Sunday, June 17, 2007

"Rendahan" tapi berfulus banyak

Posted: 16 Juni 2007

Assalaamu 'alaikum,

Semalam di tayangan Liputan 6 Malam, SCTV dengan bangga menunjukkan acara syukuran mereka atas keberhasilan 9 dari 10 sinetron baru tentang remaja, yang mereka tayangkan, ternyata berhasil meraih rating 2 digit dan menempatkan SCTV di peringkat paling atas pemasukan iklan sementara ini.

Konon katanya, program acara sinetron memang efisien. Acara ini bisa diproduksi dengan murah oleh berbagai production house, namun TERAMAT SANGAT digemari oleh masyarakat. Wajarlan profit yang didapat akan besar sekali, karena production cost-nya rendah sedangkan revenue-nya besar sekali. Ini sejalan sekali dengan prinsip bisnis di mana pun. Memang secara simpel tujuan utama bisnis adalah meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, sedangkan hal-hal lain, yah nomor sekianlah. Ngapain berbisnis kalau gak menguntungkan? Emangnya kite ini volunteer yang doyan kerja sukarela melulu?

Hmm, sinetron remaja? Wahh capek deuyy kalau ngomongin yang beginian. Sudah beribu komentar miring beterbangan mengenai program yang satu ini. Bahkan sebagian menilai sebagai tontonan "rendahan", yang gak bermakna apa-apa, dan hanya mengedepankan hedonisme, kekayaan bullshit, kisah cinta yang tak wajar dll. Heran yah anak sekolah di sinetron selalu saja digambarkan yang dipikirkan cuma cinta melulu. Kehidupan foya-foya dan sewenang-wenang justru ditampilkan begitu vulgar di depan masyarakat yang kondisinya sangat berbanding terbalik dengan kondisi mimpi surgawi di acara yang mereka tonton.

Tapi apa mau dikata? Tayangan begini yang justru memikat hati rakyat. Peduli amat dengan stempel rendahan dan gak berkualitas. Boleh jadi rakyat perlu tayangan ringan dan menghibur, selepas penat menghadapi kehidupan yang kian lama kian kejam tak kenal ampun. Buat para pengelola TV, PH maupun pihak-pihak terkait yang meraup fulus, yang namanya bisnis tetap bisnis. Urusan moral dan akhlak bukan urusan gue, pikirnya. Mau generasi muda jadi nyeleneh kek, mau masa depan bangsa jadi bobrok kek, Emangnya Gue Pikirin. Yang penting duit alias fulus alias uang tetap masuk ke haribaan gue.

Mau gimana lagi brur? Kadang dunia realita memang gak seindah dunia idealis. Maunya kepengen kita disuguhi tayangan yang apik, namun apa lacur yang diminati malah yang lain. Maunya semua bisa berbisnis yang membawa nilai positif buat semuanya. Namun realitanya gak sedikit yang berpikir bisnis ya cuma duit, tanpa peduli dengan yang lain. So what gitu lho?

Halaahhh, enjoy aje deh, ngapain sih yang beginian dipikirkan yah? Toh pihak otoritas yang lebih berwenang mengatur urusan akhlak, moral dll serta lebih berkepentingan untuk itu, gak pernah memperdulikannya. So ngapain kita pusing yahh. He he, biarin ajalah, EGP. Lama dipikirin malah kesel sendiri. Memang begitu realitanya, mau diapain lagi? Ya didiemin aja dan kite pikirin aja diri kita sendiri. Egois-egois dikit gak papa, dan kadang egois itu perlu kok. GAKR: Gitu Aja Kok Repot!!! :)

Wassalaam,

Papa Fariz
Web blog: http://papafariz.blogspot.com/
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Playboy dan halilintar

Posted: 15 Juni 2007

Assalaamu 'alaikum,

Wanita ayu dengan pakaian minim dan seronok, ditambah belahan dada yang menantang, terpampang sebagai cover beberapa tumpukan majalah di salah satu kedai di Batam. Mata pria mana yang tak tergoda untuk meliriknya. Namun ada satu yang lebih bikin tercengang. Kalau Matra yang berharga 28 ribu, lalu Popular yang berharga 32 ribu, dan juga Male Emporium yang berharga 32 ribu adalah pemain lama, maka ada satu yang terlihat lebih ekslusif dan terbungkus plastik. Majalah itu bernama Playboy yang dihargai 50 ribu rupiah.

Hmm, belum lekang dari ingatan, majalah ini sempat mengundang pro dan kontra. Demo anti Playboy terjadi di sana-sini. Banyak orang yang "menjerit" karena kehadirannya. Bahkan dagelan pengadilan pun terjadi, di mana Erwin Arnada, Pemred yang sudah berinvestasi 2 milyar demi kehadiran majalah pria ini, sempat dituntut di pengadilan, meski akhirnya dibebaskan. Andara Early, yang sempat berpose seksi sebagai cover majalah itu pun, sempat ketar-ketir dituntut di pengadilan.

Markas Playboy di kawasan Jaksel sempat diserbu dan dihancurkan, hingga akhirnya dipindahkan ke Denpasar. Demo penolakan sedemikian kencang, namun Pemerintah tidak bergeming. Kata Pemerintah, don't judge the book by its cover, dan atas nama kebebasa dan HAM, Pemerintah tidak kuasa melarang Playboy.

Walau begitu, Pemerintah jiran, baik Singapore dan Malaysia sudah bersiap menjatuhkan denda serius apabila ada yang nekat membawa majalah ini ke jiran. Tak tanggung-tanggung ribuan dollar bakal dikemplang kepada para pelanggarnya. Meski mungkin isi Playboy versi nusantara tidak sampai bugil, namun Playboy tetaplah Playboy buat mereka. Sehingga sikap mereka sudah jelas, menghindari kontroversi yang tak perlu dengan melarang terbitnya Playboy di kedua negeri itu.

Banyak pihak meradang, dan Playboy nusantara pun berlagak "tau moral" dengan menjanjikan bahwa peredarannya hanya melalui pesanan alias tidak diperdagangkan di tempat umum. Pedagang kecil yang sempat mengedarkannya, sempat kena "kepruk" para polisi dan laskar. Kasian banget mereka, maunya cari untung tapi kena getah. Namun apa lacur, semua janji dan harapan kini berkeping-keping secara sia-sia.

Yang jadi pertanyaan, kalau akhirnya Playboy bisa me-masyarakat, untuk apa dahulu diperdebatkan dan dikontroversikan? Bukankah itu cuma buang-buang waktu, biaya dan energi kita semata, tanpa ada hasil signifikan apa pun yang kita dapatkan?

Pihak Playboy memang pandai bermain waktu. Mereka tau bahwa bangsa kita ini PELUPA dan PEMAAF. Toh memang sudah berulang kali terjadi, setiap kontroversi di bumi pertiwi akan hilang dan tenggelam seiring dengan perjalanan waktu. Apalagi kalau setelahnya ada kasus baru yang lebih menghebohkan. Media massa kita juga doyannya cuma cari kehebohan.

Buat mereka lumayan fulus mereka bakal bertambah, tanpa peduli dengan kondisi masyarakat yang sudah kepayahan dihajar berita-berita buruk tentang Indonesia.Lucunya lagi, biasanya kita cuma meributkan dan saling tunjuk hidung, tanpa memikirkan penyelesaian yang tuntas akan suatu masalah. Akhirnya memang penyelesaian yang mengambang alias sama saja gak ada penyelesaiannya.

Tengolah kasus boraks dan formalim. Adakah perangkat hukum yang diterapkan untuk menindak tegas pelakunya? Gak ada, dan akhirnya bukan cuma masalah ini gak selesai, melainkan muncul masalah beras ber-klorin, minyak goreng jelantah yang diolah dengan strong acid pemicu kanker H2O2 (hidrogen peroksida) dll. Kasus dana rapelan DPRD yang sempat heboh, akhirnya juga berakhir dengan diam-diam, dimana Pemerintah tetap mengabulkan dana baru buat mereka itu.

Kalau sudah ditelan waktu, biasanya gak dihebohkan lagi. Di sinilah jalan damai biasanya dieksekusi, peduli apakah jalan damai itu memihak kepada masyarakat atau tidak, itu urusan lain. Jangan-jangan kita memang punya hobby tuman (kebiasaan) senang kepada halilintar. Makanya hero lokal di sini pun adalah Gundala Putra Petir. Halilintar alias petir itu datangnya begitu mengejutkan, menggelegar bahkan menakutkan semua orang. Namun setelah itu ia akan hilang lenyap tak berbekas bagaikan tak pernah terjadi apa-apa. Begitupun dengan kontroversi di kita.

Ributnya sampai menguras fisik, pikiran dan waktu bahkan biaya. Bahkan kalau perlu diwarnai gontok-gontokan di sana-sini. Tapi akhirnya ya lenyap begitu saja, tanpa kesan dan pesan. Kalau kesan dan pesannya aja sudah gak ada, apalagi solusinya. Begitulah realita di antara kita. Untuk mengobatinya tak gampang. Dan bukankah kita malah menikmatinya sebagai suatu dinamika kehidupan di nusantara? So what gitu lho. Yep, biarin aja deh, enjoy ajalah, memangnya seberapa pentingnya solusi masalah itu ditemukan buat kita? Entahlah, yang penting kita semua tetap bisa enjoy dan ber haha-hihi.

