juni-September 2007 sudah selesai dipindahkan, meski karena keterbatasan waktu menyebabkan blog ini tidak sempat dipercantik ataupun diberi pernik-pernik, seperti shotout dll. Baru sekedar sanggup memindahkan tulisan saja, yang ternyata di luar dugaan, jumlahnya, dimana yang dikumpulkan adalah tulisan dari Mei 2004 sampai akhir September 2007 saja, ada sekitar 415 tulisan. Kalau rata-rata 1 artikel ini terdiri atas 2-3 halaman, maka jumlah halaman totalnya adalah 800-1200 halaman. Wew, sampai bingung sendiri kok bisa sempet-sempetnya nulis setebal itu.

Berbeda dengan blog yang lain yang mirip dengan catatan harian alias diary, konsep awal dan sampai saat ini dari blog ini lebih terfokus pada dokumentasi dari tulisan-tulisan yang pernah saya kirimkan ke berbagai milis. Entah apakah tulisan itu berguna atau tidak, ataupun dibaca atau tidak, sayang rasanya kalau tidak dikumpulkan jadi satu. Minimal untuk sekedar koleksi pribadi sekaligus persembahan buat ananda tercinta, yang mungkin in future bisa menulis jauh lebih hebat dibandingkan Bapaknya yang amatiran ini.

Sejujurnya, sempat ada keinginan untuk tidak melanjutkan dan sekaligus menutup Blog sebelumnya. Membuat blog memang tidak mudah. Apabila di tengah keterbatasan waktu yang ada, dan hanya setengah hidup berada di belakang laptop, sekedar updating saja juga terasa berat, apalagi untuk me-maintenance setiap hari. Sempat juga terpikir, apa sih untungnya punya blog, bukankah itu hanya nambah-nambahin kerjaan saja. Kerjaan kantor saja sudah bikin mumet kepala.

Namun entah kenapa, secara tidak sengaja, kemarin, saya tergerak untuk iseng meng-"Googling" nama "Papa Fariz". Ada satu website yang membuat saya terkejut dan terkesan. Website itu adalah: http://papafariz.wordpress.com/. Di website itu ada kutipan yang cukup membuat terharu, yakni:

Dengan dibukanya blog milik Papa Fariz sendiri tersebut, blog ini officially saya tutup. Wassalam, Salah satu penggemar tulisan Papa Fariz yang berinisiatif membuka blog ini.

Hmm, saya sendiri jadi terbayang lagi bagaimana dulu saat awal membuat blog dan memindahkan ratusan tulisan yang tersebar di beragam milis. Capeknya bukan kepalang, dan yang jelas perlu kesabaran dan ketekunan serta waktu berhari-hari. Ada orang lain yang sudah berbaik hati mengumpulkan tulisan itu, mengapa saya pribadi tidak tergerak untuk melanjutkannya? Akhirnya saya sacrifice hari kemarin, dengan mengurung diri di dalam ke kamar, tenggelam dalam kesibukan menata lagi blog yang pernah hampir saya "buang".

Kepada pembuat dan penulis Papa Fariz di Wordpress itu, andaikan memang kebetulan membaca tulisan ini, saya harapkan bisa melanjutkan blog tersebut kalau masih ada waktu. Saya memang berangan-angan untuk memiliki kembaran di Wordpress bahkan Multiply. Namun satu aja udah kelabakan, apalagi lebih dari itu. Insya Allah saya akan legowo dan berbangga hati apabila blog di Wordpress tersebut bisa dilanjutkan kembali.

Hal lain yang mendorong saya untuk kembali mengurus blog tersebut, selain untuk dokumentasi, tak lain dan tak bukan keinginan untuk mengimpementasikan isi salah satu hadits favorit saya. Menurut Rasulullah SAW, sebaik-baiknya orang adalah orang yang berguna bagi orang lain. Terhadap keluarga dan juga ibunda, yang bisa saya lakukan adalah berupaya semaksimal mungkin memberikan penghidupan yang layak buat mereka. Dengan waktu yang sempit dan sedikit chance yang ada, barangkali menulis, sekali pun masih level amatiran, adalah pintu yang dibukakan oleh Allah SWT kepada saya sebagai jalan untuk menyampaikan gagasan dan pikiran sekaligus sharing dari apa yang pernah saya ketahui.

Terlepas dari bagaimana mutu tulisan itu, andaikan tulisan itu baik dan dimanfaatkan oleh orang lain, bukankah ini akan menjadi ladang pahala buat saya sendiri? Sebaliknya bisa juga menjadi bumerang dengan menjadi ladang dosa apabila kita tersandung nantinya. Saya juga menyadari bahwa tulisan itu tentunya mengandung pro dan kontra. Tapi biarlah kita semua sudah dewasa, dan kita mampu secara bijak bagaimana menilai dan menyikapi suatu gagasan. Pro dan kontra itu biasa, dan tak mungkin gagasan kita akan memuaskan semua pihak.

Blog ini juga jadi kumpulan lengkap tulisan di berbagai milis. Terkadang ada beberapa milis yang sengaja tidak saya kirim email. Adapula pula milis yang saya kirimi, namun karena menurut pandangan moderator case sensitive bagi member lainnya atau entah apa alasan lainnya, sehingga dengan terpaksa harus dimoderasi. Apa pun jadinya, akhirnya saya kumpulkan jadi satu di sini. Ke depannya, ada rencana meng-update setiap hari. Bahkan mungkin akan bikin kembarannya juga yang berbentuk catatan harian dari hikmah dan analisa kehidupan harian. Namun terwujud atau tidaknya, lagi-lagi berpulang ke masalah waktu.

Akhirnya melalui tulisan dan blog tersebut, saya pribadi mencoba mengimplemantasikan filosofi hidup saya pribadi, yakni Be Useful dan Be Urself. Sebagaimana ditulis di atas, sebaik-baiknya makhluk Allah adalah mereka yang bermanfaat buat orang lain. Insya Allah setiap orang punya potensi untuk bisa bermanfaat. Egois dan bokis tidaklah pada tempatnya diterapkan, apalagi mengingat kita ini makhluk sosial yang seyogyanya ber-simbiosis mutualisma dengan yang lain, meski tidak mengesampingkan prinsip Take and Give.

Be Urself artinya jadilah diri sendiri. Setiap orang dilahirkan dengan karakteristik dan ciri khasnya masing-masing. Kembar identik sekali pun tidak mungkin punya akan sama persis. Perbedaan itu adalah kehendak dan rahasia Ilahi. Jadi biarkanlah apa adanya, dan biarlah kita menjadi diri kita sendiri. Hanya saja tentunya kita harus mematuhi kesepakatan bersama serta rambu-rambu Ilahi dalam kerangka hubungan dengan sang Khalik (Habluminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (Habluminannas).Sampaikanlah walau satu ayat, demikianlah bunyi hadits yang lain. Semoga apa yang bisa saya sampaikan dalam tulisan-tulisan saya selama ini bisa bermanfaat. Dan mohon maaf apabila ada kekhilafan, karena saya pun hamba Allah SWT yang dhaif yang tak terlepas dari berbagai kekurangan. Papa Fariz juga manusia, gitu lho. Maaf kalo kepanjangan dan terlalu klise.

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Sunday, October 28, 2007

Jangan lagi lalat ijo boleh berkuasa

Posted: 2 Oktober 2007

Assalaamu 'alaikum,

14 tahun lalu, saat sempat mengeyam bangku kuliah selama setahun di kawasan Depok, saya punya teman kuliah yang lucu dan unik. Namanya Maung, dia unik karena satu-satunya pelajar asing di situ. Jarang-jarang ada pelajar asing di kampus kami. Muslim Myanmar ini pendiam tapi "lucu" apalagi kalo ngomong bahasa Jakarte. Yaaa, saya dan geng dulu seneng "ngeledekin" dia, dalam artian nemenin sekaligus ngasih support. Tentunya ada perasaan salut dengan kegigihan pria satu ini yang kami panggil Macan (bahasa Sunda-nya, Maung = macan) ini, walau kadang dulu kami jahil suka ngajarin bahasa okem yang "ngga'-ngga'".

Ingat Myanmar, ingat Maung. Ingat Maung ingat Myanmar. Entah kemana kini dia berada, apakah masih di Jakarta dan kerja di situ ataukah sudah balik kampung. Kalau sudah balik kampung, gimana yah nasibnya kini? Bukan apa-apa, akhir-akhir ini berita tentang Myanmar begitu menyita perhatian dunia. Ribuan bhiksu Budha Mahayana, yang tak tahan dengan kebobrokan rezim junta militer, dengan dipicu oleh kenaikan BBM sebesar 500%, mencoba menyuarakan aspirasi rakyat akan kebebasan dan demokrasi. Tapi apa nyana, yang namanya militer itu gak dimana-mana memang gak kenal kasian dan gak punya otak. Dibabatnya para demonstran sipil berikut kaum brahmana di negeri seribu pagoda itu. http://www.youtube.com/watch?v=ir1FQh6rShI Seorang jurnalis dari negeri Sakura pun harus menjadi korban dan peristiwa peregangan nyawanya sempat direkam oleh kamera video. http://www.youtube.com/watch?v=BUUQi1ooEAs

Dunia marah dan meradang, namun junta yang berkuasa sejak tahun 1962 tetap tidak peduli. Cina yang sobat dekat sang junta, sangat enggan dimintai tolong. Bukan apa-apa, karena pada ujung-ujungnya krisis di Myanmar juga berkaitan dengan kepentingan global. Cina lebih menyukai status quo dengan junta militer berada di puncaknya, karena Cina saat ini mengelola hampir semua tambang di negeri yang kaya gas alam itu. Andaikan junta bubar dan demokrasi yang masuk, boleh jadi kontrak Cina akan dikocok ulang dan para investor dari negeri matahari senja sana yang akan masuk menggantikan mereka.

Kasian negara berkembang, mungkin sudah nasib mereka, dalam situasi begini pun pada akhirnya akan jadi mainan negeri kuat juga. Siapa bilang dunia ini beradab? Di dunia fana tetaplah berlaku hukum rimba, dimana yang kuat dia lah yang dominan. Semua yang keliatan adil hanyalah kamufalase belaka, dan keadilan yang sesungguhnya baru akan ada di alam akhirat nanti. Contoh lainnya, ketika Hamas memenangkan Pemilu jurdil di Palestina yang demokratis, lantas mengapa pemerintahannya tidak diakui padahal Pemilu adalah buah demokrasi yang dikenalkan oleh negeri belahan barat sana? Karenanya Indonesia pun harus menjadi bangsa yang kuat dan kaya agar tidak terus dipermainkan oleh orang lain.

Situasi di Myanmar sebenarnya hampir mirip dengan apa yang kita alami 40 tahun lalu dan 10 tahun lalu. Bedanya, Allah masih sayang dengan bangsa kita, sehingga kebenaran dan kebebasan lah yang tegak di bumi pertiwi. Ini karunia Allah yang paling dahsyat dan tak tergantikan oleh apa pun serta sangat tak ternilai, meski kini nusantara masih compang-camping. Kita sudah punya modal dasar dengan kebebasan, tinggal gimana saja kita melangkah ke depannya. Seperti Myanmar, bangsa kita pernah dikuasai oleh junta militer, walau bedanya di nusantara, sang junta lebih senang berpakaian sipil. Mau pakaian sipil atau militer, tetap saja otaknya otak militer yang gak punya rasa kasian dan kejam.

Apa yang kita alami dulu memang "tak kalah menyeramkan". Di Jakarta, yang namanya protes dan demo, hampir gak ada. Mau demo silahkan, paling-paling besok pemimpin sudah hilang lenyap ditelan bumi. Ceramah pun gak bisa sembarangan. Kalau isinya amar ma'ruf (menyeru kepada kebajikan), di welcome banget. Tapi jangan sesekali menyampaikan nahi munkar (mencegah dari kejahatan), karena bisa-bisa langsung disuruh turun dari mimbar. Sudah jadi rahasia umum setiap teks ceramah diperiksa dulu oleh pihak terkait, dan dalam ceramah selalu disusupi intel-intel.

Menjelang Pemilu, tak kalah mencekam. Berkumpul lebih dari 5 orang sangat diharamkan. Gak usah bingung kenapa dulu gak pernah ada pertandingan voli pas deket-deket Pemilu. Wong satu tim voli itu udah 6 orang, jadi mana bisa kumpul jadi satu tim, karena jumlahnya lebih dari 5 orang. Teman saya yang aktif di organisasi keagamaan di sekolah juga terpaksa "meliburkan" pengajiannya karena aturan aneh dan konyol ini. Masa itu, jangankan yang namanya bikin kerusuhan, suara jarum jatuh pun dah bisa kedengaran oleh intel, karena mereka memang ada dimana-mana dan kita gak tau siapa dia dan boleh jadi justru orang dekat kita sendiri bekerja untuk junta militer saat ini. Saat kuliah di negeri utara dulu, sesama pelajar asing dari nusantara, sangat hati-hati berbicara dan takut menyinggung masalah politik. Kuatirnya, ada teman yang jadi intel, dan saat kita pulang, habislah karir kita dan kehidupan kita karena laporan bajigur intel itu tentang penentangan kita.

Masa-masa itu anda mau jadi gubernur? Syaratnya gak susah, jadilah petinggi militer. Memang menggelikan, bagaimana mungkin, kursi-kursi gubernur dan kementrian didominasi oleh militer dan para purnawirawannya. Jangan tanya mengenai kapabilitas mereka di situ, wong pendidikan mereka cuma sekelas akademi, dan paling mentok cuma sekolah tinggi. Pemikiran militer memang gak sama dengan sipil. Walau begitu mereka merupakan suatu organisasi yang paling teratur dengan tingkat kedisiplinan dan loyalitas yang maha tinggi. Konon katanya, untuk bisa mencapai hal seperti itu, otak para anggotanya harus dicuci bersih dulu. Kata kabar burung, Akabri kita dididik di gunung Tidar sana, di dekat Gunung Kidul. Ada yang trainingnya dilepas di hutan dan gunung, cuma berbekal beberapa korek dan pisau untuk survive. Pikiran mereka sampai blurrr sehingga pada puncaknya, disuruh ngitung pun udah gak bisa lagi. Di situlah mulai dicecoki dengan doktrin-doktrin sampah versi mereka.

Jangan harap mau sukses dan besar di nusantara kalo gak dekat dengan militer. Militer selain ada manfaatnya buat "bela negara" kalo diserang bangsa lain, ternyata juga bisa dimanfaatin sebagai centeng. Gak usah heran kalo Polisi dan Militer berantem melulu. Para tikus-tikus kecil itu biasanya pada ngerebutin lahan jadi centeng di diskotik, klab malam dll. Kasian militer tingkat kopral yang gajinya ngepas, tinggal di rumah seperti gubuk dan kalo sudah pensiun harus digusur oleh institusinya. Tingkat kopral cuma ngandelin gaji yang ngepas abis. Tapi kalo perang disuruh paling depan, dan kalo mati dia yang harus duluan. Beda dengan polisi yang masih bisa nyabet sana-sini. Wajarlah kalo militer marah karena cemilan mereka jadi centeng mau diembat oleh polisi yang rakus itu.

Di militer yang kaya memang perwiranya saja. Seorang teman saya, bukan main girangnya ketika ayahnya naik pangkat dari kolonel menjadi jenderal. Bukan apa-apa, itu artinya kastanya akan beda, dan sudah tentu fulus akan mengalir deras. Nama babenya terdaftar sebagai komisaris di beberapa perusahaan. Kerjakah sang babe? Gak lah, tapi cuma namanya aja yang nampang, gak kerja pun duit bisa dapat. Pas ngadain nikahan atau acara lain, gak pusing lagi, karena rekanan babenya yang jenderal, sudah pasti bakal urun saweran. Apakah nyumbang ke jenderal bisa dibilang sedekah yang ikhlas? Hmm, kalo mau sedekah ya ke fakir miskin, dan bukannya ke orang kuat yang punya otoritas dan sarat kepentingan.

Sudah jadi rahasia umum, yang selalu dibantah oleh pihak terkait, bahwa banyak cukong harus nyetor ke lalat ijo agar bisnisnya aman. Militer memang gak beda dengan preman. Mereka itu loyal kalo dikasih duit. Bedanya, preman gak punya senjata, itu aja. Jadi jangan coba kutak-katik bisnis yang pengusahanya punya link khusus ke militer. Bisa habis kita digetok nantinya. Seorang cukong di Indonesia yang kini kekayaannya bukan main, kata kabar burung dijuluki ATM-nya militer. Kalo militer kecil ada yang butuh duit, tinggal datang, pasti dikasih. Tapi ya itu, para cukong memang licik dan udah ngitung untung ruginya. Lalat ijo inilah yang memagari bisnisnya bahkan pernah memaksa rakyat digusur dari suatu wilayah yang mau dibangun sebagai sentra bisnis oleh sang cukong. Sapa sih yang gak ngeri dipanggil satu-satu sama lalat ijo dan disuruh setuju dengan penggusuran mereka.

Saat saya bertandang ke Serpong akhir tahun lalu, teman saya yang bekerja di LAPAN Serpong bercerita bahwa tetangganya ada yang ngungsi dan kabur dari kampungnya sendiri. Mereka itulah tokoh masyarakat yang dituduh dibalik demo menentang militer dalam sengketa tanah di sana. Malam-malam, tetangga persis sebelah rumahnya dikepung oleh pasukan bersenjata lengkap. Teman saya yang ilmuwan bingun dan keluar rumah, tapi malah disuruh masuk dengan kasar. Tetangganya itu pun diculik dan besoknya pulang dengan wajah gak berbentuk, sampai akhirnya lebih memilih untuk "menghilang".

Yang namanya militer memang bertindak atas nama instruksi. Apa pun jadinya, kalau itu adalah instruksi dari atasan, ngebunuh pun gak masalah. Melihat tindak tanduk mereka, patutlah disangsikan bahwa mereka mengenal apa yang namanya Tuhan. Lihatlah cara penanganan mereka terhadap para pemrotes, gak cuma di Myanmar, tapi juga di negeri kita dan belahan dunia lainnya. Entahlah apakah yang namanya militer itu diajarkan yang namanya humanisme. Tapi yang pasti, kata teman saya yang pernah kuliah bareng anggota militer, otak para perwira yang dikirim belajar di universitas memang bagus, tapi wawasannya sempit dan memalukan.

Kalo menilik perilaku mereka di kehidupan sehari-hari, sudah terlalu banyak cerita tentang arogansi mereka. Saya sendiri jengkel habis lihat mobil berplat militer dengan seenaknya nyerobot jalur busway tapi didiamkan oleh polisi. Giliran kita yang sipil, langsung ditilang. Bapak yang mengantar saya pun, pernah disuruh turun dari mobil, dan mau ditembak oleh orang yang pakai jaket militer, karena dia ngerasa gak dikasih jalan pas lagi macet di Jakarta. Untungnya Bapak itu saya tahan dan gak bolehin turun mobil. Biar saja orang itu malu dulu diliatin orang banyak. Paling gak otaknya jalan dulu, dan gak main hakim sendiri tanpa ngeliat masalah yang sebenarnya. Di email-email juga sudah sering, orang-orang cepak seneng gamparin rakyat kecil tak bersenjata. Suatu bentuk arogansi yang memuakkan.

Andai negara dipegang militer, memang rusak pada akhirnya. Myanmar yang dulunya termasuk dihormati di dunia, bahkan Sekjen PBB yang ketiga, yakni U Thant (1961-1971) adalah orang mereka, bisa begitu tenggelam semenjak dikuasai militer pada tahun 1962. Indonesia memang keliatan pembangunannya jalan, tapi ternyata utangnya gede dan dikorupsi habis-habisan. Deal untuk pengolahan tambang pun selalu dibodongin, pengelolaan ini itu banyak yang gak becus, dan itu bukan apa-apa, karena jabatan terkait tidak diisi oleh orang yang kapabel, melainkan oleh mereka yang punya embel-embel militer.

Jangan pernah sekali lagi memberikan kekuasaan kepada militer, kecuali kita sudah memastikan bahwa kekuatan mereka sudah kita pasung. Memang gak semua militer jelek, yang bagus pun banyak. Bahkan Presiden kita pun dari militer, karena memang setelah "dijajah" militer 30 tahun, sipil belum lagi mumpuni untuk menangani negara. Kedisiplinan dan ketegasan militer lah yang justru diperlukan untuk mengatur negara yang serba bebas. Kondisi quo seperti sekarang sudah lumayan. Militernya sudah terpasung dan terus diawasi, meskipun boleh saja mereka jadi pucuk pimpinan tertinggi.

Gak ada maksud pribadi di sini untuk menjelekkan militer. Toh mereka juga bagian dari bangsa kita yang bermanfaat untuk membela negara dari serangan musuh. Toh kita masih lebih percaya untuk dipimpin militer, meski kita harus mengawasai mereka lebih sering. Namun yang hendak diingatkan di sini, janganlah sekali-kali militer diberikan kekuasan penuh memerintah seperti layaknya nasib kita dulu, nasib orang Myanmar atau nasib rakyat Thailand dll. Bersyukurlah bahwa Allah Maha Baik, sehingga ketika terjadi chaos di tahun 1998, militer tidak melakukan kudeta militer, dan sang Panglimanya legowo untuk tidak mengambil alih pemerintahan. Salut dengan ucapan beliau yang menolak kudeta militer dengan alasan itu akan tercata di sejarah dan bakal terjadi berulang lagi di kemudian hari. Apa jadinya yahh andaikan saat ini Pemerintah kita adalah militer. Gak tau deh, bisa-bisa nulis begini saja dicekal pulang ke tanah air.

Whatever lah, yang pasti bersyukurlah kita karena cengkeraman militer sedikit banyak sudah berkurang dari kehidupan sehari-hari kita. Ini nikmat yang paling dahsyat yang sangat harus kita syukuri dan tak ternilai harganya. Jangan lagi, sekali lagi, memberi chance kepada militer murni untuk menguasai negeri kita tanpa dipasung kaki dan tangannya. Semoga yang merasa militer juga sadar diri akan arogansi mereka yang suka main kepruk kepada orang sipil. Apa yang terjadi di Myanmar saat ini bisa menjadi pelajaran bagaimana hancurnya suatu bangsa di bawah kekuasaan militer. Cukup sudah 30 tahun kita di bawah mereka, dan itu gak boleh ada lagi dalam kamus kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia.

Maaf kalau tidak berkenan.

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Perjanjian ekstradisi gagal karena kita macan ompong

Posted: 22 September 2007

Assalaamu 'alaikum,

http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/indexphp/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/21/time/204050/idnews/833033/idkanal/10

Hmm, dasar kiasu jiran nan mini ini. Ketauan kan siapa yang sesungguhnya berkuasa di jiran ini? Jelas ternyata kini Singapore memang gak punya itikad baik untuk menyetujui Perjanjian Ekstradisi (ET). Indonesia meminta ET berlaku surut 15 tahun ke belakang. Namun Singapore menginginkan ET hanya berlaku mulai saat ini. Bukan apa-apa pada kurun waktu 1997-2001, begitu banyak aset bangsa yang dilarikan oleh bajingan tengik ke negeri singa ini. Nilai BLBI itu mencapai ratusan trilyun, dan kini aset milik orang kita pun di jiran ini jumlahnya ditenggarai lebih dari 800 trilyun rupiah, dan itu lebih banyak daripada APN kita yang cuma 700 trilyun rupiah.

What to do? Herannya kita masih seperti gak berdaya terhadap mereka. Aset-aset perusahaan kita masih saja trus diobral ke mereka. Indonesia kini sepertinya cuma nama besar keberatan jumlah penduduk saja. Taringnya sebagai macan sudah ompong, hingga negeri liliput pun berani-beraninya ngelunjak. Susah yah. Trus gimana dong? Agaknya impian membawa pulang aset bangsa yang kabur memang cuma jadi angan-angan belaka. Bahkan belum lama ini, malah si gang Riyadi itu cari muka dengan nyumbang 200 milyar ke salah satu universitas negeri singa ini. Memang sih duit-duit dia, dan dia lagi cari muka kepentingan bisnis. Namun non sense banget rasanya sementara uang itu banyak yang dia keruk dari negerinya sendiri yang punya banyak gedung sekolah hampir runtuh.

Speechless. Jadi ingat lagu Mars-nya Jak Mania, yang berbunyi: Ayo Persija, Macan Kemayoran, tunjukkan taringmu, taklukkan lawanmu Kami the Jak Mania selalu mendukungmu, Persija, Persija Juara.

Seandainya kata Persija bisa diganti dengan kata Indonesia, dan kata the Jak Mania diganti dengan kata rakyat nusantara, dan taringnya benar-benar taring yang ditakuti, indah sekali rasanya, karena kita akan dihargai dan dihormati oleh bangsa lain, dan bukannya selalu dilecehkan, bahkan oleh sebuah negeri liliput.

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Setengah harga di midnight takbiran Geylang Serai

Posted: 22 September 2007

Assalaamu 'alaikum,

Buat yang gak pulang kampung saat lebaran nanti, saat malam takbiran lewat pukul 12 malam (midnight), janganlah lupa untuk datang ke Pasar Malam di Geylang Serai (sebelah Paya Lebar MRT Stasiun). Sudah jadi rahasia umum, bahwa pada malam itu, kebanyakan barang-barang yang dijual akan didiskon sampai 50%, terutama pakaian dan makanan. Yahh daripada gak kejual, apalagi kalo yang jual adalah penjual dadakan dan gak punya tokonya sendiri yang permanen. Makanan sekalipun kue, kalo gak kejual, boleh jadi bakal basi, boleh jadi dirubung semut, boleh jadi pula rasanya dah gak enak, karena memang ada expiry date-nya. Kalo baju, ya gak up to date lagi dong nantinya. Barang lain, seperti mainan anak pun, atau barang-barang kelontongan, biasanya juga dijual murah.

5 tahun lalu, saat masih ngebujang, dan tinggal di Geylang Serai, saya ngebuktiin sendiri. Pas midnight keluar ke pasar malam, dan memang aje gileee, orang menyemut dimana-mana. Ini orang satu Singapore datang kali yeee, tukas saya dalam hati. Walau sempat juga terpikir, dasar orang sini bokis berat, maunya nunggu diskon setengah harga pas menjelang hari raya. Kasian juga pedagangnya, gimana doi mau untung gede kalo kayak gini. Ahh, persetan deh, yang pasti lumayan waktu itu bisa dapat banyak makanan dan barang murah dengan diskon yang lumayan.

Itu 5 tahun lalu lho, gak tau kalo sekarang gimana. Apa udah berubah gitu? Ada yang punya pengalaman sejenis? Saya gak tau lagi up to date info-nya, soale kini, saban lebaran pasti balik ke Jakarta. Seenak-enaknya lebaran di negeri orang, tetap saja lebih enak lebaran di negeri sendiri. TANYA KENAPA.

Ngomong-ngomong tentang lebaran, kadang saya gak habis pikir, kenapa yah orang Jakarta pada maksain pulang kampung. Yang gilee, ada yang naik motor dari Jakarta sampai Yogya, Semarang dan Surabaya. Yang naik kereta, dah kayak ikan sarden di kaleng, numplek jadi satu, bahkan sampai gak dapat duduk. Yang naik bus, wuihhh kagak kebyang macetnya brur. Coba deh, ente kebagian berdiri di tengah bus, dan jalan macet total, sedang ente kebelet pipis, piye toh? Naik mobil pribadi juga bisa-bisa tuh betis jadi mirip punyanya tukang becak. Naik pesawat, sami mawon, dan bandara rame kayak pasar.

Anyway, selamat mencoba suasana midnight di Pasar Malam Geylang Serai. Semoga masih banyak diskon gede-gedean sampe setengah harga.