BTW, tentang kasus Playboy, sejujurnya, majalah pria lain di Indonesia, "nampaknya" justru lebih sronok daripada Playboy. Kalau mau jujur, yang harus ditindak ya semuanya, dan bukan cuma Playboy. Hikmah dari kasus ini ada juga sih, yakni hilangnya koran-koran kuing dari orbitnya di masyarakat. Namun boleh jadi ini hanya sementara. Supply ada karena ada demand. Tinggal adakah niatan dari pihak yang punya otoritas untuk mengontrol hal ini.

Bisnis esek-esek dimana-mana memang gak ada matinya, Wajarlah kalau profesi tertua di dunia itu, konon katanya, adalah maaf, pelacur. Bisnis esek-esek (plus) judi memang tak pernah merugikan. Tapi jangan harap ada kepedulian dari mereka terhadap kondisi moral rakyat. Kuncinya ada di pihak otoritas. Mereka niat atau gak untuk menertibkannya demi masyarakatnya sendiri. Kalau gak ada niatan yang sungguh-sungguh, ya sutra lah, dan akhirnya selalu terjadi begitu dan penyelesaiaannya selalu menggantung.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Blog Papa Fariz

Posted: 11 Juni 2007

Assalaamu 'alaikum,

Alhamdulillah, akhirnya keinginan punya BLOG sendiri bisa terwujud juga.

Alamatnya adalah sbb: http://papafariz.blogspot.com/

Namun mohon maaf, masih berantakan, karena memang belum di edit maupun dipoles. Weekend baru sempat memindahkan tulisan di email ke website BLOG. Proses transferring baru selesai 70%. Lumayan juga, ternyata blog bisa jadi sarana pen-dokumentasi-an.

Wahh, gak nyangka, ternyata jumlah tulisan yang panjang, dalam beberapa tahun ini, yang telah dibuat ada lebih dari 200 tulisan. Puyeng juga, gak kebayang kok bisa-bisanya dan sempet-sempetnya nulis sepanjang dan sebanyak itu. Barangkali waktu lagi kondisi "Trance", sehingga gak sadar jemari ini menari sendiri di atas keyboard. :)

Ditunggu saran, kritik dan comments-nya. Terutama juga petunjuk untuk "mempercantik" tampilan blog. Sometimes we need to judge the book by its cover. :)
Anyway, sekali lagi ditunggu saran, kritik dan comments-nya. Sebelumnya maaf pula, karena Blog-nya masih sederhana dan apa adanya.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Nothing is impossible

Posted: 9 Juni 2007

Assalaamu 'alaikum,

Jujur, ikhlas dan tegas, demikian bunyi spanduk besar yang bertebaran di kawasan Permata Hijau, lengkap dengan foto orang yang dicalonkan plus lembaran bukti pembayaran pajak iklan. Pak Sarwono yang punya motto itu memang bermarkas di kawasan Simprug Golf, tidak jauh dari Permata Hijau.

Namun sayang, pada dying minute menjelang penutupan daftar Cagub DKI, Pak Sarwono dengan tegar namun ikhlas dan pasrah menyatakan mengundurkan diri dari jalur pencalonan via Parpol. Kalau memang ada kesempatan via jalur independen, maka itulah yang akan ditempuhnya, meski semua itu sangat tergantung kepada niat MK untuk memutuskannya.

Mantan menteri kelautan ini memang pantas patah hati. Jauh-jauh hari namanya digadang-gadang sebagai calon alternatif menandingi Pak Adang, calon dari PKS, dan Pak Fauzi, calon dari Koalisi Jakarta alias seluruh partai minus PKS. PKB, PAN beserta Koalisi "Recehan" (gabungan partai-partai kecil) sudah berencana menggolkannya. Bukan apa-apa, syarat dari pencalonan Cagub adalah minimal 15% suara. Hilangnya satu dari 3 unsur di atas, menyebabkan syarat minimum tak terpenuhi.

Namun apa lacur, ketika bola sudah di kotak penalti, pencalonan Pak Sarwono, yang menggandeng Pak Jeffrie Geovanie harus kandas. Alasannya PKB ngotot untuk memasangkan beliau dengan Oneng alias Rieke Dyah Pitaloka, sebagai pengganti Rano Karno, untuk posisi Cawagub. Sedangkan Pak Sarwono merasa sreg dengan Pak Jeffrie dan menuntut komitmen 3 unsur itu pada kesepakatan sebelumnya yang memutuskan paket ini.

PAN pun tiba-tiba mundur dengan alasan Pak Sarwono tidak mampu menarik partai-partai memenuhi syarat 15%. Punah sudah semuanya. Kemudian ketika waktu tersisa tinggal 24 jam lagi, nama Pak Agum Gumelar dan Pak Didik J. Rachbini mencuat sebagai calon alternatif. Tapi apa daya, politik Indonesia memang kutu kupret. Ternyata PAN dan PKB tidak benar-benar bersungguh-sungguh menginginkan calon alternatif.

Semua itu semata ibarat dagelan yang berujung pada pencalonan Pak Fauzi Bowo, dan memang akhirnya terbukti bahwa PAN dan PKB ikut mendukung incumbent Wagub DKI ini menyusul Golkar dan PDIP yang secara "menakjubkan dan menggelikan" tiba-tiba bergandengan tangan di Pilkada DKI padahal di tingkat Pusat mereka saling beradu tanduk. Jadilah akhirnya pertarungan PKS vs non PKS, yang diwakili Pak Adang vs Pak Fauzi.

Sungguh menggelikan, mengapa tiba-tiba semua berada di belakang Pak Fauzi? Ada dengan semua ini? Mengapa partai-partai yang tadinya berseberangan di tingkat Pusat dengan sewenang-wenangnya tiba-tiba memaksakan bahwa Wagub DKI ini harus menjadi gubernur berikutnya dengan cara apa pun. Patut dicurigai dan sampai obvious sekali ada banyak KEPENTINGAN yang bermain di sini. Pokoknya Pak Fauzi harus naik, TITIK, begitu kira-kira kesimpulannya.

Padahal semua sudah tau di nusantara ini, yang namanya politik, gak pernah lepas dari yang namanya DAGANG SAPI, entah apa itu Sapi-nya. Menarik untuk dicermati kira-kira imbalan dan kompensasi apakah yang harus diberikan Pak Fauzi kepada para Parpol non PKS andaikan nantinya beliau benar terpilih jadi Cagub DKI.

Entahlah, agaknya kita semua sudah kehabisan kata-kata dan muak dengan kejadian ini. Pak Adang, yang dituntut oleh masyarakat untuk menunda pendaftarannya, agar melihat dulu hasil sidang MK mengenai calon independen mencoba memenuhi tuntutan ini. Andaikan cuma Pak Fauzi saja yang daftar, maka sesuai peraturan, maka pendaftaran Cagub harus diperpanjang seminggu lagi, karena hanya ada satu calon. Demikiankah jadinya? Ternyata tidak.

Koalisi gendeng itu sudah menyiapkan rencana lain. Andaikan Pak Adang menunda pendaftarannya, mereka sudah menyiapkan calon bayangan lainnya. Meski Pak Adang tak jadi daftar, calon yang muncul ada 2, yakni Pak Fauzi dan satu lagi calon dagelan yang hadir demi memenuhi syarat. Dengan demikian Pilkada tetap bisa digelar, sebagai lucu-lucuan dengan Pak Fauzi sudah pasti tampil sebagai pemenangnya. Mau tak mau Pak Adang pun langsung mendaftarkan dirinya sebagai Cagub DKI tanpa perlu menunggu habisnya masa pendaftaran.

Pokoknya harus Pak Fauzi, bagaimana pun caranya. Demikian pesan yang diusung oleh koalisi para parpol katro ini. Entahlah jengkel sekali rasanya hati ini. Demokrasi hanya jadi mainan. Seumur hidup baru sekali ini saya bersyukur nama saya tak terdaftar sebagai pemilih di suatu pemilihan.

Bukan apa-apa, karena kalaupun terdaftar, hati ini merasa "terhina" dipermainkan begitu saja. Buat apa kita bertanding kalau sudah tau hasilnya. Andaikan memang saya tetap terdaftar, Golput mungkin adalah pilihan terbaik, dan ini mungkin juga pilihan bagi banyak orang lainnya. Sekali pun terpaksa harus memilih, boleh jadi Pak Adang lah yang saya akan coblos.