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Beda lagi, Idul Fitri tahun 2007

Posted: 22 September 2007

Assalaamu 'alaikum,

http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/indexphp/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/20/time/075105/idnews/832131/idkanal/10

Insya Allah tahun ini Idul Fitri-nya bakal beda lagi di tanah air. Muhammadiyah sudah mengumumkan bahwa Idul Fitri mereka adalah pada hari Jumat, 12 Oktober 2007, dan ini berdasarkan perhitungan Hisab mereka. Itu artinya Muhammadiyah akan puasa hanya 29 hari saja. Sedangkan di kalender kita, Idul Fitri sudah tertera jatuh pada hari Sabtu, 13 Oktober 2007, dan hari puasa kita akan berjumlah 30 hari. Biasanya NU dll, yang mengikut pada sistem Rukyat, Idul Fitrinya selalu sesuai dengan kalender dengan insist bahwa hilal di akhir Ramadhan tidak keliatan. Sepanjang sejarah, Pemerintah juga tidak pernah berbeda Idul Fitri-nya dengan kalender kita.

Coba deh bayangin kalo Idul Fitri beda ama kalender, apa gak gede tuh efeknya brur. Jadwal protokoler Presiden dan pejabat negara akan berubah, hari kerja akan berubah, semua jadwal yang sudah rapi baik dari perusahaan maupun negara jadi kacau nantinya. Apalagi di Singapore yang mayoritas bukan Muslim tapi Idul Fitri juga diliburkan juga. Apa jadinya kalo MUIS mengumumkan Idul Fitri lebih cepat sehari dibandingkan tanggal merah pemerintah dan kalender? Emang bisa gitu yang Wong Melayu dan Muslim rame-rame mendadak minta libur demi Celebration Eid Fitr?

Hidup di jaman modern memang complicated, dan kepastian akan waktu adalah suatu kebutuhan. Masalah beda Idul Fitri sudah masalah klasik dan gak akan pernah habis karena memang masing-masing pihak sangat keukeuh dengan prinsipnya dalam menentukan Hari Raya. Biarin deh, asalkan pada akur semua aja. Gak lucu kan, gara-gara beda Idul Fitri pada saling sebel-sebelan? Alhamdulillah so far di nusantara semuanya akur-akur saja. Yang saya tau, konon di negeri lain yang berhak menentukan kapan Idul Fitri adalah pihak Pemerintah, dan keputusan itu bersifat mengikat semua orang dan lembaga. Jadi gak ada tuh ormas yang mengumumkan sendiri versi mereka. Kepatuhan kepada Pemerintah adalah suatu kebutuhan juga.

Sampai kapan yah, sistem penanggalan Islam akan eksis dan baku, gak terombang-ambing seperti ini? Walau kini tingkat toleransi agak tinggi, dan perbedaan gak terlalu dimasalahkan, lantasan kenapa gak ada terobosan pemakaian teknologi untuk menentukan hari dan bulan? Upaya pemerintah kita untuk meng-online kan Rukyat adalah suatu yang patut diacungi jempol. Dengan kemajuan teknologi, kemajuan perhitungan di matematika, serta adanya teleskop bahkan yang nagkring di luar angkasa, sesungguhnya tidak lah sulit untuk menentukan kalender Islam. Namun, seberapa besarnya teknologi itu boleh diaplikasikan ke dalam agama? Bukankah gak sedikit orang yang stick, pokoknya kalo dibilang lihat hilal, dengan mata telanjang, ya tetap gak boleh pakai teleskop, karena aturannya gitu. Aturan adalah aturan.

Wew, kebayang kah anda andaikan anda pakai kalender Qomariah (Lunar Calender), lalu mengadakan hajatan, semisal ditentukan tanggal 10 Syawal, eeee tiba-tiba jumlah hari Ramadhan berkurang atau bertambah, sehingga harus ada perubahan jadwal? Weww, kacau semua dong. Tapi kalo dibilang seperti ini, ada pula nanti yang berkomentar, masak sih urusan dunia lebih dipentingkan dan kenapa urusan dunia gak bisa disesuaikan? Nah lho repot lagi kan?

Ya lah, yang penting akur aja. Biarin aja beda prinsip, dan kita bisa memilih sesuai dengan keyakinan kita, dan kita punya dasar untuk memilih keputusan itu. Akhirnya, pada hakikatnya, ibadah individu itu akan berpulang pada pertanggungjawaban langsung yang bersangkutan kepada sang Khalik. Kalo yang nentuin tanggal ternyata salah pakai dasar, ya biarlah dan itu tanggung jawab dia kepada Yang maha Kuasa. Hmm, ada chance dong puasa cuma 29 hari aja? He he. Biarinlah, udah biasa tiap tahun kayak gini. Alhamdulillah kita semua sudah dewasa dan akur, paling tidak untuk tidak meributkan masalah tanggal ini menjadi ke arah krisis umat. Walau begitu solusi akan ketepatan dan kepastian Lunar Calender yang diadopsi oleh kalender Hijriah masih ditunggu. Dan ini bukan berarti kepentingan duniawi lebih jauh dimasukkan ke dalam urusan peng-kalenderan yang erat kaitannya dengan ibadah tertentu.

Hanya sebuah opini. Ada yang punya pendapat lain?

Wassalaam,
Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

The special one is simply the best

Posted: 22 September 2007

Assalaamu 'alaikum,

http://www.cfcnet.co.uk/content/results_detail.asp?ID=6680

The special one, is simply the best. Ini nih ada video tentang Jose Mourinho. Sayang juga, EPL kehilangan one of the most entertaining manager in their history. Mourinho memang meninggalkan kenangan bagi banyak orang, gak cuma buat fans Chelsea saja. Dia pun pernah disebut enemy of football, dan dengan sombongnya pernah berucap semua tim kepengen Chelsea kalah.

Walau belum pernah meraih mahkota Liga Championsbersama Chelsea, prestasi membawa Chelsea menjadi pertama kali juara dalam 50 tahun terakhir, membawa 6 tropi ke Stamford Bridge, plus finalis beberapa turnamen serta satu dari sedikit klub yang mampu berturut-turut menjuarai EPL, adalah sesuatu yang luar biasa. Dari kelas kambing, Chelsea tumbuh menjadi tim besar yang disegani, sekaligus "dibenci" oleh banyak orang sebagai the rising star.

Kata Jose, Chelsea memang tak perlu seorang superstar. Di Chelsea hanya boleh ada seorang superstar dan dia lah sang superstar itu. Hanya Jose lah yang bisa mengubah kondisi di Chelsea. Di EPL memang ada banyak manajer besar. Yang terbesar adalah Alex Ferguson dengan rentetan prestasinya. Arsene Wenger punya taktik yang demikian brilyan, sehingga dengan tim muda tanpa bintang pun Arsenal tetap sulit ditaklukkan. Rafa dengan Liverpool nya masih menunggu pembuktian bahwa mereka bukan hanya tim turnamen yang pernah untung menang di liga Champions. Tapi the most entertaining one masihlah tetap Jose.

Sayangnya, memang owner-nya yang orang Yahudi Rusia itu berkehendak lain. Weew, aye cabut nih jadi fans Chelsea. Dulu mendukung Chelsea karena faktor Mourinho. Pede nya gila abis, otaknya brilyan, taktis walau kadang pragmatis. Cara dia menanamkan Pede dan konsep bola memang unik dan yahud. Tapi kini Mourinho dah gak ada lagi, lantas buat apa Chelsea didukung lagi? Apalagi Chelsea bakal balik jadi tim kelas dua. Memangnya enak mendukung tim yang bakal kalah melulu. Ditambah lagi penggantinya adalah seorang Yahudi tulen, si Avram Grant, sobat dekat si Abramovic.

Di sepakbola memang gak boleh ada racist. No racist in football begitu katanya. Tapi aye gak suka aja denger yang namanya Israel atau Yahudi, sekali pun itu di dunia football yang gak kenal dan gak boleh ada rasis. TANYA KENAPA. Apalagi kini si Israel itu datang mendepak favorit aye, wahh tambah tiada maaf bagimu dehh. Dari mendukung bukan lagi berbalik menjadi tidak mendukung, tapi malah jadi gak suka. Yaaa gak suka dengan kelakuan sang owner yang seneng cawe-cawe sana-sini, dan gak suka karena si Yahudi bajigur itu entah kenapa tiba-tiba menjadi manajer baru Chelsea.

Anyway whatever lah, ini kan part of the game. Nikmatin aja. Barangkali si Jose hilang, muncul lagi sosok menghibur baru yang lain. Barangkali si Jose tiba-tiba muncul lagi di EPL atau liga lain, kan lumayan tuh pemberitaan tentang bola jadi menarik kembali. Yahh, kita lihat saja nanti. Namanya juga permainan kok.

The Special One is truly simply the best. Thanks for the Memories, Jose.

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com/
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Bye bye Mourinho, ex manajer Chelsea

Posted: 21 September 2007

Assalaamu 'alaikum,

http://www.detiksport.com/ligainggris/index.php/home.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/20/time/103507/idnews/832244/idkanal/72

Bye bye Mourinho si mulut besar. Pelatih kepala dari Chelsea ini akhirnya terpental setelah beberapa hasil yang kurang memuaskan dalam 3 pertandingan belakangan ini. Perseteruannya dengan owner Chelsea, Roman Abramovich memang pangkal dari segalanya. Prestasinya sebenarnya gak jelek, pertama kali dalam 50 tahun, Chelsea berhasil merajai EPL. Dalam 3 tahun kepemimpinannya sudah 7 tropi diraihnya. Chelsea dari klub kelas kambing pun bisa naik kasta berkat jasanya.

Bye bye dah Mourinho. Padahal pelatih yang sering berkata nyelekit ini yang paling ditunggu komentarnya. Sayang juga, padahal ini sisi lain yang menarik dari EPL. Perang kata-kata dia dengan manajer lain jadi bumbu liga paling menarik di dunia. Anyway, bye bye dah Mourinho. Siapakah calon penggantinya? Siapa pun penggantinya, banyak pihak yang akan selalu merindukan kehadiran Mourinho.

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Email gempa besar yang hoax

Posted: 21 September 2007

Hmm, IMHO, email tentang gempa besar 9 skala Rotcher yang bakal melanda nusantara, adalah tergolong "hoax". Cuekin aja brur.

Di sekitar Sumatera itu memang ada patahan akibat tubrukan lempeng Eurasia dengan lempeng Australia. Setiap gerakan baik berupa gesekan dan tubrukan memang akan berpotensi menimbulkan gempa. Tapi yang namanya gempa bumi itu adalah satu-satunya bencana alam yang gak bisa diramalkan kapan tepat datangnya, bahkan orang Jepang sekali pun, yang kenyang digoyang gempa dan studi mendalam semenjak dulu, masih tak mampu meramalkannya.

Tahukah anda, di Tokyo pernah ada Big Eartquakes pada tahun 1923 dengan 140 ribu orang yang wafat? Menurut teori setelah itu akan datang lagi Tokyo Big Earthquakes. Tapi sudah 70 tahun ditunggu, ternyata gempa itu gak kunjung datang. Nyatanya justru di tahun 1994, malah yang tak terduga, yakni Kobe Big Earthquake justru malah datang.

Kenapa gempa bumi sulit ditentukan kepastiannya? Karena memang cakupan wilayahnya terlalu luas. Untuk meneliti secara detail pergerakan itu, haruslah dibangun stasiun pengamatan dalam rentang jarak yang pendek. Apakah itu mungkin? Jawabnya tidak. Dan lagi gerak lempeng bumi adalah tergantung dari "fluida" di dalam bumi, dimana lempeng bumi ini "terapung", sementara "fluida" bumi ini hanya mampi dikaji secara dugaan karena kita tak bisa melihat apalagi menyentuhnya.

Sekarang coba kita telaah, adakah untungnya buat kita menebar berita bahwa segera terjadi gempa bumi yang akan menghancurkan Sumatera? Secara ilmiah ini gak berdasar, karena waktu kapan datangnya juga gak pasti. Apakah kita mau dicekam ketakutan akan sesuatu yang belum pasti kapan terjadi? Kiamat itu suatu keniscayaan, lantas apakah hari-hari kita harus menggigil karena berpikir besok kiamat pasti datang? Menebarkan paranoia seperti ini yang gak berdasar malah kontra efektif dan menambah kesusahan masyarakat saja. Masyarakat kita masih banyak yang belum tinggi pendidikannya, jadi begitu ada berita, langsung saja disambar tanpa pernah dan mau mengkaji terlebih dahulu.

Yang ridiculous, si pembuat tulisan menuduh Pemerintah coba menutup-nutupi. Aneh banget, ini mah gak ada hubungan dengan Pemerintah. Tugas pemerintah adalah justru memberikan ketenangan pada masyarakat. Karena itulah ada yang diangkat dan dinamakan Pemerintah. Apa yang diprediksi oleh CNN hanyalah prediksi yang bentuknya eksposisi. Tapi jeleknya distir dan ditunggangi oleh sebagian kalangan, yang entah dengan motif apa malah mau bikin paranoia. Pandirnya lagi kita semua malah berlomba menebarkan hoax ini. Barangkali saya pun termasuk pandir karena mengomentari hoax, dimana mengomentari sampah begini adalah useless dan meaningless.

Tapi please deh ah, just ignore email sampah seperti di bawah itu. Gempa Bumi adalah Kuasa Allah, gak ada yang mampu mencegahnya. Kalau terjadi ya terjadilah. Kenapa harus ditakuti, pikirkan dong gimana kita supaya efektif bisa saling membantu korban, bukannya malah menebarkan hoax yang gak ilmiah. Suatu tulisan itu bisa bagus atau gak, tergantung redaksiya. Kalau dipaparkan ekposisi secara ilmiah, itu akan jadi pengetahuan. Tapi kalo dibarengi ancaman, itu akan jadi sampah.

Just treat email di bawah, kalaupun benar, sebagai pengetahuan. Tapi kata-kata sampahnya gak perlu kita pusingkan atau pikirkan. Susahnya orang kita, bukannya ngasih solusi malah menakut-nakuti. TANYA KENAPA.

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Referensi tentang Jatiluhur

Posted: 21 September 2007

Assalaamu 'alaikum,

Luas Jatiluhur adalah 8300 hektar dan bukan 830 hektar. 8300 hektar itu sama dengan 83 km2. Dengan ketinggian air rata-rata 100 m, volume airnya total kira-kira 8,3 milyar m3 atau 8,3 trilyun liter. Andaikan waduk ini jebol, dengan asumsi seluruh air hanya tumpah ruah di Jakarta, maka Jakarta yang segede Singapore dengan luas 600 km2 dan dianggap seluruh permukaannya ada flat (rata), maka seluruh Jakarta seluas 600 km2 itu akan tenggelam 14 m. Apabila ada lembah di Jakarta, maka lembah itu akan jadi danau. Jakarta boleh jadi akan terhapus dari peta dunia nantinya.

Begitu kira-kira gambaran betapa banyak volume air di situ. Ini juga jadi gambaran begitu kokohnya dinding waduk. Dalam referensi di Wikipedia, disebutkan Waduk itu dibuat dengan bantuan ahli Prancis. Saya lihat 6 turbin di PLTA Juanda memang bernama Prancis, namun di prasasti Jatiluhur ditulis dibuat dengan bantuan ahli Italia. Daya terpasang pada 6 turbin adalah 187 MW dan memproduksi 1000 kWH per tahun.

Sebagai perbandingan PLTN Muria yang masih wacana punya daya 1000 MW. 10 tahun lalu saya pernah berkunjung langsung ke sebuah PLTN di Kagoshima. Luasnya cuma "secuprit" tapi daya yang dihasilkan sudah ratusan kWH. Di situ saya baru ngeh bahwa nuklir gak sekejam seperti bom atom Hiroshima dan Nagashima, yang monumen kenangannya juga pernah saya kunjungi langsung 10 tahun lalu. Melainkan manfaatnya juga luar biasa, dan mungkin menjadi satu-satunya energi alternatif puluhan atau ratusan tahun ke depan. Semua reaksi inti di bintang dan matahari adalah reaksi fusi nuklir (penggabungan inti atom ringan). Manusia kini baru hanya mampu membuat reaksi fisi nuklir (pembelahan atom berat).

Reaksi fusi jauh lebih luar biasa dan tenaga yang dihasilkan pun jauh lebih hebat, karena bahan bakarnya yakni atom helium dan hidrogen tak tebatas jumlahnya. Secara tak langsung sebenarnya Allah SWT telah mengajarkan dan memberi petunjuk pada manusia bahwa energi tak terbatas itu namanya nuklir dan diperlihatkannya langsung melalui bintang-bintang di jagat raya, termasuk matahari kita.

"Gun" alias senjata memang gak ada yang salah, yang salah adalah the Man behind the Gun. Nuklir itu sisi jahatnya adalah bom nuklir, dan sisi jahatnya adalah PTLN. Jadi nuklir itu bisa jadi jahat tapi bisa juga jadi baik. Sayang yang saat itu gaung hebatnya terdengar adalah sisi jeleknya, utamanya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Kalau memang yang salah di rencana PLTN kita adalah SDM kita beserta sifat korup bangsa, maka itu yang harus diperbaiki dan bukan energi nuklirnya. Kalo kaki yang lecet, janganlah kepala yang dipijat. Walau barangkali semuanya masih menunggu timing agar kita bisa mengerti mana yang manfaat mana yang mudharat dengan akal pikiran yang kita miliki. Tentunya juga nunggu timing kapan kita perlu PLTN dan apakah saat ini sudah waktunya?

Anyway, yang pasti keperluan akan energi besar di masa depan adalah sebuah keniscayaan.

BTW, Referensi sedikit tentang Jatiluhur adalah sbb:

http://id.wikipedia.org/wiki/Waduk_Jatiluhur http://www.pu.go.id/Ditjen_SDA/ditjen_desa/warta/Nov%20Des/waduk_jatiluhur.htm

Ini salah satu kutipannya pada website PU di atas:

Membanggakan, karena pada awal pembangunannya kondisi keuangan negara saat itu yang baru memasuki era kemerdekaan sudah berhasil memulai proyek besar dengan SDM di bidang teknik yang juga masih sangat minim. Jadi, Jatiluhur merupakan proyek pengairan terbesar yang pernah dikerjakan bangsa ini dan ditangani langsung oleh teknisi-teknisi bangsa sendiri. Luhur, karena di sana terdapat bangunan-bangunan yang disimbolkan sebagai angka keramat bangsa Indonesia, yaitu 17-8-45. Ini merupakan kreasi seorang tokoh paling ber-peran dalam proyek ter-sebut, Prof. Dr. Ir. Sediyatmo.

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Pengamanan sekelas RT di obyek maha vital nasional

Posted: 21 September 2007

Assalaamu 'alaikum,

"Orang Indonesia itu baik-baik dan polos, tapi punya potensi teknologi yang mengagumkan sejak beberapa puluh tahun lalu", demikianlah kesan dan pesan saya manakala ditanya oleh Bapak yang biasa mengantar saya kemana-mana, manakala kami berkunjung ke Waduk Jatiluhur berikut PLTA-nya bulan lalu. Kalau anda pergi ke Bandung, dan punya waktu senggang, luangkanlah waktu anda untuk singgah sedikit di PLTA pertama dan kebanggaan bangsa ini.

Waduk Jatiluhur dengan PLTA Juanda-nya memang merupakan urat nadi listrik ibukota dan wilayah barat pulau Jawa. Awalnya pembangunan waduk ini ditujukan untuk mengendalikan banjir di daerah Karawang, yang merupakan lumbung padi kita. Namun akhirnya pembangunannya berkembang menjadi multi konsep, yakni untuk pembangkit tenaga listrik (PTL) dengan didirikannya PLTA Juanda dan juga PLTA Cirata, berkapasitas few hundreds MW, lalu untuk irigasi dan pengendalian banjir, selanjutnya untuk obyek wisata dan olahraga air, juga untuk pertambakan ikan air tawar dan terakhir untuk mensuplai kebutuhan air minum warga ibukota.

Tahukah anda bahwa Kali Malang itu sebenarnya adalah kali buatan untuk penyaluran air sungai untuk air minum Jakarta, dimana sungai buatan yang nama aslinya sungai Tarum Barat ini membentang dari waduk Jatiluhur dan terus turun sampai ke dekat penampungan akhir di dekat pintu air Manggarai. Kalau sungai alam di Jawa Barat itu selalu mengalir dari selatan ke utara, atau pun sebaliknya, maka Kali Malang itu menjadi satu-satunya kali yang mengalir dari Timur ke Barat. Karena memang sesungguhnya Kali Malang bukanlah buatan alam, melainkan buatan manusia. Dinamai Malang karena alirannya yang mem-"palang" aliran sungai alam lainnya. Gak sedikit orang Jakarta yang gak tau perihal asal usul Kali Malang.

Kembali ke Waduk Jatiluhur, waduk dibangun lebih dari 10 tahun, dan baru selesai pada tahun 1967 dengan bantuan teknik dari ahli Italia. Luasnya sekitar 8300 hektar atau 83 juta m2 alias seluas 8300 kali lapangan sepakbola. Ketinggian muka airnya adalah 90-120 m, dengan rata-rata sekitar 100 m. Di saat musim kemarau, pasokan air dari sungai Citarum akan berkurang, yang menyebabkan ketinggian air pun berkurang dan berpengaruh pada daya listrik yang di hasilkan. Bisa dibayangkan dengan ketinggian air waduk yang 100 meter itu, tentulah diperlukan suatu tembok raksasa yang sangat kokoh dengan kekerasan dan teknologi yang bukan main-main. Tembok bendungan utamanya pada bagian atas punya lebar lebih dari 10 meter, dan dibangun jalan aspal di situ ke tower penyalur air ke turbin.

Konon kata seorang bapak teman ngobrol saya di warung kopi di pinggir waduk itu, dimana katanya dia mengaku sebagai pensiunan pegawai PLTA itu, tembok Jatiluhur luar biasa kokoh dan kekerasan telah diuji di Amerika dengan hantaman sebesar hantaman pesawat jet tempur berkecepatan tinggi. Ini karya anak bangsa murni, tukasnya. Tembok Jatiluhur yang sederhana memang agaknya tidak main-main dalam kekokohan dan teknologinya. Suatu bukti bahwa kita memang punya teknologi yang tak kalah canggih sejak masa lampau. Jatiluhur sendiri merupakan salah satu dari Mega proyek Mercusuar, yang dicanangkan oleh Presiden kita kala itu, BK. Proyek lainnya adalah Jalan Lintas Sumatra, Jembatan Ampera, Tugu Monas, Gelora Bung Karno, Masjid Istiqlal dll. Tembok waduk dan proyek seluas 830 hektar pada tahun 1960-an, memang tergolong luar biasa. Inilah yang saya sebut sebagai "kekaguman teknologi anak bangsa".

Suatu pengalaman yang luar biasa sekaligus mendebarkan, manakala kita melongok ke dalam tower berupa tabung raksasa dari beton, tempat penyaluran air ke turbin. Bangunan berbentuk tabung ini punya diameter sekitar 40 meter. Dengan dibatasi oleh pagar hanya setinggi 1 meter, kita bis melongok ke dalam tabung beton raksasa berkedalaman 100 meter itu. Bapak driver yang mengantar saya pun, langsung ciut nyalinya dan bergetar lututnya sehingga cepat-cepat beranjak dari situ. Pagar pengaman yang cuma 1 meter untuk pemandangan mengerikan memang bisa dibilang ridicuolous. Wajarlah kalau kemudian ada beberapa orang yang bunuh diri dengan nyemplung ke dalam Waduk Jatiluhur ini.

Lantas dimana alasan bahwa orang kita baik hati, yang berkaitan dengan Waduk Jatiluhur ini? Saya hal yang bikin saya geleng kepala dan gak habis pikir, adalah pengamanannya yang super longgar. 2 tahun lalu di jiran ini, saya tinggal di ujung daerah Tampines, di sebelah Bedok Reservoir. Di situ ada bukit pasir raksasa, yang lebih tinggi dari Condo tempat saya tinggal yang sekitar 15 lantai. Bukit pasir ini megah dan luas, dan semua juga sudah tau, didatangkan dari pengerukan alam kita. Pasir di situ dipakai utamanya untuk proyek HDB atau pembangunan rumah susun di jiran. Barangkali mungkin sebagai salah satu cadangan pasir utama, gak pernah saya lihat ketinggiannya berkurang sesenti pun. Walau cuma isinya tanah luas hektaran dengan gunungan pasir, jangan harap kita bisa masuk apalagi menijau ke dalamnya.

Wilayah ini dipagari oleh pagar tinggi 3 meter dengan sign board bertuliskan Protected Area. Yang melanggar akan di"eksekusi", dengan gambar tentara menembak si pelanggar. Tumpukan pasir saja, dianggap maha penting, sehingga lihat ke dalamnya akan dihukum berat. Dianggap penting karena memang itu adalah salah satu aset negara yang harus dijaga. Demikian pula dengan pipa air minum di sini, dimana pelintasannya juga masuk restricted area, karena hal itu adalah aset maha penting negeri mereka. Lantas bagaimana dengan waduk Jatiluhur berikut PLTA-nya?

Wew, dengan pura-pura gak tau, saya sengaja main selonong ke wilayah PLTA-nya. Di pagar pintu masak, saya di stop, ditanyakan surat ijin masuk. Kata Pak Satpam surat ijin bisa didapat di bagian informasi dekat pintu masuk utama. Lalu saya bilang gak ada dan gak tau harus pakai surat ijin, tapi pengen lihat, dan minta tolong dibantu, sembari sang driver menyodorkan 5 ribuan. Apa kata satpam di situ? Wah Pak, ini ada tarifnya, kalo Bapak gak pakai surat ijin, sembari menunjuk ke tempelan di kaca. Satu orang bayar 5 ribu, jadi kalau berdua 10 ribu. Nyatanya surat ijin memang gak perlu asal kita mau bayar lagi di pintu masuk PLTA, dan ini ternyata resmi. Bedanya, kalau ada surat ijin, kita gak perlu bayar dua kali, itu aja kok.

Apakah barang dan mobil saya diperiksa? Gak ada lah cerita itu. Dengan bebasnya mobil kamu melenggang ke dalam area, lalu parkir di depan terowongan PLTA. Terowongan PLTA di kaki tembok utama agak cukup menyeramkan. Panjangnya 200 meter ke dalam, dan begitu hening sunyi senyap dan terkesan mengerikan. Di atasnya ada air dalam jumlah raksasa. Bayangkan kalo jebol saat itu, kiamatlah nyawa kita. Saya terus masuk ke dalam dengan santai, tanpa ada pemeriksaan apa pun, dan di situ saya bisa melihat turbin gede yang gedenya segede gajah ada beberapa buah. Turbin inilah penghasil ratusan Megawatt untuk keperluan listrik ibukota Jakarta, utamanya.

Saya gak kebayang, andaikan ada orang jahat, dan dia bawa bom yang sedemikian berat dan dahsyatnya. Dengan pemeriksaan selonggar itu, bom bisa masuk sampai ke dalam, dan kemudian diledakkanlah turbin beserta bendungan utama Jatiluhur. Apa jadinya nanti? Jakarta bakal gelap gulita, air bah bakal melanda dimana-mana, pasokan air minum Jakarta pun menipis dan persediaan pangan nasional terganggu karena persawahan di Karawang yang lumbung padi nasional pun tidak berfungsi akibat kurang air. Waaahh, saya gak kebayang dan itu bakal jadi bencana yang maha dahsyat nantinya. Apalagi membangun bendungan itu gak mudah. Menampung air 8300 hektar dengan kedalaman 100 meter, itu bukan perkara mudah.

Coba kita hitung sama-sama berapa volume air di situ. 8300 ha x 10.000 m2/ha x 100 m x 1000 liter/m3 adalah 8,3 milyar m3 air atau 8,3 trilyun liter air yang ditampung di waduk Jatiluhur. Kalau semua air itu tumpah ruah ke Jakarta, Jakarta yang luasnya 600 km2, dengan asumsi bahwa permukaan Jakarta semuanya adalah flat, maka secara merata akan terendam air setinggi 14 meter di seluruh bagiannya. Jatiluhur erat kaitannya dengan listrik, air minum, irigasi, tampungan air dll, lantas kenapa pengamanannya bagaikan pengamanan setingkat RT?

Bener-bener gak masuk logika, bukan? Apakah para petingginya dan petinggi kita semua gak pernah terpikir jauh seberapa pentingnya Jatiluhur dan seberapa besar dampaknya andaikan bendungan itu diganggu. Alhamdulillah sampai saat ini gak ada apa-apa, dan itu pertanda orang kita amat sangat baik. Karenanya saya agak sangsi dengan yang namanya teroris-terorisan yang keliatan "bego"nya cuma berani ngebom Hotel dan Kedubes asing. Orang kita masih baik, dan tandanya masih cinta dengan negerinya. Jangan-jangan teroris itu bukan bangsa kita atau bangsa kita yang murtad nasionalismenya.