Bukan saya meragukan kapabilitas Pak Fauzi sebagai Cagub. Bukan saya menafikan posisinya kini sebagai Wagub DKI yang punya gelar Doktor, lahir di Condet dan pejabat karier. Melainkan, saya cuma kuatir ada "KEPENTINGAN ANEH: di belakang dirinya. Saya cuma takut Tuhanku meminta pertanggungjawaban saya nanti karena memilih sesuatu yang mungkin "salah" padahal sebelumnya saya sendiri sudah merasakan "konspirasi aneh" yang sangat obvious. Apabila calon yang dipilih baik, namun di tengah jalan tidak amanah lagi, itu lain soal. Namun ini sejak awal, sudah terasa janggal, tapi kenapa harus tetap dipilih? Hati nurani saya tentu bilang tidak untuk hal ini.

Letih rasanya mendengar semuanya. Menulis artikel ini pun terasa buntu, dan gak seperti biasanya kata-kata terasa mampat untuk keluar sampai di ujung jemari. Kebuntuan yang timbul karena rasa frustasi dan desperate dengan "sedemikian" konyolnya para petinggi negeri ini. Gimana bangsa ini mau maju, kalau dalam pemilihan dan pembangunannya selalu saja direcoki oleh berbagai kepentingan kelompok. Manusia-manusia buas dan penuh nafsu itu memang tak pernah puas dengan apa yang sudah didapatnya, meski mungkin dia tau bahwa semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat nanti.

Seperti kata seorang teman, bedanya Singapore dengan Indonesia, bahwa Singapore itu secara negara kuat namun secara kelompok lemah. Di Indonesia terbalik, secara negara, kita lemah, namun secara kelompok kuat. Akhirnya Presiden pun sering bingung dan ragu melangkah. Meski beliau dipilih langsung oleh rakyat dan bertanggung jawab ke rakyat dengan mandat yang sangat kuat, namun tindakannya tetap seperti Lame Duck, alias tak bergigi dan tunduk pada tarik-menarik berbagai kepentingan di bumi pertiwi. Cuma satu kata yang tertinggal dari mengamati "keajaiban nusantara".

Kata-kata itu adalah:
CAPEK DEUY!

Yah, capek banget memikirkan kekonyolan dan ketololan yang terus terjadi di sekeliling kita sementara kita tak kuasa berbuat apa-apa, selain hanya bisa berdoa, dan terus berdo'a, di mana langkah yang satu ini adalah selemah-lemahnya iman, alias kita angkat bendera putih. Demikian kah sikap terbaik? Gak juga. Allah Maha Kuasa, dan NOTHING IS IMPOSSIBLE. Segala sesuatu bisa terjadi, dan bagi-Nya hanyalah seperti membalikkan telapak tangan saja. Di atas kertas Koalisi Konyol boleh bersiap untuk bersorak. Namun hati nurani kita masih bisa bertindak. Golput pilihan terbaik, atau pilihlah yang bukan di belakangnya ada banyak kepentingan.

Barangkali kebersamaan dari tindakan ini akan bisa membuktikan kebenaran:
NOTHING IS IMPOSSIBLE.

Hanya pendapat dari seorang hamba yang dhaif. Maaf kalau tidak berkenan.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Haruskah anak ditolak kehadirannya?

Posted: 7 Juni 2007

Assalaamu 'alaikum,

Seorang Ibu muda, tersangka pembuang janin bayi di Singapore dibebaskan dari tuntutan hukuman penjara, dan sebagai gantinya harus menjalani 15 bulan masa percobaan dan 80 jam kerja sosial. Alasan pihak pengadilan, sang ibu melakukan hal itu karena berada dalam tekanan yang stress yang sangat tinggi, hingga tak tau harus berbuat apa. Kini pun ia berada dalam pengawasan counselling. Sang ibu memang mengalami trauma KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), dimana sang suami sangat ringan tangan. Keluarganya kini hanya memiliki satu orang remaja putri.

Sebelum ini dia sudah mengandung dua kali, namun dengan alasan tak sanggup menanggung biaya BANYAK ANAK, sang suami memaksa kandungan tersebut keduanya digugurkan. Pada yang ketiga ini, dia berupaya menyembunyikan baik dari keluarganya atau pun teman-temannya, karena ia juga takut mengalami kekerasan fisik serta disuruh menggugurkan kembali kandungannya. Stress, trauma dan takut luar biasa, hingga ia tak tau harus bagaimana.

Janin bayi itu dilahirkan sendiri, dipotong ari-arinya lalu dibungkus kain dan dimasukkan ke dalam loker di supermarket tempatnya bekerja. Es maupun kamper yang ia letakkan bersama jasad dari janin bayi ternyata tak kuasa menahan busuknya sang jasad hingga kasus ini terungkap dan mengguncangkan Singapore.Inti masalahnya adalah penolakan terhadap KEBERADAAN JUMLAH ANAK yang "banyak", atau lebih ekstremnya lagi penolakan keberadaan anak dengan alasan ekonomi.

Masalah ini memang banyak menghinggapi masyarakat negara-negara industri seperti Singapore, Jepang, Eropa, AS dll. Sedikitnya jumlah anak memicu kekuatiran tentang masa depan negeri tersebut. Dan memang kini terbukti bentuk populasi di negara tersebut piramida terbalik, alias jumlah penduduk tua lebih besar daripada jumlah penduduk usia muda. Di masa depan ini akan berbahaya.

Semakin sedikit jumlah usia produktif (15-64 tahun), membuat mereka akan semakin payah menanggung beban dari usia non produktif (khususnya yang di atas 64 tahun). Pemerintah jiran mencoba memberikan insentif baby bonus, bahkan konon (CMIIW) sampai usia SD, dan besarnya meningkat untuk anak kedua dst.

Tapi apakah orang sini banyak yang mengambilnya? Teman lokal saya berkata, memang pada saat kelahiran bayi kami dapat cash yang lumayan, demikian pula sampai usia SD. Namun selanjutnya bagaimana? Bukankah itu anak perlu makan, pakaian, sekolah dll juga? Itu kan biayanya gak sedikit. Ada pula yang lebih ekstrem dengan gak mau punya anak, karena lagi-lagi anak dianggap sebagai beban belaka. Entahlah apakah mereka tidak berpikir siapa yang akan take care mereka di hari tua nantinya.

Faktor pemicu lambatnya pertumbuhan penduduk adalah semakin banyaknya wanita yang lebih memilih karier. Ada yang selanjutnya tetap melajang atau pun menikah namun di usia yang tinggi. Sudah barang tentu di usia tinggi, melahirkan anak akan lebih riskan, dan jumlah anak yang dilahirkan juga akan lebih sedikit.

Sebenarnya masalah pemikiran bahwa anak jadi beban adalah juga mulai menjangkiti kalangan muda di daerah urban di Indonesia. Saya sempat berkelakar dengan teman, bahwa saya bingung kok bisa yah orang tua saya membesarkan 8 orang anaknya, dan Alhamdulillah jadi orang semua. Enaknya, keluarga besar itu kalo pada ngumpul rame banget. Jumlah cucunya juga banyak, riuh rendah, dan lucu-lucu semuanya. Tapi kini banyak orang yang berpikir karena dipaksa oleh keadaan, untuk berhitung terlebih dahulu sebelum punya anak banyak.

Zaman telah berubah, dan zaman semakin kompetitif. Apa-apa juga semakin mahal, termasuk biaya sandang pangan dan edukasi sang anak. Kecuali kita sudah merasa secure secara ekonomi, hingga mampu membesarkan anak secara layak dengan pendidikan dan kesejahteraan yang memadai. Zaman dulu lain, ortu kita berpikir sambil jalan, dan akhirnya tetap bisa berhasil, meski gak semuanya bisa begitu.

Kini pertanyaannya sebenarnya berapa jumlah anak yang ideal? Adakah anak sejujurnya menjadi beban keluarga? Apakah banyaknya jumlah anak memang akan membuat ekonomi keluarga terhuyung-huyung? Manakah yang lebih baik, anak sedikit tapi memiliki pendidikan yang cukup atau anak banyak yang tak terurus.

Memang di sebagian kalangan masyarakat ada yang masih memegang teguh bahwa banyak anak banyak rejeki. Tiap anak membawa rejeki masing-masing, dan kita tak tau dari anak yang mana kita akan mendapatkan rejeki. Namun ironisnya, realita di masyarakat, tidak sedikit keluarga yang jumlah anaknya banyak, tapi gak punya kemampuan ekonomi yang cukup sehingga anak-anak mereka tak terurus dan jadi berandal.

Bapak driver yang mengantar saya pernah berkisah bahwa temannya tinggal di daerah Galur. Di situ banyak keluarga tak mampu tapi beranak banyak. Ada tetangganya yang punya anak 10, dan si anak masing-masing punya skill tersendiri. Ada yang jadi copet, penjudi, bandar narkoba dll. Beberapa bulan lalu seorang anaknya mati ditembak, kayaknya oleh polisi. Bulan sebelumnya ada yang mati tenggelam karena menghindari kejaran amukan massa.

Tetangga di kampung sebelah pun ada yang punya anak banyak. Sayang, sang bapak cuma kerja bangunan serabutan. Akhirnya sang anak paling tinggi cuma lulusan SD. Ada yang jadi tukang ojek, ada yang jadi tukang sampah, atau pun kerja di restoran. Masih untung gak ada anaknya yang jadi pencoleng. Di kampung sebelahnya ada lagi remaja gantung diri.