Selepas dari situ, saya sengaja pergi bagian informasi untuk cari tau lebih banyak tentang Jatiluhur. Masih jam 2 siang boo, tapi itu kantor dah sepi. Pada kemana pegawainya? Yahh, maklum lah mereka kan pegawai negeri dengan gaji ngepas atau bahkan pegawai honorer. Susah dong diminta loyalitasnya untuk kerja keras dengan gaji ngepas. Emangnya kite volunteer, ya gak coy? Trus dengan "numpang ke belakang", saya melintasi kantor mereka. Kantor lama, yang berantakan, dan kertas berserak dimana tak terurus. Komputernya pun tahun jebot yang masih pakai FD 5 1/4 inches kayaknya. Sedih juga liat fenomena ngepasnya fasilitas, dan mungkin juga gaji mereka. Tapi apa hendak dikata, begitulah adanya, dan sayangnya banyak yang tutup mata dan tutup telinga tentang kondisi obyek vital nasional kita, bahkan mungkin bukan cuma di Jatiluhur.

Kepada mbak yang resepsionis, saya ngobrol-ngobrol. Mbaknya ramah dan senang bercanda, jadinya lumayan enak dikorek info-nya. Trus, saya todong aja, dengan bilang mbak saya pengen liat Tower dan Turbin nih, bikinin dong surat ijinnya. Ada syarat khusus gak? Si mbak cuma nyengir, sambil bilang perlu KTP aja Pak, dan uang 5000 per orang. Gak neko-neko kan? Gak ditanyain njlimet, apa motif, tujuan dll. Mungkin konsep pemikiran kita, semua orang baik, jadinya dipermudah. Kalo di jiran nan mini ini, konsepnya amankan dulu, siapa tau ada yang gak baik. Makanya konsep pengamanannya beda kali yah? Entahlah.

Jatiluhur memang obyek nasional yang sangat vital. Apalagi negeri kita sedang dilanda krisis energi ke depan. Saat ini di Jawa saja baru 70% kebutuhan listrik yang terpenuhi. Makanya jangan heran kalau listrik sering byarr peett ataupun ada pemadaman bergilir. Wong secara teknis dan data saja memang gak cukup. Orang kita pada ngamuk kalo byarrr pett. Tapi ketika didenda karena kebiasaan nyolong listrik PLN, malah balik ngamuk juga. Puyeng bener jadinya PLN, yang di saat terus merugi masih tetap berani bagi-bagi bonus serta me-mark up proyek PTL di beragam tempat. Meminta masyarakat berhemat listrik, dimana tarif listrik kita udah murah karena memang disubsidi, eee malah diketawain. Nyuruh orang hemat aja pas prime time sore hari, cuma cibiran yang didapat. Akhirnya negara memang terus nombok.

Energi listrik suka atau tidak suka memang harus dipenuhi. Kini kita pun mencari alternatif sumber daya energi. Alternatif yang paling mungkin dan futuristik adalah energi nuklir, karena ketersediaan bahan bakunya saja sampai ratusan tahun ke depan. Sekalipun andai bocor berbahaya fatal, energi yang dihasilkan luar biasa besar serta sangat efisien dan terhitung murah. Sayangnya nuklir ditentang habis, karena kita masih paranoid dengan nuklir yang dikira cuma bisa untuk ngebom kayak di Hiroshima dan Nagasaki saja. Nuklir pun difatwakan haram, LSM beserta rakyat kampung mati-matian menentangnya. Yupp, semua cuma bisa menentang tanpa bisa ngasih solusi. Kalo dibiarkan status quo kayak sekarang sementara ke depannya konsumsi listrik meningkat, byarr pett bakal sering terjadi, ujungnya rakyat marah lagi. Piye toh?

Adakah energi alternatif lain? PTL pada dasarnya memiliki prinsip yang sama. Yakni memanfaatkan fluida bergerak, baik itu angin maupun air, untuk menggerakkan turbin, dimana nantinya energi gerak akan dikonversi menjadi energi listrik. Bahan bakar, ataupun panas, dipakai untuk memanaskan air untuk menjadi uap, yang akan bergerak memutar turbin. Kalau PLTA jadi andalan, apakah mungkin di masa kini dibangun sekelas Waduk Jatiluhur yang 8300 hektar itu? Gak mungkin lah, wong orang kita kini rakus tanah. Coba deh andaikan Jatiluhur dibuat sekarang, dengan asumsi harga tanah di situ 300 ribu per meter2, maka biaya pembebasan lahan adalah 8300 ha x 10000 m2/ha x 300 rb = 24,9 trilyun rupiah! Itu baru biaya pembebasan lahan, dan belum termasuk biaya konstruksi yang harus ngeduk waduk, mindahin tanah dll. Belum lagi, kalo tiba-tiba rakyat demo minta harga tanahnya jadi 1 juta perak sambil nge-blokir proyek itu. Pembangunan terhenti dan biayanya naik habis-habisan. Mampuslah dikau Pemerintah.

PLTA jelas musykil. Kalo pakai batu bara di PLTU, ini kan mengotori lingkungan dan berefek pada global warming, nanti diportes dunia. Kalo pakai minyak di PLTU, subsidi minyak gede, kita bakal tekor, dan cadangan energi fosil cuma tinggal puluhan tahun dengan konsumsi yang sekarang. Tenaga panas bumi, dayanya kecil, tapi investasinya gede karena sulit. Mana ada investor yang tertarik. Tenaga angin? Angin kira kecepatannya masih di bawah 5 m/detik, mana bisa muterin kincir raksasa kayak di Belanda yang anginnya punya kecepatan 8 m/detik. Bio fuel aja deh? Nanti orang pada ngamuk, itu tebu kan buat makanan dan bukan buat dibikin bahan bakar. Tenaga matahari? Masih limited teknologinya dan mahal, serta saat ini dayanya juga kecil? Kalo PLTA juga tergantung pasokan air hujan, yang kini gak tentu. Tenaga ombak? Nah ini katro lagi, karena beda volume udara penggerak turbin pada PTL ombak kecil, jadi energi juga kecil. Kalo gas, sami mawon, subsidinya gede di domestik, lebih untung dijual aja ke LN. Jadi apa dong? Ya gak ada lah dan gak tau, wong kita cuma bisanya ribut dan ngeramein tanpa pernah ngasih solusi yang jelas.

Taukah anda, minggu lalu, Bangladesh, negeri berpenduduk 140 juta jiwa yang maaf, rakyatnya miskin, ribut melulu serta biang korup, telah mengumumkan akan membangun PLTN yang dijadwalkan finish pada tahun 2015. Mereka akan menggandeng Rusia untuk mewujudkannya. Bukan apa-apa, hal ini dipicu setelah tahun lalu banyak terjadi kerusuhan massal akibat rakyatnya ngamuk dengan byarr pett karena konsumsi listrik tak sebanding dengan pasokannya. Bangladesh, yang maaf, keliatannya lebih jelek dibandingkan kita, ternyata punya nyali dan berani memakai PLTN. Kalo kita, rasanya masih susah dengan pro kontra yang ada, karena kita kuatir dengan kapabilitas SDM kita dan sikap mental korup yang sudah mendarah daging di sini. Tapi kalo kita terus berburuk sangka kepada bangsa sendiri dan gak pernah positive thinking bahwa mereka mampu dan bisa, lantas, kapan majunya kita? Yang penting, untuk urusan energi adakah solusinya?

Semuanya serba mbulet untuk hal energi dan memang gak ada penyelesaiannya. Jatiluhur yang termasuk pemasok terbesar listrik kita, tetaplah jadi andalan. Walau sangat sangat vital, kenapa pengamanannya masih sekelas Siskamling RT? Bukit pasir di Singapore aja yang kalo kita acak-acak gak ngaruh apa-apa mesti harus dijaga luar biasa ketatnya, lantas kenapa Jatiluhur yang sebegitu vitalnya gak pernah dipikirkan vitalitas serta efeknya andaikan terjadi sesuatu padanya? TANYA KENAPA. Bukankah pencegahan dini lebih baik daripada penyesalan di kemudian hari. Wahh bener-bener gak habis pikir, dan bisa gila kalo memikirkannya. Tapi biarin aja, udah jadi kebiasaan kita untuk stick to status quo. Nanti kalo ada apa-apa barulah pada heboh selangit dan saling tunjuk hidung. Kebiasaan buruk yang gak pernah hilang dan gak pernah dikapoki.

Hanya sebuah sharing opini. Ada yang punya opini lain? Maaf kalau gak berkenan.

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Menurut PBB, Soeharto penjarah terbesar

Posted: 19 September 2007

Assalaamu 'alaikum,

Dari milis jiran, fresh news, menurut PBB, Pak Harto penyolong terbesar di dunia ini dengan
rekor jarahan senilai USD 35 billion (sekitar 300 trilyun rupiah). Hmm, jangankan Pak Harto, anaknya pun juga kaya abisss. Istri pertama dari si Bambang, anaknya Pak Harto, mengajukan hak sita atas harta Bambang yang jumlahnya sekitar 30 trilyun rupiah! Hebatt yah, 30 trilyun itu nol nya berapa yahh. Yang untung mah si bini mudanya. Modal "ngangkang" doang udah bisa punya rumah milyaran di Simprug dan harta trilyunan. Lelaki memang lemah terhadap makhluk hawa, atau memang si Bambang aja yang bego, udah gak pernah kuliah, "main perempuan" aja kagak bisa, gak kayaknya adeknya, si Tommy. Uupps, sorry puasa-puasa kok ngomongin orang secara "kasar".

Anyway, nikmat terbesar oleh Allah SWT terhadap bangsa kita memang nikmat kebebasan, walau sayang kadang kita jadi kebablasan dengan apa yang namanya demokrasi dan HAM itu. Sayangnya lagi belum diikuti dengan perbaikan tingkat kesejahteraan secara general serta pemerataan pendapatan. Makanya, sekalipun Pak Harto "ngerampok" dan "real diktator", beliau tetap eksis dan dimaafkan serta tetap berkesan namanya di hati banyak orang kita.

Pembangunan yang mengutamakan sandang pangan papan di masa beliau lebih terasa ke lubuk hati orang kita. Jangan heran acap kali kita ke Jakarta, gak sedikit orang yang berseloroh, enakan jaman Pak Harto dulu, sandang pangan dan papan terjamin. Kini sudah reformasi, KKN tetap aja jalan, malah makin tamak. Rakyat kebanyakan taunya sandang pangan papan tercukupi, peduli amat dengan siapa yang memerintah. Mereka cuma obyek perahan dan pemanfaatan, entah siapa pun penguasanya. So piye toh?

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Lampu merah tapi jalan kosong, menyebrangkah anda?

Posted: 19 September 2007

Assalaamu 'alaikum,
Ketika anda mau menyebrang jalan, sementara lampu penyebrangan untuk pejalan kaki masih menunjukkan warna merah, sedangkan jalan di depan anda adalah kosong melompong, apakah yang anda lakukan? Menyebrang bak "slonong boy" meski lampu maih merah, tapi yang penting selamat, ataukah tetap patuh dan setia menunggu sampai lampu berwarna hijau, meski kesannya jadi kayak orang "oon"? Yang mana kira-kira yang kita lakukan?

Kalau kita tanyakan hal itu kepada orang Singapore, dan juga orang negeri tropis lainnya, seperti orang kita sendiri, maupun Malaysia, umumnya jawabannya adalah "menyeberang lahh". Ini kejadian saban sore yang saya alami di Upper Paya Lebar Road. Wew, kalo jalan kosong melompong, meski lampu masih merah, rame-rame pada nyebrang. Di Jakarta, malah kadang lebih ekstrem lagi. Meski ada jembatan penyebrangan, mereka pada milih nyebrang di bawah kolong. Alasannya, males jalan kejauhan apalagi harus naik-naik jembatan. Capekk Deeh. Sempet dulu di jalan protokol diperlakukan hukuman push up oleh polisi kepada para pedestrian yang bandel. Tapi tetep aja, dah dasarnya gitu dan pada gak kapok-kapok. Ada polisi pada patuh, gak diawas, emang gue pikirin, jadi pada suka-suka lagi.

Tapi seandainya pertanyaan di atas kita tanyakan kepada orang Jepang, besar kemungkinan jawabannya adalah mereka akan menunggu sampai lampu hijau, dan barulah menyebrang. Orang Eropa besar kemungkinan akan senada jawabannya dengan orang Jepang. Saya pernah tanyakan ke beberapa teman. Ada yang jawab, cuek aja dan menyebrang. Apa alasannya? Dalihnya kita harus berpikir fleksibel, dan selalu cermat melihat situasi dan kondisi. Kalau ada peluang, mengapa tidak disambar. Toh inti dari berlalu lintas itu adalah kita semua selamat. Nah kalo kita sudah pastikan bakal selamat dengan tindakan kita, karena jalan kosong melompong, mengapa kita tidak menyebrang saja? Aturan lampu merah itukan hanyalah fasilitas untuk menyokong inti aturan yang berupa keselamatan itu.

Tapi ada juga yang menjawab, tetap harus menunggu. Alasannya, peraturan adalah peraturan dan harus tetap ditegakkan kapan dan dimana saja. Hidup itu ada rule nya dan kita harus disiplin serta konsisten menerapkannya, apa pun kondisinya. Menyebrang jalan seenaknya tanpa mengindahkan peraturan adalah wujud ketidakdisplinan dan tindakan semau gue. Ini buruk efeknya apabila kita terbiasa dan diimplementasikan secara meluas dalam beragam bidang kehidupan. Untuk urusan yang kecil saja kita tak mampu apalagi yang gede. Peduli amat dengan keliatan "bego", yang namanya peraturan adalah peraturan yang harus tetap ditaati.

Menyebrang jalan adalah hal kecil, namun dari situ kita bisa ngerti sedikit tentang kebiasaan dan sifat dasar beragam manusia. Orang negeri tropis memang dimanja alam. Tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman, begitu kata lagunya Koes Ploes. Karenanya umumnya mereka bekerja lebih santai dan rileks serta berpikir lebih fleksibel. Apalagi di ranah kita, yang ikatan budaya dan kekeluargaannya kuat. Gak kerja pun, masih bisa hidup karena banyak sanak family yang masih peduli dan mau bantu-bantu. Santai dan rileks, namun sayangnya di negeri kita kadang jadi kebablasan menjadi suka-suka dan mau enaknya sendiri.

Sedangkan orang negeri Empat Musim, mereka dididik keras oleh alam. Prof Toynbee bilang, ini yang masih saya ingat dari pelajaran Geografi SMP dulu, makin berat tantangan alam, makin keras perjuangan untuk survive. Karenanya orang negeri Empat Musim adalah pekerja keras, dan tidak terbiasa berleha-leha. Alam telah mendidik mereka untuk berpikir bagaimana tetap bisa survive. Musim dingin begitu dingin, mereka harus bikin jaket, persiapkan heater, siapkan kendaraan anti salju dll. Karenanya mereka terbiasa berpikir dan bekerja keras. Jepang yang banyak mengalami gempa bumi, sudah sejak dulu maju di bidang ilmu konstruksi tahan gempa, karena mereka terpaksa dan dituntut oleh alam untuk survive. Kalau sudah dalam keadaan terpaksa, memang power lebih bakal keluar.

Alam memang tanpa kita sadari telah turut membentuk kepribadian dasar suatu bangsa. Masalah kecil dan sepele di antara kita sebenarnya merupakan petunjuk sifat dasar suku/ras/bangsa tersebut. Mana yang salah dan mana yang benar? Dua-duanya benar semua, tergantung bagaimana hal itu ditempatkan. Kedua-duanya merupakan sifat dasar masing-masing, jadi gak ada yang salah. Senjata gak ada yang salah, dan masing- masing senjata punya kelebihan dan keunggulannya. Yang salah itu adalah the man behind the gun. Apakah dia mau memanfaatkan untuk tujuan baik ataukah mau untuk tujuan jahat.

Hmmm, at last, saya pernah tinggal di dua negeri, Jepun dan Singapore. Kedua-duanya sama-sama bersih dan teratur. Namun ada perbedaan mendasar yang saya lihat. Orang Jepang, kalau pergi ke luar negeri umumnya tetap gak berubah, alias tetap teratur dan taat peraturan. Tapi orang Singapore baru nyebrang 14 km saja ke Batam, sudah bertingkah sengak dan suka-suka. Buang sampah sembarangan lah, merokok dimana-mana lah, seenak udelnya lah dll. Kenapa bisa begitu? Ya jawabnya ada di sifat dasar itu. Dan juga yang satu tertib karena apa dan yang satu lagi tertib karena apa. Karena Indonesia "serumpun" dengan Singapore, pilihan yang tepat adalah bukan gaya Jepang, melainkan gaya Singapore, alias peraturan dibuat keras dengan penegakan atas pelanggaran yang konsisten.

Ini intinya, dan sialnya kita punya banyak peraturan tapi penegakkannya mencla-mencle. Akhirnya mbulet, tetap aja semua pada suka-suka. Yang namanya peraturan di Indonesia itu punya 3 sifat dasar: 1. Penerapan awalnya heboh banget tapi bersifat hangat-hangat chicken shit, kalo gak bisa dibilang bersifat bak halilintar, menggelegar sesaat namun lenyap tak berbekas tanpa kesan dan kesan. 2. Peraturan selalu bisa dinego dalam penerapannya. Ini yang payah memang penegak hukumnya yang gak tegas serta juga para pelanggarnya yang mau enak dan cari jalan pintas. 3. Peraturan selalu ada celahnya yang bisa dikadali. Gak tau ini karena peraturan itu yang gak sempurna dibuat, ataukah sengaha dibuat demikian, ataukah orang kita yang terlalu pintar mencari celah.

Peraturan udah bagus dan banyak, meski kadang dalih pembuatan peraturan itu ajaib. Tengok saja tentang peraturan Tibum di DKI Jakarta yang bakal mendenda pemberi pengemis, sampai 20 juta rupiah. Di situlah dilematisnya. Kalau gak ditertibkan pada ngeyel dan suka-suka. Maunya ditertibkan tapi kok gak menyentuh akar masalah mereka dan memberi solusi kepada mereka, yakni pekerjaan dan penghidupan yang layak. Lihat saja nanti seberapa konsisten aturan yang telah diketok palunya bakal ditegakkan.

Pengalaman saat ini menunjukkan peraturan pelarangan DVD bajakan adalah cuma di atas kertas, dan peraturan larangan merokok juga macan ompong. Dan banyak lagi aturan lainnya yang jadi percuma meski dibuat dengan anggaran yang tak kecil. Penegak hukumnya gak tegas dan orang kitanya pada suka-suka. So what to do?Balik lagi ke masalah nyebrang jalan, apakah anda bakal menyebrang ataukah tetap menunggu, seandainya lampu masih berwarna merah namun jalan di depan kosong melompong? Apa alasan pilihan anda itu?

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

WIndows Vista payah abis?

Posted: 19 September 2007

Assalaamu 'alaikum,

Pagi ini ngobrol-ngobrol dengan kolega saya, konon katanya banyak company mengeluhkan Windows Vista, dan converting dari Windows XP ke Windows Vista tidak berjalan smooth. Banyak software yang bisa dipakai di XP, begitu beli komputer baru yang memakai Vista, software ini bisa di detect tapi tidak bisa jalan. Akhirnya mau gak mau mereka manggil vendor untuk menukar balik dari Vista ke XP. Di tetangga sebelah, komputer baru mereka yang memakai Vista juga dibiarkan nganggur sendirian.

Di tempat kenalan saya pun, bulan lalu dibeli beberapa komputer baru yang O/S-nya Vista. Lucu-nya begitu disambung ke network (yang masih P to P) connection, Komputer baru yang ber-O/S Vista ini tidak bisa melihat komputer lain yang O/S-nya XP, dan begitu pula sebaliknya. Begitu ditanyakan ke customer service, jawabnya "Yahh, memang begitu Pak". Sotoy banget gak sih?

Yang jelas problem utama Vista adalah gak bisa "matching" dengan software-software lainnya yang sudah ada, baik itu account software dll. Jadinya yah itu, komputer Vista dibiarkan tergeletakn begitu saja. Apakah ini memang terjadi secara umum, ataukah cuma di beberapa tempat saja? Dulu semasa peralihan dari Windows 95 ke 98 trus ke 2000 trus ke Milenium trus ke XP, rasanya hampir gak kedengaran berita sejenis. Logikanya peralihan dari XP ke Vista pun harusnya gak bermasalah. Kalau bermasalah buat apa ada Windows Vista?

Ada yang punya pengalaman sejenis ataupun dengar berita sejenis?BTW, Microsoft kena denda oleh Pengadilan Eropa karena bersikap monopoli memaksakan software-nya dan menekan perusahaan software lainnya. Kadang pula kita temui ada software yang hanya bisa dipakai di O/S-nya Windows saja. Gak tau ini adalah monopoli Microsoft ataukah bukti kedigdayaan mereka menguasai pangsa pasar komputer di seluruh dunia.

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Aji mumpung itu legal dan etiskah?

Posted: 18 September 2007

Assalaamu 'alaikum,

http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/17/time/163714/idnews/831047/idkanal/328

Setelah menggebrak dengan Esia-nya, Bakrie Telecom melahirkan kejutan lagi. Perusahaan yang dimiliki anak bangsa ini sanggup menjungkalkan Pro XL, yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Telekom Malaysia dan juga PT NTS dalam perebutan tender SLI (Sambungan Langsung Internasional).

Plok, plok, plok alias standing ovation kah karena perusahaan anak bangsa kini makin berjaya di negeri sendiri? Tapi IMHO, kalau diperhatikan, agaknya Bakrie itu makin berkibar setelah pentolannya, Pak Aburizal, menjabat sebagai menteri di kabinet sekarang. Bakrie Group memang dikomandani langsung oleh adek beliau, Nirwan D. Bakrie. Namun mengingat status sang abang adalah pejabat eksekutif, adakah AJI MUMPUNG berlaku di sini? Paling gak, sang penyelenggara tender merasa gak enak, kalo beda-beda tipis kenapa sih gak ngasih ke Pak Menteri.

Sudah bukan rahasia umum lagi, di nusantara, banyak orang yang begitu jadi pejabat eksekutif ataupun legislatif, kekayaan mendadak melambung tinggi. Ada yang lewat jalan terang dan jalan gelap. Yang lewat jalan terang adalah moncernya bisnis mereka secara tiba-tiba. Langsung atau tak langsung "fasilitas khusus" buat mereka pasti muncul, secara sengaja atau tidak, dan sangat mungkin ini berkaitan dengan kedudukan mereka. Yang lewat jalan gelap, ya yang ngembat uang rakyat, berkolusi dll deh, dah pada tau semua, dan ini jelas tindak kriminal yang tak perlu ditanyakan lagi legalitasnya apalagi keetisannya.

Jalan terang apa pun jadinya masih lebih baik daripada jalan gelap. Kaya mendadak setelah jadi pejabat eksekutif maupun legislatif adalah suatu fakta. Apakah naiknya kekayaan secara mendadak itu ada hubungannya dengan jabatan mereka? Apakah mereka melakukan aji mumpung? Legalkah aji mumpung itu? Etiskah aji mumpung itu? Wew, memang susah rasanya menimbang apa yang namanya aji mumpung itu apalagi mempersoalkan kelegalitasan dan keetisannya. Namun kehadiran dan pemanfaatan aji mumpung memang gak bisa dinafikan, dan banyak orang rela dan berlomba-lomba "bayar duluan" demi menjadi pejabat publik, yang nantinya punya chance melakukan aji mumpung, dimana dari penerapan aji mumpung itu mereka bakal bisa balik modal, lantas "nabung" tuk masa depan.

Susah yah memang di bumi kita. Secara religi, antara yang hitam dan putih sudah jelas. Cuma manusia selalu punya hobby membuat kedua-duanya menjadi abu-abu. Manusia memang selalu punya nafsu greedy yang sulit dikendalikan, dan andaikan segunung emas diberikan kepada mereka maka segunung emas pun akan coba diraihnya lagi. Kalau halal gak masalah. Andaikan aji mumpung ini membuat seseorang kaya tetapi kekayaannya dipakai untuk membantu orang banyak, salahkah ia? Bukankah aspek legalitas dan etis aji mumpung masih gak jelas alias abu-abu. Gak salah dong dia? Wahh, tambah muter-muter dan pusing. Yahh, husnudzhan (baik sangka) ajalah dan EGP. Belum tentu kalau kita berada di posisi mereka saat ini, kita sanggup untuk tidak menggunakan aji mumpung kita. Yang jelas Insya Allah, masih banyak kok pejabat publik kita yang baik dan gak pakai aji mumpung, meski yang bajigur juga gak sedikit jumlahnya.

Akhir kata, ada tebak-tebakan nih, kira-kira siapa pejabat publik kita yang kekayaannya melambung dibandingkan sebelum dia menjabat? Salut buat Pak SBY, kayaknya beliau bukan type orang yang suka pake aji mumpung, dan beliau konsisten untuk bersikap idealis bekerja demi kemajuan dan persatuan bangsa. Walau rasanya mungkin ada yang bilang, beliau naif banget kalau gak bisa dibilang lebih parah dari itu. Ada kesempatan ber-aji mumpung kok gak dimanfaatkan, tulalit juga lu, gitu kali katanya. Atau barangkali beliau pakai aji mumpung dengan cara lain. Whatever lah, mending Husnudzhan aja, oke? Daripada muter- muter puyeng mikirin "keajaiban" dan urusan orang yang gak ada juntrungannya itu.

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Crashnya pesawat One-Two Go

Posted: 18 September 2007

Biasanya ada 3 faktor penyebab kecelakaan pesawat. Apakah itu human error, ataukah faktor cuaca, ataukah faktor kondisi pesawat. Di kita biasanya lebih banyak karena 2 faktor pertama. TANYA KENAPA.

Semalam bicara-bicara dengan sobat SMA yang juga pilot, kemungkinan besar kecelakaan tersebut disebabkan oleh faktor buruknya cuaca. Saat kejadian memang terjadi heavy moonson rain Pandangan pilot amat terbatas, namun sepertinya pilot "memaksakan diri" untuk mendarat, karena menara pengawas membolehkannya. Sialnya menara kontrol kemudian membatalkan perintah pendaratan sedangkan pesawat dah telanjur turun. Ya terjadilah tragedi itu.

Di Today juga diberitakan, bahwa pihak Thailand mengklaim penyebabnya kemungkinan Wind Shear. Teman saya Mas pilot itu bilang, in his case, dia mending terbang muter dulu, wong ada cadangan tanki untuk 500 km. Kalo dibilang peran pilot gak ada sama sekali, ya ndak juga. Namun dia memutuskan mendarat karena begitu saja menuruti perintah menara kontrol, dan tidak berani men-judge buat dirinya sendiri. Walau begitu kesimpulan awal, faktor cuaca lah penyebab utamanya.

So, sejatinya untuk case ini gak ada hubungannya dengan asal pilot dari negeri mana. Namun sialnya lagi-lagi pilot naas ini datang dari Indonesia. Semakin komplet deh justifikasi bahwa dunia aviation kita MINOR abiss. Fenomena budget airlines dipicu oleh Air Asia, yang kemudian tumbuh menjamur, dan yang terbesar adalah di nusantara dengan 25 maskapai. Sayangnya kondisi, fasilitas dan manajemen kita masih katro dan lebih cenderung pada nyari untung dulu dibandingkan ngasih pelayanan terbaik.

Sebenarnya dari segi kualitas pilot itu sendiri, pilot kita gak kalah bagus. Makanya gak usah heran, banyak pilot Garuda yang bedol desa ke negeri luar. Gak loyalitas kah mereka? Mereka maunya loyal, tapi apa daya perusahaan asal kurang memperhatikan kesejahteraan, sedangkan perusahaan luar mengibaskan jumlah fulus yang kelipatan jumlahnya. Garuda, maskapai plat merah, lucunya rugi melulu, dan baru kuartal kedua tahun ini untung, padahal flight occupancy mereka itu tinggi. Konon mereka rugi karena gak main di cargo, seperti SQ, Cathay, UAE dll. Padahal bisnis cargo ini sangat menguntungkan, karena harganya stabil, gak kena imbas perang harga turunnya rate per passenger akibat kehadiran budget air lines. Kesialan lain mungkin yahh karena Garuda kan harus nombok juga bayar para pensiunan petingginya yang amit-amit gedenya. Kalo KKN-nya saya gak comment.