Remaja ini punya back ground keluarga besar, tapi ekonomi Bapaknya pas-pas-an tapi si Bapak suka tebar pesona alias tukang kawin. Akhirnya sekolahnya putus di tengah jalan, nyari kerja juga susah. Orang tuanya juga gak sempat lagi ngurus dia apalagi ngasih perhatian lebih. Baru-baru ini diputusin pula oleh pacarnya. Lengkap sudah penderitaannya dan ini jadi agaknya jadi alasan dia untuk commit suicide.

Memang gak semuanya seperti itu. Hanya suatu ironi saja, andaikan kita beralasan mengikuti aturan religius dengan memperbanyak anak tapi kita sendiri gak mendidik anak secara religius serta tak punya kemampuan ekonomi yang cukup. Ataukah memang jumlah anak itu sudah merupakan takdir mutlak yang tak dapat diganggu gugat. Namun juga karena pemikiran kapitalistik yang telah meracuni kita, akhirnya gak sedikit di antara kita yang ketakutan punya anak dan enganggap anak jadi beban.

Whatever lah, semua itu berpulang ke individu masing-masing, karena mereka sendiri yang paling tau kondisi pribadinya dan paling punya kepentingan dengan pemikirannya. Yang jelas anak itu adalah Titipan Allah, dan gak selayaknya kita menolak kehadiran mereka. Kalau perihal ekonomi, IMHO, itu adalah kewajiban orang tua untuk menafkahi dan memberikan pendidikan yang layak. Bukankah kita diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi mencari rejeki.

Memang bicara saja mudah, tapi paling gak kita harus berupaya keras mendapatkan yang terbaik untuk keluarga kita. Kalau sudah mentok, itu berarti memang sudah garis hidup dan kita tawakkal saja. Tawakkal itu artinya berserah diri setelah berusaha semaksimal mungkin dan bukan berpasrah diri menggantungkan nasib tanpa berikhtiar.

Attitude, masa depan dll sang anak, adalah tergantung pula bagaimana kita take care terhadap mereka. Andaikan kita sibuk, boleh jadi waktu terbatas, namun kualitas bersinggungan dengan anak bisa ditingkatkan. Anak adalah masa depan keluarga dan bangsa. Pepatah simpel Jawa mengatakan, orang tua bisa dianggap sukses apabila sang anak bisa lebih berhasil daripada dirinya sendiri. Ukuran berhasil silahkan didefinisikan sendiri apakah itu hanya menyangkut hal material ataupun hal rohaniah pula.

At last, IMHO anak itu adalah Titipan Ilahi. Kewajiban kitalah mendidik dan menafkahinya selayaknya. Jangan sampai berpikir bahwa anak itu menjadi beban keluarga seperti yang banyak terjadi di kalangan urbanis. Apalagi sampai pada tingkat ekstrem menolak keberadaan anak, semisal dengan menggugurkan kandungan dll.

Mengenai berapa jumlah anak yang ideal, itu berpulang kepada diri masing-masing. Toh diri kita sendiri, sekali lagi, yang tau tentang kondisi kita apakah mempu memberikan kejahteraan dan penghidupan yang layak pada mereka. Dan toh, pengaturan jumlah anak alias Keluarga Berencana kini masih jadi polemik yang tak terselesaikan di kalangan ulama sekali pun.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
kepengenbangetpaizbisapunyaadik

Media kita, kemanakah larinya tanggung jawab moral itu?

Assalaamu 'alaikum,

http://www.youtube.com:80/watch?v=EqhYIzqaKzg

Bongkar-bongkar mailbox, ketemu lagi dengan email dari seorang teman. Inikah wajah dari acara TV kita dalam sehari? Menyedihkan sekali yah. Yang saya bingung, cipika-cipiki-nya Mas Tukul kena tegur dan di banned, tapi kenapa content dari acara seperti ini malah dibiarkan oleh KPI.

Duh, KPI, kenapa judge the book by its cover saja? Cipika-cipiki memang gak boleh, hingga Mas Tukul jadi kayak "hombreng" karena cipika-cipiki dengan sesama cowok, namun content dari isi sinetron seperti di tampilan video itu, bukankah yang lebih berbahaya, namun kenapa tetap dibiarkan? Apakah yang dinilai itu hanyalah acara secara fisik saja namun tidak dengan content-nya padahal content itu lebih merusak pemikiran para generasi muda kita?

Yang paling mengenaskan, acara model begini yang justru diminati oleh masyarakat dan punya rating nan tinggi. Lihat saja SCTV dan RCTI, sungguh gak kreatif. Dari jam 6 sore sampai jam 11 malam, diisi oleh sinetron melulu. Pagi dan siangnya juga sami mawon. Tapi lihatlah, justru dari pemasukan iklan, RCTI dan SCTV berada di rangking 1 dan 2. Para pemasang iklan hanya peduli pada rating acara itu dan bukan pada content dari acara itu sendiri. Maaf, hanya 2 stasiun ini yang bisa dikomentari karena cuma ini yang tertangkap di sini.

Sinetron, Idol, Kuis dan Dance jadi acara ngetop. Acara Variety malah terpuruk jauh dan gak laku. Adakah yang salah dengan kualitas masyarakat kita sehingga acara "selevel" ini yang justru lebih banyak diminanti? Wew, boleh jadi masyarakat sudah terlalu lelah dengan himpitan kesusahan hidup serta njlimet dan bajigurnya situasi politik dan ekonomi kita yang seperti hopless, karena diberitakan yang buruk melulu sehingga menimbulkan sifat apatis dan pesimis.

Media itu, baik media cetak maupun televisi sesungguhnya merupakan sarana efektif untuk mempengaruhi masyarakat. Baik pola pikirnya, maupun dikeruk duitnya. Adakah yang masih merasa punya tanggung jawab moral untuk bisa lebih mengerti, mengawasi dan mengaplikasikan agar tayangan lebih bermutu yang bisa sampai ke rakyat, karena ini terkait dengan masalah pemikiran bangsa dan juga pada akhirnya masa depan bangsa, secara tidak langsung.

Untuk kasus siaran berita sendiri, saya sampai merasa fatigue alias lelah karena TV kita punya slogan, "Bad News is Good News", so yang jelek-jelek selalunya yang dihebohkan. Kalau memang tujuannya sekedar untuk menampilkan sekaligus membangun kesadaran masyarakat, ya oke lah. Namun kalau dihebohkan tanpa hasil, jadi weird banget rasanya. Hingga berkesan kayaknya ini bangsa brengsek banget, ngurus apa-apa gak ada yang bener. Akhirnya sifat apatis dan pesimis serta desperate akan terakumulasi.

Kalau sudah bermental apatis begini janganlah kita bicara muluk-muluk untuk membangun bangsa Hmm, memang sih tambah heboh, maka tambah laku dan itu berarti makin berduit karena makin banyak iklan yang bakal masuk.

So, gimana solusinya? Siapa kini yang punya tanggung jawab moral untuk mengontrol tayangan yang bisa meracuni pemikiran masyarakat? Jangan konyol dengan menyerahkan tanggung jawab itu kepada masing-masing orang tua agar mengawasi tontonan anaknya. Kalau seperti itu, buat apa ada yang namanya negara beserta pemerintahan dan kelengkapannya? Kalau ada niat pasti ada pemikiran untuk memperbaikinya. Kalau gak ada niat ya sutra deh.

Jangan pernah berharap banyak kepada para stasiun TV dan para produser. Karena mereka gak akan peduli apa yang namanya tanggung jawab moral apalagi masa depan bangsa. yang ada di benak mereka cuma duit, duit dan duit. Bukankah acara beginian sengaja dibuat agar duit masuk kepada mereka. PERSETAN dengan yang namanya, sekali lagi, tanggung jawab moral dan masa depan bangsa. Tapi adakah sangsi buat mereka, minimal sangsi etis?

Omong kosong brur, ya gak ada lah. Dan nyatanya mereka tetap gagah maju ke depan dengan badai tayangan gendeng versi mereka, dan terbukti pula pundi-pundi mereka semakin tebal jadinya. Ini bisnis bung, kita bukan volunteer yang bicara moral, mungkin begitu teriak mereka dalam hati sambil tertawa-tawa. So What Gitu lho?

Entahlah, kadang jadi "puyeng" juga jadinya. Apakah ini buah dari yang namanya demokrasi dan kebebasan? Hingga apa pun tak ada yang bisa dilarang dan tak ada yang boleh melarang karena akan dianggap melanggar Hak-hak Asasi Manusia, sebagai hak paling prinsipil yang dianugerahkan oleh Tuhan.

Ndak tau deh, makin pusing aje jadinya. Yah nyadar sendiri deh.
Silahkan TANYA kepada HATI NURANI anda, apakah yang begini yang namanya baik dan benar, kalau memang kuping kita sudah budeg dan mata kita sudah buta untuk sudi menerima definisi itu secara religi.

Siapakah yang punya kuasa membantu memecahkan masalah tanggung jawab moral ini? Entahlah, namun jangan sampai jawabannya tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Jakarta dapat Adipura! Bravo?

Posted: 6 Juni 2007

Assalaamu 'alaikum,

http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/indexphp/detik.read/tahun/2007/bulan/06/tgl/06/time/115641/idnews/790060/idkanal/10

Semua wilayah Jakarta dapat Adipura alias penghargaan kota terbersih. Wuihhh bravooo. Ini baru Jakarta namanya.

Tapi kok, akhir bulan lalu saat ke Jakarta, kok di kali Ciliwung masih banyak sampah yah? Terus di sekitar pasar Kebayoran dan Cipulir, juga di jalan-jalan yang saya lalui, sampah masih berserakan yah. Di pinggir kali Pesanggrahan ada tempat pembuangan sampah gak resmi, piye toh? Dan banyak lagi deh. Apa saya salah lihat yah? Liat tuh buktinya, Jakarta dapat penghargaan kota terbesih.

Kemungkinannya ada 5:
1. Mata saya salah lihat alias rabun dikit, soale semuanya keliatan kayak sampah.
2. Definisi sampah menurut Panitia Adipura itu beda, makanya yang saya lihat gak masuk kategori sampah.
3. Panitianya kurang jalan-jalan sehingga daerah yang kotor itu luput dari penglihatan.
4. Yang paling buruk nih, standar kebersihan Panitia Adipura jelek banget. Kotor gitu kok bisa jadi kota terbersih yah? Mending hadiahnya gak diadain dulu sampai ada yang benar-benar memenuhi kualifikasi kebersihan seperti di Singapura ini.
5. Lain-lain, silahkan diisi sendiri.

Ada yang bisa bantu saya ngasih clue, kira-kira kemungkinan yang mana yah?
Hmm, kayaknya sang panitia perlu studi banding tuh minimal ke sini, biar tau lebih jelas, yang namanya kota bersih kayak gimana. Maaf gak ada maksud apa-apa. Huss, nanti dikira-kira pada mau jalan-jalan menikmati Great Singapore Sale.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Jakarte kite punye

Posted: 5 Juni 2007

Assalaamu 'alaikum,

Di suatu pertengahan malam di penghujung Mei, saat melintas di flu over Pasar Kebayoran Lama terasa ada yang tak biasa. Pasar yang biasanya begitu ramai, padat dan macet dan tentunya membikin jengkel para pengguna lalu lintas, hari itu berbeda sekali nuansanya. Sepi dan lenggang, sementara di pojokan jalan tampak parkir beberapa truk polisi dan abdi Kamtibmas ini juga tampak berjaga dengan senapan laras panjang.

Apalagi kalau bukan peristiwa bentrokan beberapa hari lalu yang memakan 2 korban jiwa. Meski kata tetangga yang polisi, yang mati sesungguhnya 5 orang, cuma biar gak tambah heboh cukup 2 sajalah yang diberitakan. Peristiwa memilukan, sekaligus mengenaskan bahkan memalukan. Pasalnya mungkin "sepele", menurut kabar burung, konon katanya FBR (Forum Betawi Rempug) berupaya menguasai lahan parkir dan pasar yang memang sangat menggiurkan di situ. Padahal preman kampung setempat sudah membuat organisasi sendiri yang bernama IKB (Ikatan Keluarga Betawi) Kebayoran Lama.

Siapa yang tak tergiur. Lahan kosong di samping pasar seluas 1000 m2 itu sanggup menambang uang 15 juta per hari. Belum lagi uang jago. Tiap pedagang dari pagi hingga malam, bisa dikutip sebanyak lebih dari 7 kali, dengan total kutipan 4500-10.000 rupiah per hari. Mau masang petromaks aja bayar nambah. Jangan-jangan mau ngegeser gerobaknya sedikit, juga mesti bayar lagi. Biasalah tikus makan tikus, gak mungkin tikus makan gajah.

15 juta sehari kalau dikalikan 30 hari jadinya 450 juta sebulan. Belum lagi ditambah uang jago. Alhasil totalnya dana non budgeter atau nama keren dari Pungli di pasar ini mencapai 1 milyaran lebih sebulan. Gak tau uang itu disetorkan ke siapa-siapa saja atau dibagikan ke beberapa orang.

Yang menyedihkan lagi, yang bentrok sesama etnis Betawi. Setau saya, yang dibesarkan dengan banyak tetangga orang Betawi, etnis yang satu ini adalah etnis yang sangat religius. Dari nama mereka saja, hampir semua anak Betawi memakai nama berbau agama. Mungkin karena dimanja oleh eksistensinya, akhirnya banyak para tetua mereka yang kerjanya cuma menjual tanah, namun tanpa berpikir bagaimana zaman ke depannya hingga harus mempersiapkan sang anak meraih edukasi yang lebih tinggi. Ini adalah fakta dan realita, dan bukan maksud lain.

Teman kuliahku dulu yang orang Betawi juga pernah cerita, dirinya yang kuliah di Elektro UI ngetop banget di daerahnya. Katanya, dengan senyum nyinyir, jarang banget anak Betawi sekolah tinggi. Sinetron si Doel Anak Betawi yang dibintangi oleh Rano Karno, sebenarnya adalah sindiran halus buat kaum Betawi agar menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi. Kini banyak dari mereka yang tersingkir ke pinggiran dan termarjinalisasi, termasuk di tempat saya dibesarkan.

Dulu, sebelum krisis ekonomi, untuk urusan premanisme pun, Jakarta banyak dikuasai oleh kelompok Ambon dan Timtim. Lantas ada kelompok preman kecil di terminal-terminal dari kalangan Batak, Palembang maupun Arek. Setelah kasus pertentangan di Tanah Abang, yang berlanjut dengan pembakaran Mess Cendrawasih yang nota bene banyak diisi oleh orang dari Timur Indonesia, maupun pengusiran Hercules dari Tanah Abang, membangkitkan kesadaran "urang asli" untuk "menjaga daerahnya sendiri". Akhirnya bermunculan ormas-ormas mereka dan yang paling mentereng adalah FBR (Forum Betawi Rempug) dan Forkabi (Forum Komunikasi Anak Betawi). Konon totalnya ada sekitar 1700-an ormas mereka.

Namun sangat disayangkan sekali, akhirnya pembentukan ormas tersebut tidak mengarah ke hal-hal yang positif. Yang muncul ke permukaan hanyalah premanisme murahan. Tengoklah dimana ada posko mereka, biasanya di situ ada uang jago (uang keamanan). Kemana perginya Pak Polisi yang katanya bertugas menjaga Kamtibmas, kalau kita harus bayar uang jago lagi ke pihak lain?

Sudah bukan cerita aneh, kalau dalam sengketa lahan, para preman, akhirnya saling baku hantam, hingga nyawa melayang. Nyawa melayang sebenarnya perkara besar. Nyawa kucing saja ada harganya, hingga kalau ditabrak mobil, si penabrak langsung ngurusin, apalagi nyawa manusia. Ataukah memang arogansi premanisme ini semata hanyalah luapan dan hempasan rasa frustasi dari mereka yang termajinalisasi hingga tak dapat meraih prestasi puncak di bidang lain?

Saban melihat ada peristiwa rusuh, ataupun ada demo-demo, dan bendera mereka berkibar di mana-mana dan dibawa keliling Jakarta, kadang jadi terasa ngenes juga. Boleh jadi mereka hendak menunjukkan "Jakarte Kite Punye", namun bukankah sesungguhnya pada akhirnya preman yang maju di depan, digebuki dan mati konyol itu tidak sadar bahwa dirinya sesungguhnya dimanfaatkan oleh pihak lain untuk kepentingan sesaat? Bukankah yang diraih dari masyarakat adalah justru anti-pati dan bukannya simpati? Kalau duit juga ujung-ujungnya, bukankah sebenarnya ada cara lain juga yang lebih smart dan mumpuni dalam meraih hal itu.

Jakarte Memang Kite Punye, namun sayang sekali kalau mereka malah membawa nama Betawi, sedangkan kelakukan mereka cuma mengarah ke premanisme murahan. Saya sangat tidak yakin kalau mereka yang bercokol di ormas atas nama Betawi itu boleh dibilang mewakili kaum Betawi, mengingat kelakuan mereka yang jauh dari inti kehidupan masyarakat betawi yang sejatinya.

Kini Pilkada Jakarta hampir bergulir. Masing-masing kandidat mulai membawa-bawa nama Betawi pula. Yang satu, sudah jelas dari namanya berdarah Jawa, meski lahir di Jakarta, mengaku Betawi asli. Yang satu lagi, meski dari ranah Pasundan, tiba-tiba muncul menjadi salah satu ketua Ormas Betawi. Kasian kalau lagi-lagi Betawi dimanfaatkan begitu saja. Boleh jadi, sama seperti daerah lain, mereka sejatinya tenggelam dalam euphoria kerinduan diperintah oleh putera daerahnya sendiri.