Teman saya juga berkisah, kasian pilot kita, gajinya kurang. Mereka pengen gaji lebih karena resiko tuk mereka juga tinggi. Vietnam sekalipun berani membayar gaji pilot 5-6 kali dari kita, tapi kita kenapa gak mampu? Then maskapai asing baru lebih gila lagi, menawarkan gaji ratusan juta plus fasilitas mewah lainnya. Bukan apa-apa, mereka butuh pilot yang sanggup menerbangkan pesawat berbadan lebar. Untuk bisa menerbangkan pesawat gede gini, perlu training beberapa lama, yang biayanya bisa ratusan juta bahkan milyaran rupiah per orang. Kemudian perlu pengalaman pula. Jadi pilot gak bisa langsung menerbangkan pesawat gede, melainkan harus dari pesawat yang kecil dulu, lalu merintis dan naik pangkat dst, sehingga biasanya setelah umur 40 tahunan baru mereka kebagian menerbangkan pesawat yang gede.

Maskapai baru asing lebih senang pakai cara instant. Bagi mereka, masalahnya kan cuma waktu. Masak harus nunggu pilot mudanya berpengalaman belasan tahun dulu baru ngasih mereka pesawat gede, sedangkan bisnis dengan pesawat gede itu lebih menggiurkan. Cara tercepat, ya bajak aja. Pilot juga manusia. Sebenarnya banyak yang konsisten dan loyal kepada maskapai domestik yang berjasa mendidik mereka. Namun kekecewaan akan kekisruhan manajemen, kesejahteraan yang kurang ditambah lagi kibasan fulus yang hebat, akhirnya membuat sebagian mereka mengorbankan idealismenya. Haree geenee masih mikirin idealisme??? Ke laut aja deh loo, gitu yah kira-kira.

Tau kah anda, pilot-pilot kita dari beragam maskapai kadang mendapatkan pelatihan. Teman saya pun kadang dapat training di Malaysia dll. Tapi sialnya, manajemen dan birokrat kita "norak habis". Jatah dan waktu training dipotong. Alasannya menghemat cost, karena training kan dihitung per jam. Akhirnya pilot kita jumpalitan sana sini mencari kekurangan bahan training. Gilee gak tuh, ini kan pekerjaan bawa nyawa orang, masak asal main potong aja. Kalo lack of skill dan lack of knowledge siapa yang salah? Yang menjengkelkan lagi, uang pemotongan yang gede itu larinya kemana? Apakah buat insentif para pilot? Ya gak lah. Dasar otak korupsi, warisan kolonial, apa aja pengen dikorupsi. Emang di antara kita masih ada yang biadab dan tukang makan duit yang bukan haknya. Sotoy banget gak sih?

Gitu deh kira-kira, kapan nanti disambung lagi.

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Elektrostatik yang bikin deg-degan

Posted: 17 September 2007

Assalaamu 'alaikum,

http://en.wikipedia.org/wiki/Electrostatics
http://www.esda.org/esd_fundamentals.html
http://www.cibasc.com/index/ind-index/ind-pla/ind-pla-effectsweoffer/ind-pla-eff-functionalityandperformance/ind-pla-eff-fun-antistatic.htm

Brur, ada yang tau penjelasan singkat tentang Electrostatik dan gimana terjadinya? Mohon sharing-nya. Sebenarnya di Wikipedia juga sudah ada, tapi puanjangg banget dan detail artikelnya, jadi malas ngebacanya.

Akhir-akhir ini aye dan ada staf lain di kantor, sering ngalamin elektrostatik. Begitu nyentuh metal, seperti kayak digigit semut dalam sekejap. Sebenarnya ini bukan barang baru. Di negeri utara dulu, saat musim dingin, kejadian elektrostatik begitu sering. Gak ada efek, cuma jadi sebel aje dan bikin kaget serta deg-degan.

Konon katanya, dengan kelembaban yang rendah di winter, udara menjadi kering dan berpotensi menyebabkan elektrostatik (ada yang tau prosesnya). Tapi kalo di jiran yang dekat khatulistiwa ini, udaranya agak lembab. Ataukah kantor aye yang kering gitu? Tapi kalo kita ketika hendak megang metal, trus bersiap-siap untuk dikagetin elektrostatik, biasanya malah gak kena. Apakah perasaan bersiap itu sama artinya otak kita memberi perintah ke sel tubuh untuk bersiap menetralisir elektrostatik?

Buat kita memang elektrostatik gak ada efek. Namun buat yang berkecimpung di PCBA, pekerjanya wajib memakai pakaian ESD (anti elektrostatik). Bukan apa-apa brur, kalo sampai tangan kita menyentuh IC dan terjadi elektrostatik, itu sama aja bagi atom-atom di dalam IC, seperti sambaran halilintar buat tubuh kita. Begitu katanya. Barang tentu IC akan rusak dan tidak berfungsi normal. So, ada yang ngerasain juga tentang Elektrostatik? Itu apa, kenapa terjadi dan gimana biar gak terjadi lagi?

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Kesuksesan konsep silaturrahmi-networking-brotherhood?

Posted: 18 September 2007

Assalaamu 'alaikum,

Ada artikel bagus tentang kesuksesan etnis Tiong Hoa ber-networking. Silahkan liat link-nya
di bawah:

http://indoprogress.blogspot.com/2006/03/mengapa-china.html

Ikatan yang dilakukan oleh etnis China seperti ini bisa dibilang nepotisme, namun gak semua nepotisme itu jelek. Hanya saja di Indonesia penerapannya salah kaprah dan kebablasan. Nanti kapan saya cerita lagi tentang hal itu. Barangkali juga pak ustadz di IMAS dapat menjelaskan apakah yang dilakukan oleh etnis mereka adalah salah satu bentuk silaturrahmi, seperti yang ada dalam Islam? Buat saya pribadi, diambil positifnya aja, dan buang negatifnya. Suatu pemikiran dan tindakan selalu ada manfaat dan mudharatnya, tul gak?

Saya ingat lagi dengan cerita seorang teman Chinese di sini, tentang "perkoncoan" di antara mereka. Benar yang ditulis di artikel di bawah ini. Saya lupa nama filsafat yang dikisahkan oleh teman Chinese Singapore yang muallaf itu. Kalo gak salah itu "Filsafat Rumpun Bambu". Rumpun bambu tegak ke atas berdiri sendiri-sendiri dan hidup sendiri, namun akarnya tetap sama dan diikat tali persaudaraan yang sama.

Teman saya menceritakan, sudah terbiasa dalam perkawanan di antara sesama mereka untuk membentuk kongsi. Misalnya ada si A yang belum sukses, yang lain rame-rame entah ngumpulin duit atau bantu fasilitas dll, untuk membantu si A sampai si A sukses. Setelah sukses, maka gantian, si A juga punya kewajiban berkontribusi pada perkoncoan itu, dst. Namun, sejawat yang Muallaf ini bete habis dengan salah seorang konco-nya. Dia sempat meminjamkan uang lebih dari SGD 10k, dan dia rela bayar installment demi membantu teman. Eee, ternyata teman itu kabur bak lenyap ditelan bumi bersama uang-uang bantuan dari rekan-rekannya, termasuk uang teman saya ini. Bete deh dia, bayar installment selama beberapa tahun for nothing.

Taktik perkoncoan sejenis, saya dengar pula sebagai taktik etnis mereka di Indonesia. Kenapa warung China bisa maju dan sukses? Karena katanya modal mereka kuat, sebab ada yang back up di belakang. Di awal-awalnya, mereka berani ngasih harga miring. Jualan masih koloran doang, gak apa, untung tipis dulu gak apa, yang penting bisa dapat market dan omzet yang gede dulu. Rugi dikit awalnya gak papa, tapi mereka berani maju terus, karena support gede di belakang. Maju terus deh sampe menang. Ini bukti manfaatnya perkawanan dan buat apa berkawan kalo gak ada manfaatnya.

Then, dah gitu pelayanannya dua jempol. Warung-warung biasa dekat tempat kediaman saya bertarung sendiri-sendiri. Modal mereka jelas terbatas, dan mereka jualan ala kadarnya, gak terpikir untuk ngasih pelayanan yang lebih. Sesuai dengan hukum pasar, kalau quality lebih unggul, cost lebih murah dan service lebih memuaskan, terlepas dari masalah koneksi, maka barang itu berpotensial unggul. Siapa sih orang yang gak mau beli lebih murah tapi dapat service lebih. Etnis mereka mau ngasih harga 100-200 perak lebih murah, dan mau nganter beras sampai ke rumah kalo beli karungan. Mereka tetap senyum meski dibeli 1-2 liter beras saja, beda dengan orang kita yang kadang cemberut kalo pelanggannya beli sedikit.

Alhasil dalam hitungan bulan, ada empat toko orang kita (yang jelas bukan toko orang Minang)di daerah situ semuanya tutup dan gak laku, dilalap oleh toko Tiong Hoa tersebut. Simply-nya masyarakat melihat awalnya dari cost dulu. Kenapa mereka berani bertarung di cost? Ya karena mereka ada back up yang kuat di belakangnya. Apakah ini jelek atau bagus? Tergantung dari mana kita memandangnya. Tapi, kata kenalan saya yang orang Minang, wong Chinese itu "takut" dengan wong Minang. Taktik dagang wong Minang lebih ampuh dari mereka, dan kenalan saya dengan bangga cerita pernah "mengalahkan" beberapa toko China (CMIIW yah wong Minang:D).

Banyak lagi kisah lainnya. Gak cuma di antara mereka, di antara orang-orang kita pun yang namanya nepotisme, entah itu perkoncoan dll, sudah sering terjai. Masak kalo ada bisnis, dan kita disuruh milih antara teman dan orang lain, sedangkan kualitas plus servisnya beda-beda dikit, maka kita ngorbanin teman? Masak sih kalo ada lowongan di kantor kita, dan kita punya kuasa menentukan, terus suruh milih antara kenalan kita dan orang lain, dengan kualitas gak beda jauh, kita pilih orang lain? Dan bla bla bla.

Saya dah pernah berkunjung ke puluhan pabrik, dan saya lihat fenomena nepotisme sendiri. Apakah semuanya salah? Ada yang salah dan ada yang gak. Yang salah tuh di antaranya, kalo potong kompas, gak capable dll. Bisnis kan pada dasarnya adalah suatu networking. Tanpa network yang bagus susah untuk sukses berbisnis. Coba deh tanya ke pak ustad. Tapi yang namanya networking, silaturrahmi dan nepotisme adalah intinya podo wae. Hanya saja nepotisme adalah efek buruk dari penerapan sifat jaring laba-laba ini.

Kini bisakah umat Muslim memiliki persaudaraan dan networking yang lebih kuat dari etnis China? Kita sudah punya konsep bagus yang namanya Moslem Brotherhood (Ikhawanul Muslimin) serta konsep silaturrahmi. Semua umat Islam bersaudara dan wajib saling bantu. Umat Islam itu ibaratnya saru kesatuan tubuh. Kalo salah satu bagian tubuh sakit, maka semua akan merasakan sakitnya. Sayangnya, akhir-akhir ini, memang penerapan dari konsep yang mulia masih lemah. Terbukti justru kita malah sibuk sendiri dalam pergulatan akan perbedaan yang ada, bukannya mengedepankan visi yang sama dalam membangun umat. Untuk urusan silaturrahmi agaknya Pak ustadz yang lebih berkompeten untuk menjelaskannya.

Itu aja sharing-nya. Yang jelas intinya balik ke perlunya memaksimalkan networking, silaturrahmi di antara sesama Muslim. Etnis China dengan sebarannya di penjuru dunia, telah membuktikan kesuksesan filosofi networking mereka. Gimana nih kira-kira ke depannya tentang penerapan konsep mulia milik kita sendiri yang kini masih lebih banyak jadi wacana belaka?

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Lagi, tentang bantuan karena ikatan leluhur

Posted: 17 September 2007

Kasus bantuan keuangan itu ada yang dilihat case by case juga. Kalo yang di Amrik itu, si James Riyadi lagi ngelaba bukan, dan kebetulan dia memang punya kelebihan duit. Kalo yang di sini, entah dia ngelaba atau karena mau bantu sesamanya, gak tau yah, yang jelas aneh saja kok di kala negara kita butuh uang dia malah nyumbang ke tempat lain. TANYA KENAPA. Secara general, keterikatan China dengan tanah leluhur itu memang nyata dan ada. Dan ini bukan sesuatu yang jelek, malah harus ditiru oleh orang kita, yang tetap harus mau membantu Indonesia meskipun sudah bertukar kewarganegaraan.

Senjata itu gak selalu jelek, tergantung siapa the man behind the gun. Gak ada maksud SARA di sini, tapi banyak realita bahwa secara emosional membantu orang yang sama dalam SARA adalah suatu hal yang manusiawi. Makanya KKN, untuk hal N alias nepotisme, di Indonesia itu sulit dihilangkan dan nepotisme itu juga berkaitan dengan SARA bukan? Sebenarnya pembicaraan anti Nepotisme itu bisa dibilang bullshit adanya. Gak usah jauh-jauh, liat aja ke Batam, kenapa di pabrik tertentu pegawainya seragam semua dari etnis yang sama. Kenapa di pabrik tertentu semua petingginya harus ras tertentu. Ini kan fakta, tapi biarin aje, kalo gak perlu ditelan aja mentah-mentah.