Sosok seperti Mohammad Husni Thamrin diharapkan muncul untuk memimpin mereka. Namun dengan kondisi seperti ini, mungkinkah hal itu terjadi? Semntara, maaf, lagi-lagi mereka makin tersingkir, dan akhirnya baik kaum tua dan anak mudanya, lantaran terpaksa, tidak sedikit yang kepincut menjadi anggota Ormas karbitan.

Jakarta memang Kite Punye, namun apakah itu hanya slogan belaka? Karena dalam aktualisasinya tentunya diperlukan modal SDM dll yang memang mumpuni. Kalau hanya berupa slogan simbolik dengan aktualisasi aksi premanisme, maka di kemudian hari hanyalah fenomena katro yang muncul karena lagi-lagi akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Dan itu sama artinya pembodohan yang tak pernah disadari oleh yang di"kerjain".

Maaf kalau tidak berkenan. Tidak ada maksud apa-apa selain memaparkan fakta dan realita.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
rinduteman2betawimasakecilku

Bus SBS ku yang selelu ngerem mendadak

Posted: 5 Juni 2007

Assalaamu 'alaikum,

Pagi ini naik bus SBS sebel banget rasanya. Pak sopir berkali-kali ngerem mendadak setiap mau berhenti di halte. Kasian yang berdiri, sampai harus terpelanting-pelanting dan berpegangan kuat-kuat supaya gak jatuh. Untung saya dapat duduk, jadinya cuma badan yang terguncang sedikit saja. Rasanya hal begini bukan sekali dua kali saya alami.

Entah kenapa di jalur ke timur dari Paya Lebar Road, sopir bus selalu saja punya hobby menginjak rem kuat-kuat. Tiap pulang kerja acap kali ada pemandangan lucu nan katro. Orang-orang yang berdiri kadang saling bertumbukan soale terhuyung-huyung kena badai ngerem mendadak.

Herannya lagi orang-orang sini kok pada sabar-sabar. Gak ada gitu yang komplain. Apa memang hobi konyol ngerem begini sudah dianggap biasa yah? Coba kalo di Jakarta, itu sopir minimal udah diteriakin, kalo gak, boleh jadi sandal jepit melayang di kepalanya.

Jadi ingat komentar seorang teman, saat saya baru datang untuk bermukim di sini. Katanya, sopir bus di sini gak bisa mengemudi dengan bener. Nikmatin aja kebiasaan mereka sering mendadak. Waktu itu saya cuma tersenyum saja, karena memang belum tau realita. Tapi setelah menikmati pengalaman bertahun-tahun di sini, akhirnya saya sependapat dengan rekan saya itu.

Adakah ini cuma kebiasaan para bus yang ada di daerah timur? Ataukah juga terjadi di wilayah lain di negeri jiran ini? Ataukah memang ngerem mendadak itu diperlukan karena body bus begitu besar dan berat, sehingga kalau rem tidak diinjak sekuatnya maka bus tidak berhenti tepat waktu pada posisi semestinya? Mengapa tidak dari jauh-jauh saja rem diinjak secara perlahan oleh pak sopir? TANYA KENAPA.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Gitu aja kok repot yah?

Posted: 4 Juni 2007

Assalaamu 'alaikum,

http://id.wikipedia.org/wiki/Gus_Dur http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/abdurrahman-wahid/index.shtml

Gus Dur kok kayak "Dewa" yah di sebagian masyarakat tertentu. Apa yang Gus Dur katakan, maka itu dianggap benar dan harus dipatuhi. Kadang bingung, karena cara berpikirnya zig zag, dan akhirnya terbukti ketika beliau menjadi Presiden, bukan ekonomi yang dibenahi tapi malah banyak pekerjaan rumah yang timbul, sampai beliau kena pecat.

Entah siapa memanfaatkan siapa, yang jelas dengan segala keterbatasannya, konon para "pembisik" yang ikut "menceburkannya". Sebagian kalangan pun banyak yang "memanfaatkan" beliau dan massanya, sehingga kalau ada apa-apa selalu "melapor" dan berlindung ke beliau.

Bahkan dulu ada yang bilang, andai Gus Dur bilang langit sekarang warna kuning, maka dia akan ikut, karena Gus Dur adalah Wali Allah. Wew, bingung banget, kok sampai taklid segitunya. Memang sih beliau punya darah biru dari salah satu pendiri ormas religius di nusantara.

Kini langkah zig zag Gus Dur membikin orang bingung lagi. Setelah mematahkan koalisi untuk Sarwono, kini tiba-tiba beliau memajukan Oneng sebagai Cawagub. Oalaa, ini kan acara Pilkada untuk cari pemimpin di ibukota kita, dan bukan acara dagelan yang, maaf, pemeran wanita lugu, culun nan katro, boleh sembarang ikutan mentas.

Jadi ingat 8 tahun lalu di negeri Sakura, saat seorang rekan sebangsa hampir ribut dengan orang dari negeri Asia Selatan, gara-garanya orang ras Aria itu "mengejek", apa Indonesia kekurangan orang sehat, kok sampai orang rabun harus dipaksa dipilih jadi Presiden sih.

Entahlah, yang jelas fenomena Gus Dur, memang "perlu ada". Karena akan memberikan warna khusus pada perjalanan kehidupan bangsa. mengenai pemikiran beliau perlu diperhatikan atau gak, ya case by case lah, dan beliau juga orang pintar kok. Tapi gak usah dipikir terlalu serius Mas, segala komentar dan opini aneh beliau, karena semua sudah pada tau, yang penting ngasih nuansa ceria di kehidupan bangsa.

Satu yang saya suka dari beliau, yakni komentar legendarisnya: "Gitu Aja Kok Repot!". Wew, kepake banget brur ini slogan. Anyway semoga beliau ditempatkan pada tempat yang semestinya, dan bukan justru dimanfaatkan. Dan gak sedikit pemikiran genius beliau yang masih bisa terpakai oleh kita semua.

Oke deh, Gitu Aja Kok Repot yah. Hanya sebuah catatan kecil. Maaf bila tak berkenan.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Wek wek wek, bebek memang fantastis

Posted: 1 Juni 2007

Assalaamu 'alaikum,

Minggu lalu isteri saya kebetulan mengajak makan di luar ke sebuah tempat makan yang konon terkenal di bilangan Kebon Jeruk. Ternyata makanan di situ adalah semua serba bebek-bebek-an, walau sebenarnya cuma ada 4 macam menu saja, yakni bebek goreng, bebek bakar, bebek lada hitam dan bebek sambal hijau (yang gak ada cuma Donald Bebek:D). Saya langsung teringat dengan tayangan wisata kuliner saat Ramadhan lalu, dimana warung bebek ini masuk TV.

Harganya lumayan, bisa dibilang murah dan bisa dibilang mahal. Sepotong bebek alias 1/4 bebek dihargai 13.500 rupiah. Kalau lengkap dengan nasi dan teh manis, total jadinya sekitar 20 ribu per porsi. Rasanya? Wahh, mungkin lidah saya saja yang agak aneh. Daging bebek dimana-mana memang begitu rasanya. Agak gurih dibanding daging ayam. Namun, kok rasanya bumbunya gak nendang banget alias biasa-biasa saja. Gak beda jauh dengan bebek goreng yang pernah saya makan di daerah Blok A.

Namun kenapa warung bebek yang satu ini sedemikian terkenal? Wah, saya juga bingung, soalnya lidah saya mencicipi dengan penilaian yang biasa, karena memang makanan yang tersajikan terkesan biasa. Tapi yang jelas, seingat saya, si empunya memang tokcer dalam memilih bebek.

Bukankah di Jakarta makanan yang berbau bebek masih jarang sekali? Di sinilah beliau mengincar rasa penasaran warga dengan mempopulerkan masakan bebek-bebekan. Karena unik dan spesial, akhirnya agaknya makanan di warung bebek ini berkembang dari mulut ke mulut hingga terkenal di seantero Jabotabek.

Lihat saja di warungnya terpajang foto-foto para selebritis yang sempat makan bebek di situ, berikut komentarnya. Tentunya ini menambah daya jual, karena masyarakat akan berpikir, orang ngetop aja makan di sini dan bilang enak, masak gue beda sih dengan mereka. Hebatnya lagi, sifat latah orang kita keluar lagi, dan akhirnya di samping warung bebek tersebut, berdiri warung bebek dan resto bebek lainnya di sepanjang jalan Panjang Kebon Jeruk.

Tahukah anda ada satu hal yang membuat saya benar-benar berdecak kagum. Apakah itu? Warung bebek ini benar-benar antri, dan saya sendiri pun harus terhipnotis ikut antrian demi dapat mencicipi daging bebek. Hari itu adalah hari Minggu, dan kata seorang pelayan, ini belum seberapa, paling heboh adalah pas hari Sabtu.

Konon katanya bebek yang terjual bisa mencapai 3000 porsi alias 750 ekor bebek! Oke deh kita pukul rata, yang terjual tiap hari cuma 20.000 porsi, dan tiap porsi, gak termasuk tambahan lauknya, berharga 20 ribu. Itu artinya omzet sehari adalah 3000 x 2000 alias 40 juta sehari! Kalau dikalikan 30 hari dalam sebulan, maka pemasukan per bulannya adalah 1,2 milyar!!!

Wek wek wek, ternyata bebek bisa bikin orang jadi milyuner. Konon katanya laba bersih dari bisnis makanan, setelah dikurangi biaya gaji, bahan makanan dll, di Jakarta adalah 30-50%, alias uang bersih yang masuk ke kantong owner-nya adalah 360 juta sampai 600 juta rupiah per bulannya. Fantastis bukan? Benarkah demikian? Saya sendiri agak meragukan keterangan sang pelayan, namun sayangnya kite bukan wartawan yang bisa ketemu langsung sang owner untuk mendapatkan angka pastinya.

Namun, tukang bakar bebek di warung berucap, paling sedikit banget sehari terjual 800 porsi, dan itu berarti pemasukan harian, berdasarkan angka ini, mencapai hampir 20 juta, dan dalam sebulannya adalah lebih dari setengah milyar rupiah. Tetap saja bebek bikin orang jadi milyader juga.

Wek wek wek, bebek ternyata memang fantastis. Namun dari sini saya terkesan dengan "kecemerlangan" ide sang owner, dan gak mudah bisa menemukan ide brilyan yang kini booming begitu. Satu hal lagi yang perlu dicermati adalah kesuksesan branding si bebek. Sekarang the food sells itself. Dah gak usah dihebohkan, orang pada datang sendiri untuk mencicipi. Then, ada fakta yang tak terbantahkan bahwa sebenarnya Jakarta itu adalah gudang uang dan lahan yang subur untuk berbisnis (kalau berminat), karena memang untuk consumer product, populasinya besar dan sifat orangnya yang penasaran dan latah-an.

Hanya saja ide brilyan gak selamanya bisa datang, dan kadang baru timbul setelah kita kepepet.:) Tapi kalo pengen jadi "jenderal", simpelnya kita cuma punya 3 pilihan, yakni berbisnis sendiri, jadi pejabat yang benar-benar mumpuni ataukah jadi koruptor kelas kakap (maaf kalau ada yang tak sependapat). Kecuali kalo kita mau rejeki kita ditakar orang terus, atau sudah feel comfortable dan puas dengan kondisi kita saat ini.

Anyway, wek wek wek, bebek memang fantastis dan sanggup membuat orang jadi milyuner. Wew, terlalu bombastis kah?

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Please (DO NOT) offer your seat

Posted: 28 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

Please offer this seat to someone who needs it more than you.
Itulah semboyan "kebaikan" yang agak agaknya sudah mendunia karena tidak cuma di Indonesia saja, melainkan saya temukan juga di Jepang, Malaysia dan Singapore. Namun bagaimana dengan kisah berikut ini:

Alkisah ada sepasang sejoli yang tengah bercengkerama.

Cowok: Sayang, aku kasian sekali kalau lagi naik bus atau kereta, ada nenek-nenek, orang hamil atau anak kecil berdiri di dekatku.
Cewek: Woww, kamu memang benar-benar hebat darling. Jiwa sosialmu memang tinggi. Gak salah deh kalo aku bakalan milih kamu.
Dengan mata berbinar-binar sang cewek lantas bertanya,
Cewek: Lantas apa yang kamu lakukan darling?
Cowok: Aku langsung PURA-PURA TERTIDUR.
Cewek: akdjrjsdujbfkzsdhksdkfjlasdjlasdjka.

Begitulah kisah yang bertolak belakang dengan semboyan, namun sebenarnya menggambarkan realita yang sesungguhnya di sekitar kita.

Kebetulan kemarin, saya bersama anak dan bundanya naik MRT (subway) di jiran ini. Stasiun yang hendak ditempuh gak jauh, cuma 6 stasiun. Namun Paiz kecil yang baru 3,5 tahun begitu masuk kereta langsung rewel. "Papa mau duduk Pa", pintanya. Saya cuma memperhatikan sekeliling saya. Di sebelah Paiz kecil, ternyata sudah ada anak kecil yang sedikit lebih tua darinya, yang lebih awal berdiri. Alamak dodol Garut pikir saya.

Saya amati lagi mereka yang duduk di bangku. Ternyata banyak yang pura-pura gak lihat, masa bodoh, pura-pura tidur ataupun asyik berpacaran. Akhirnya 2 stasiun berikutnya, saya baru dapat seat untuk anak saya, itu pun setelah berlomba dengan seorang pria, yang "kurang tau malu" mau rebutan kursi dengan anakku yang masih kecil itu.

Geramkah kita? Sejujurnya iya, tapi EGP juga, abis mau gimana lagi. Saya cuma bisa menenangkan Paiz kecil sambil bilang sebentar lagi turun. Yoo wess toh, walau semboyan kebajikan dunia juga bertebaran di senatero gerbong itu. Toh ini bukan pemandangan yang baru. Seringkali di MRT maupun bus, saya ngelihat mereka yang sepatutnya duduk, harus menahan diri untuk tetap berdiri karena gak ada yang mau berbaik hati memberikan tempat duduknya.

Di Jakarta, di awal tahun ini saya pun pernah mengalaminya. Waktu kendaraan pribadi lagi rusak, so saya ajak keluarga saya menikmati bus Kopaja menuju rumah mertua. Waktu itu saya sengaja naik dari pintu depan, dan bus agak kosong walau tempat duduk penuh berisi, karena memang saat itu sedang libur panjang. Sambil saya susah payah menggendong si kecil, saya berdiri di dalam bus.

Di Jakarta lebih parah, para pria penumpang lainnya bukan cuma pura-pura tertidur, tapi merasa tak berdosa duduk santai sambil menghisap rokok tanpa peduli penumpang lainnya kibas-kibas menghindari asap rokok. Lagi-lagi kursi baru saya dapatkan saat ada penumpang yang turun. Ini juga bukan hal pertama, sebelumnya saat mencoba naik busway, para penumpang lebih kejam lagi. Gak ada yang peduli dengan nenek, anak kecil ataupun ibu hamil yang membutuhkan. Pengen rasanya "nabok" itu orang. Tapi biarin aje, EGP deh, nanti kita dikira pahlawan kesiangan yang sok bermoral.

Hmm, apakah rentetan kejadian ini merupakan cerminan semakin individualistisnya kita semua dan semakin hilang tingkat kepedulian sosial di antara kita? Ataukah cuma kebetulan saja saya yang menyaksikannya, sedangkan sebenarnya mayoritas gak seperti itu adanya. Entahlah, saya juga gak terlalu peduli, karena memang no big deal. Namun sejujurnya kalau mau ditelaah lebih dalam, agaknya telah terjadi pergeseran nilai-nilai di masyarakat.

Boleh jadi gak sedikit orang yang berpikir "gue udah susah payah nyari tempat duduk, enak banget dikasihkan ke orang" ataupun "perjalanan gue masih jauh nih, masak gue harus ngasih kursi gue" ataupun " gue juga capek boo bukan cuma situ aje" ataupun "kenapa gue yang harus punya peduli sosial, sedangkan yang lain pada cuek bebek? ogah deh gue jadi pahlawan kesiangan".

Dan kalau dipikir lagi, memang kini semakin banyak nilai kebajikan yang cuma jadi slogan formalitas belaka. Semua hanya sekedar basa-basi yang timbul dari permukaan semata agar dilihat lebih apik dan karena tuntutan ewuh pakewuh. Belum tentu slogan itu di realitanya timbul dari lubuk nurani yang terdalam.

Sedikit demi sedikit kita terus biarkan hati kita dihinggapi debu. Padahal kata Imam Ghozali, hati itu laksana kaca, kalau terus ditempeli oleh debu, maka cahaya Ilahi tidak akan sanggup lagi menerobos hati kita, hingga akhirnya dorongan untuk berbuat baik pun pudar perlahan tapi pasti.

Entahlah, biarin aja, itu kan urusan individu. Toh masyarakat juga bingung mau meneladani siapa saat ini untuk hal kebajikan. Apalagi dengan begitu bertebarannya fenomena kemunafikan di sekitar kita, yang bahasa kerennya bernama "Lips Service". Biarlah itu kembali ke individu masing-masing, sampai ada yang mau mengingatkan sembari mencontohkannya.

Di dunia realita yang individualistis pada akhirnya memang fenomena hipokrit "dibutuhkan" dan acap tumbuh subur. Baik buruknya silahkan menilai sendiri. Namun rasanya kok hati ini jadi ngenes liat fenomena "Lips Service" yang cuma sekedar formalitas, namun semakin hari semakin memprihatinkan saja.