Terlahir sebagai China juga gak pernah ditulis salah kok. Mereka juga manusia, dan mereka perlu survive, bagaimana pun caranya, meskipun yang namanya diskrimnasi itu terjadi ke mereka. Banyak kok di antara mereka yang Muslim. Dan mereka juga terkadang melakukan balik terhadap SARA lainnya. Baca deh TST Sabtu lalu tentang Melayu. Lihat deh fenomena di perusahaan-perusahaan mereka di negeri kita sendiri.Polemik tentang SARA memang gak akan habis dibicarakan dan memang gak perlu dipolemikkan. Karena dipandang dari sudut yang berbeda akan berbeda pula hasilnya. Namun yang diketengahkan di sini adalah realita yang ada. Dan hal itu gak bisa kita nafikan, dan hal itu gak bisa dibilang jelek, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Tapi itu kan sekali lagi fakta yang gak bisa kita nafikan. Apakah fakta itu mau disimpan sebagai alat untuk mengerti kondisi, apakah mau dipakai sebagai alat keharmonisan, ataukah mau dipakai sebagai hal yang lain, itu berpulang kepada kita semua.

BTW, jadi Muslim di Indonesia terkadang juga kasian. Lihat kasus Ambon dan Poso, ketika mereka digebukin, gak ada yang teriak HAM, tapi ketika dibela malah dibilang diktator mayoritas. Susah kan? Ini juga tergantung dari mana kita memandang dan siapa dia. Di Timteng, didorong untuk berdemokrasi. Tapi ketika Hamas menang, kenapa mereka gak boleh memerintah? Apanya yang salah? He he, ini kan lagi-lagi tergantung dari mana kita memandangnya dan siapa dia.

Itu aje comment dari aye. Yang jelas ini fakta jek. Aye sependapat kok bahwa Living Harmony memang perlu dan harus, namun kita juga harus tetap punya kepribadian dan pegangan.

Maaf bila gak berkenan.

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Gimana astronout Malaysia beribadah nantinya?

Posted: 17 September 2007

Assalaamu 'alaikum,

Malaysia, "diam-diam" bakal punya kosmonot yang bakal diluncurkan dengan pesawat ulang alik Rusia pada awal Oktober 2007 nanti. Kedua pria kosmonot itu adalah seorang dokter dan seorang dokter gigi. Program kosmonot bernilai US$ 25 million ini adalah bagian dari kesepakatan penjualan 18 pesawat jet tempur Sukhoi-30 MKM, yang bernilai US$ 900 million (lebih dari 8 trilyun rupiah). Perihal kosmonot adalah sudah bukan lagi kebutuhan primer atau sekunder, melainkan sudah kebutuhan tertier atau luxury. Gak nyangka juga saudara serumpun bisa "kelebihan" uang untuk melakukan program mercusuar semacam itu. Ataukah mungkin ini karena ke-smart-an deal mereka dengan Rusia. Gue beli ini tapi gue minta bonus ini.

Hmm, sebenarnya kita dulu nyaris punya astronaut, yakni Bu Pratiwi Soedharmono. Itu kejadiannya 20 tahun lalu. Saya lupa-lupa ingat alasan waktu itu kita dihadiahi iming-iming punya astronaut. Sayang sekali, karena musibah meledaknya pesawat Challenger pada tahun 1986, akhirnya program kita gagal total. Lucunya lagi, AS bokis, bukannya nunda, tapi malah membatalkan program astronot kita. Akhirnya Bu Pratiwi menjadi calon abadi. Untuk saat ini kayaknya dah susah kita minta-minta sama Amrik, wong senjata aja di embargo. Minta sama Rusia juga susah, karena beli senjatanya juga ngutang. Sayang juga, dunia antariksa kita kesusul. Padahal kita lah termasuk negara pertama di Asia yang punya satelit, yakni di awal tahun 1970-an kita meluncurkan Satelit Palapa (kini punya Singapore? ---> baca Indosat). Sayang yah, step kita cuma sebatas jalan, sedangkan orang lain pada lari ngebut.

By the way, fenomena kosmonot ini mengundang pembahasan khusus dari para ahli fikih. Yakni, bagaimana menentukan waktu sholat, ke arah mana mereka harus menghadap, bagaimana menemukan Ka'bah, perlukah mereka berpuasa, kalau iya kapan waktu berbuka dan sahurnya? Di sinila sedang dibahas terobosan Fikih tentang hal-hal ibadah di sana. Beranikah ulama Malaysia ber-ijtihad. Kalau mau dilihat ke depannya lagi, barangkali di masa depan, kita punya pemukian di bulan atau Mars. Kalau sudah gini, bagaimana kah sholat, puasa dll, karena kondisinya berbeda.

http://en.wikipedia.org/wiki/Planet Kalau Mars, masih mending, rotasinya sekitar 1,03 hari bumi. Nah kalo Venus, rotasinya 248 hari, bingung gak tuh. Adakah itu pertanda bahwa manusia, berikut agama hanya ada di bumi semata, Wallahu 'alam, dan itu rahasia Ilahi, nanti kita kebablasan memikirkannya apalagi ilmu kita masih cetek banget dibanding ilmu Allah.
Good bro, fenomena pembahasan ijtihad untuk kondisi astronaut adalah suatu terobosan yang berani, walau gak menyentuh langsung ke kehidupan banyak orang. Sayangnya pula, fenomena ijtihad ini tidak muncul sewaktu ada wacana astronaut Bu Pratiwi dulu. Mungkin juga gak kepikir sampai ke sana, dan mungkin juga pada gak yakin program itu bakal terwujud. Walau secara gak langsung, kepedulian atau tidaknya terhadap hal ini menunjukkan bahwa kita lebih punya warn sekuler dibanding Malaysia.

Warna sekuler, benarkah begitu? Bener dong, tuh buktinya kini diributkan lagi wacana Asas Tunggal. Kenapa harus pakai Asas Tunggal? Adakah ini paranoid dan phobia hasil suksesnya gembar-gembor terorisme atas nama agama? Ataukah ini semata langkah politik taktis semata, untuk mencegah tumbuh dan menjamurnya kekuatan agama tertentu. Ndak tau deh, gak ngurus politik kita yang njlimet. Menarik tuk dicermati gimana terobosan alim ulama terhadap hal ibadah yang berkaitan dengan masalah waktu, karena standar waktu itu adalah mengikut pada kondisi aktual yang ada di bumi. So, kalau di luar angkasa, piye yah?

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com

Karena ikatan leluhurkah, mereka saling bantu?

Posted: 17 September 2007

Assalaamu 'alaikum,

http://newshub.nus.edu.sg/pressrel/0708/070801.htm

Ini sebagai comment tentang sumbangan US$ 21 million atau hampir 200 milyar rupiah oleh seorang James Riyadi kepada NUS. Haruskah kita husnudzhan ke dia khususnya, dan orang setype dia pada umumnya? Capeeekk Deeehhh... Ngasih pelajaran tentang nasionalisme ke dia, supaya mau berbakti ke nusantara? Capeeeekkk Deeehh... Hari gini masih mikir nasionalisme??? Ke laut ajee looo, gitu kali yeee kata beliau...Emang gue pikirin, tambahnya, yang melarat kan bangsa dan bukan gue sendiri...

Saya ada cerita "lucu nan menjengkelkan" di Batam beberapa waktu lalu. Suatu ketika saya ketemu dengan klien yang production manager di salah satu perusahaan di sana. Kebetulan dia dari etnis bermata sipit. Karena tampang saya mirip-mirip China, bahkan tiap ke Glodok dan Tanah Abang dipanggil Engkoh melulu, dia cas cis cus aja tentang etnis mereka.

Dengan bangganya dia berkisah, bahwa Pemerintah China daratan berhasil menggerakkan orang China se-dunia untuk menyumbang dalam pelaksanaan Olimpiade 2008. Para penyumbang namanya akan terpatri di taman Olimpiade kota Beijing. Hebatnya program ini sukses besar. Inilah yang sebenarnya bikin ketar-ketir orang bule sana. Orang China mau dimana saja, mau di Afrika kek, di Indo kek, di sini kek atau di Amrik kek, semuanya selalu ingat dan setia tanah leluhur. Bayangkan kalau bangsa China se-dunia bersatu. Sekali mereka bergerak habislah dunia ini.

Di mainland sendiri jumlah sudah 1,3 milyar. Kesetiaan kepada tanah leluhur benar-benar tinggi. Gak usah bingung kalo liat banyak pengusaha kita termasuk Oom Liem, ramai-ramai menanamkan sahamnya ke negeri leluhur begitu hubungan diplomatik dibuka. Gak heran, USA selalu dikerjain oleh agen ganda China Amerika, yang harus men-spy China , eeh malah balik menyuplai informasi ke China. Kesetiaan akan tanah leluhur dan komitmen akan budaya mereka, ini yang patut dicontoh dan diacungi jempol. Makanya perayaan "Hungry Ghost Month" yang berakhir minggu lalu pun demikian marak di sini, padahal ini kan aslinya Ranah Melayu.

Di Singapore sendiri, beberapa waktu lalu saya sempat berbincang-bincang dengan seorang sales asuransi, gadis China Jakarta nan cantik dan manis. Doi kira saya juga sebangsa dengannya, sehingga tak sungkan untuk ember sana-sini. Katanya, di Indonesia, sebenarnya ada diskriminasi rasial terselubung. Saya pun pernah dengar hal itu. Student China di sana, gak pernah berharap bisa masuk ke universitas negeri. Tujuan mereka adalah apakah universitas ternama di sana, seperti Untar, Trisakti, Binus, Parahyangan, Petra dll, ataukah kuliah di luar negeri. Dengan berlakunya sistem kuota terhadap mereka di universitas negeri, jangan kaget bila kita menemukan prestasi orang mereka yang luar biasa di PTN. Itu karena semata bibit mereka sudah bagus, hasil seleksi di antara mereka sendiri. Bahkan konon, sampai tahun 2002, lulusan Cum Laude di ITB, 80% nya adalah etnis mereka.

Karena dikebiri di bidang lain, akhirnya mereka konsentrasi di bidang ekonomi dan pendidikan. Seperti air, yang mengalir dari pegunungan jatuh ke laut sana, dihalangi dan dibendung apa pun, tetap saja akan terus melanjutkan perjalanannya sampai ke dunia luas itu. Mereka pun butuh dan perlu hidup, dan untuk bisa hidup mereka harus survive. Konsentrasi tinggi di bidang tertentu lah yang bikin mereka kini terlihat menonjol dari segi ekonomi dan bisnis. Bukan salah mereka kalo ekonomi dikuasai mereka. Kalau mereka kadang pake acara KKN, itu salah pribuminya kenapa mau terus "dibegoin" mereka?

Kalau tujuan Mas Riady sih banyak agaknya. Selain cari muka terhadap Pemerintah sini, tentunya dengan kompensasi tertentu seperti kemudahan bisnis dll, boleh juga untuk secara tak langsung membantu etnis mereka yang banyak belajar di NUS. Toh, kalaupun maju, mereka juga sama-sama satu etnis, so gak ada yang rugikan buat dia? Maaf, ini cuma dugaan semata. Kenapa gak mau nyumbang ke Indonesia? Alasan takut sumbangannya gak sampai juga ada. Tapi kayaknya mereka lebih berhitung ke take and give. Mungkin bisa dicek apakah mereka termasuk salah satu obligor BLBI atau bukan yah? Kalau iya, tega nian dikau, merampok kami terus dikasihkan ke jiran. Emang kutukupret, kalo kata Mas Tukul.

Tapi Allah memang Maha Adil. Tentang bangsa China ini pernah dibahas di salah satu harian di sini. Salah satu kekurangan paling menonjol dari bangsa China adalah sulitnya mereka bersatu. Kalau ada pedagang Jepang di satu lokasi, mereka pasti berkompromi untuk menetapkan harga standar, bahkan ke bagi-bagi teritori. Tapi kalo ada pedagang China, kalo yang satu jual 1000 dollar, maka yang sebelahnya akan jual 900 dollar, dibalas lagi oleh yang lain jadi 800 dollar, dan begitulah seterusnya. Memang sudah dari sananya seperti itu sifat dasar mereka. Kalau Pemerintah China bukan Komunis kayak sekarang, gak mungkin bangsa China bisa maju dan bersatu. Teman saya yang Japanese pun mengemukakan demikian. Bangsa China memang rawan perpecahan, jadi bangsa Jepang, walaupun khawatir dengan kemajuan China, tetap masih feel safety karena yakin sifat dasar mereka itu akan timbul lagi kalau pemerintahnya lemah dan yang ada saling gontok-gontokan lagi nantinya.

Coba bayangkan andaikan semua China bersatu di seluruh dunia, apa jadinya dunia ini? Gak akan ada lagi yang namanya polarisasi, karena bisa keukeuh mencengkram dunia dengan sebaran etnis yang ada di berbagai penjuru dunia. Bahkan anekdotnya, andaikan kita gali tanah sekali pun, boleh jadi kita bakal nemu etnis mereka lagi jualan dengan para cacing. Ikatan tanah leluhur memang kuat. Makanya Pemerintah sini bakal bingung kalau terjadi perang AS vs China. Mau bela yang mana hayoo. Tapi sekali lagi, dunia ini diciptakan dengan keterraturan yang amat sangat, dan itu bukti keberadaan Allah SWT dan ke-maha-adil-annya.

Tulisan ini gak dimaksud untuk men-judge etnis China. Mereka adalah manusia juga, dan bahkan banyak kenalan saya yang baik banget dari kumpulan mereka. Teman sekantor saya pun baik dan sabar bahkan lebih santun dari staf Melayu lain sekali pun. Di mana ada YIN (jahat), di situ bakal ada YANG (baik), karena YIN ada sebab ada yang disebut YANG. Di Indonesia pun banyak pula yang baik-baik, dari kenalan etnis mereka. Secara individu gak ada masalah dengan mereka. Kasian sekali kalau mereka harus selalu jadi sasaran amuk, padahal mereka baik dan gak berbuat salah apa pun. Hidup damai dan rukun memang baik sekali. Namun lebih indah lagi kalau masing-masing punya komitmen buat kewarganegaraan yang dimiliki oleh mereka, karena di sana mereka lahir dan dibesarkan, dan kepadanya lah mereka punya hak dan kewajibannya. Apa yang dilakukan oleh James Riyadi dan pengusaha China bajigur lainnya, tidak bisa digeneralisir sebagai tindakan semua etnis mereka. Bajigur sekali gak boleh mengotori susu sebelanga yang manis rasanya.

Mohon maaf bila tak berkenan.

Wassalaam,

Papa Fariz
Web Blog: http://papafariz.blogspot.com
FS Account: boedoetsg@yahoo.com