Khusus untuk slogan di kendaraan umum, barangkali sepantasnya diubah menjadi: Please (DO NOT) offer this seat to someone who needs it more than you.
Hanya sebuah intermezzo.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

DKP: Robin Hood dan fenomena kemunafikan

Posted: 28 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

Hmm, polemik dana non budgeter DKP ternyata makin seru. Banyak kisah cerita di balik cerita tentang hal ini. Sesungguhnya praktek pungli yang nama kerennya dana non budgeter ini sudah berlangsung lama di pelbagai instansi dan daerah. Konon ada Pungli sebesar 17 trilyun rupiah pada tahun 2006. Sebenarnya besarnya dana yang dikutip oleh Pak Rokhmin "hanya" 31,7 milyar saja. Itu pun mayoritas diperuntukkan untuk kepentingan sosial. Apalagi waktu itu DKP adalah departemen baru yang gak punya duit.

Dana taktis ini terkadang diperlukan karena kalau mengandalkan dana budgeter, maka birokrasinya berbelit sedangkan kebutuhan mendesak. Khusus untuk DKP, kepala dinas di daerah menyatakan ikhlas menyumbang 1-2% dari nilai project mereka. Khusus untuk Pak Rokhmin, karena beliau termasuk (mungkin) bersih dan bersahaja uangnya banyak yang dimanfaatkan untuk kepentingan sosial, walau ada yang dibagikan ke tim kampanye Capres dll, karena beliau ditodong juga.

Namun apakah hal ini boleh digeneralisir dan dijadikan justifikasi bahwa dana non budgeter boleh dikutip? Bagaimana kalau pengutipnya bukan orang bersih, melainkan orang-orang sontoloyo, sehingga banyak dari Pungli itu masuk ke kantong pribadi mereka? Boleh jadi Pak Rokhmin mengambil walau hanya sedikit, namun walau tak mengambil beliau tetap bisa dikenakan sangkaan dari definisi baru korupsi, yakni: "Sekalipun kita tidak memanfaatkannya secara pribadi, asalkan tidak prosedural ataupun dianggap merugikan negara, maka sesuatu itu bisa dikategorikan sebagai korupsi". Pendeknya, kalaupun gak makan itu uang, kalau dianggap emrugikan negara, maka kita dituduh korupsi.

Biarlah Pak Rokhmin cuma bisa ngenes menjadi "tumbal". Kini seberapa dalam niatnya untuk mengungkapkan siapa-siapa penerima dana itu. Namun bisakah para penerimanya itu, sekali lagi, juga didakwa, padahal saat itu dia hanya tau itu adalah sumbangan belaka, dan apalagi dari orang sebersih Pak Rokhmin. Tentunya dia gak akan berpikir macam-macam bahwa itu uang haram.

Ataukah para penerimanya hanya tutup mata, dari kenyataan bahwa mana mungkin orang sekelas Pak Rokhmin sanggup memberi sumbangan pribadi. Tentunya mereka sudah tau bahwa dana itu adalah dana non prosedural, walau kini semua ramai-ramai cuci tangan menolak mengakui menerimanya.

Pertanyaan yang tersisa kini adalah:

1. Apakah semua pungli itu haram dan tidak diperbolehkan serta dianggap korupsi?

2. Bagaimana dengan peruntukkan atau penyaluran dana ini? Kalau Pak Rokhmin banyak menyalurkan ke berbagai kegiatan sosial. Apakah ini juga tetap disebut korupsi dan bisa dianalogikan seperti Robin Hood yang sekalipun membantu rakyat miskin, tetap saja dianggap bersalah karena dana bantuan darinya berasal dari uang haram.

3. Andaikan memang Pak Rokhmin dan dana itu bermasalah, dan penerimanya, sekali pun waktu itu, taunya cuma sumbangan, tanpa menanyakan darimana asalnya, juga dianggp bersalah, bukankah ekstremnya Indonesia lebih baik bubar saja? Karena orang-orang suci seperti pak Amien, pak Hasyim, Pak Hidayat NW, PKS dll juga terlibat di dalamnya. Apa lagi yang bisa kita harapkan kalau orang suci saja sudah terlibat. Tentunya orang biasa-biasa saja macam kita, ya wajar dong kena begituan.

4. Ataukah sebaliknya kita harus berbesar hati untuk mengakui bahwa korupsi itu sebenarnya bagian dari budaya kita, dan kita gak perlu malu untuk mengakuinya ataupun jaim. Pak Rokhmin sendiri sempat melontarkan kekesalannya dengan berkata bahwa bangsa kita memang munafik, karena itu tidak maju-maju.

5. Kemana sebenarnya bola panas ini akan digulirkan? Apakah memang untuk ujung-ujungnya menyoal kepemimpinan nasional yang terpilih secara sah melalui Pemilu? Kalau iya, tentunya Capek Deuy, kita lagi-lagi dikasih kerjaan rumah yang unnecessary oleh para politisi. Ataukah memang sungguh-sungguh niat murni dan ikhlas demi menegakkan anti korupsi di tanah air.
Yang mana yah? Wallahu 'alam bissawab.

FYI, selama ini Pak Rokhmin, yang guru besar di IPB, dan juga doktor lulusan Kanada, dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan dosen yang dicintai oleh para mahasiswanya. Akankah nasibnya sama seperti Pak Nazarudin Syamsudin yang dulunya juga dikenal bersih? Weww, kalau iya, susah sekali cari orang bersih di kita.

Kalau sudah gini janganlah malu mengakui korupsi sebagai budaya kita dan itu sudah dibuktikan dalam berbagai survey internasional. Yang terpenting kita gak rendah diri karena hal ini, melainkan kita punya niatan untuk memperbaikinya. Jasa Robin Hood tidak akan dikenang andaikan rakyatnya bersikap munafik untuk tidak mengakui pentingnya apa yang dilakukan oleh Robin Hood.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Monopoli Temasek di Telkom kita digugat KPPU

Posted: 24 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) menggugat monopoli Temasek dalam dunia telekomunikasi Indonesia. Temasek via anak perusahaannya Singtel, menguasai 35% saham Telkomsel, sedangkan share Telkomsel di dunia Telkom kita adalah 55%. Then, via STT (Singapore Tech Telemedia/Star Hub), mereka menguasai 41% saham Indosat, padahal selain menguasai satelit vital kita, Indosat meraup share 27% dari dunia Telkom kita.

Dengan demikian total, share Temasek di dunia Telkom kita adalah 82%, via Telkomsel dan Indosat. Wajar saja, karena adanya monopoli begini tarif pulsa Mobile Phone di Indonesia tergolong mahal.

Kalau di Singapore, untuk menelepon sesama handphone, biayanya paling mahal cuma 10 sen SGD/menit alias 580 rupiah per menit, di Indonesia apabila kita menelepon operator yang sama, biayanya berkisar mulai 1000 rupiah per menit, dan apabila menelepon operator lain bisa melonjak lebih dari 3000 rupiah per menit.

Ck ck, ck, inilah yang cukup bikin saya pusing saban ke Jakarta kok rasanya pulsa cepat habis. Inilah yang bikin saya heran, kok bisa-bisanya saya tiap ngisi pulsa 100 ribu dulu dapat pulsa gratis 10 ribu, atau tiap nelpon 10 ribu, selalu dapat gratis pulsa 10 ribu.

Bukankah itu menandakan operator kita meraup keuntungan yang sangat besar sehingga mampu memberikan diskon lebih dari 10%? Itu kan berarti labanya jauh di atas 10%, sehingga diskon 10% dianggap ecek-ecek saja. Belum lagi pemasukan yang berlimpah dari kuis SMS, yang begitu diminati oleh masyarakat kita padahal tarifnya 2000 rupiah per SMS.

Namun Temasek sudah mengisyaratkan untuk melepaskan saham mereka di Indosat dengan alasan menghormati nasionalisme Indonesia. Setiawan Djody, dengan menggandeng bank asing maupun konon operator Rusia, berminat membeli saham Temasek di Indosat, at least 15 trilyun rupiah. Sesimpel alasan nasionalisme itukah mereka tiba-tiba berminat melepas saham Indosat?

Tentunya tidak, yang pasti mereka sudah berhitung, dan mereka sudah sangat puas karena dalam hitungan jari tangan tahun mereka sudah meraih laba yang luar biasa dari dunia Telkom kita, dan kita mampu menjual saham Indosat dengan harga berlipat-lipat dari saat mereka beli dulu.

Hmmm, siapa lagi nih yang katro? Apakah orang-orang kita yang katro sehingga dikuras habis koceknya dengan biaya tarif yang sedemikian mahalnya? Ataukah lagi-lagi orang kita yang katro untuk menjual BUMN berpotensi untung dengan harga murah ke negeri asing? Ataukah orang-orang kita yang lagi-lagi katro, karena gak bisa ngurus BUMN berpotensi untung, namun menjadi benar-benar menguntungkan ketika manajemennya dikelola oleh bangsa asing?

Ataukah Temasek yang terlalu smart untuk sanggup melakukan "penjajahan ekonomi" terhadap saudara tuanya yang mungkin "katro, mengingat Temasek sadar penduduk negerinya cuma 4 juta sedangkan sang saudara tuanya punya anak berjumlah 240 juta alias 60 kali lipat, dan tentunya amat sangat menggiurkan?

Ataukah cuma saya yang terlalu pusing kenapa akhir-akhir ini kok semakin sering kepengen menggunakan kata-kata Katro? Ahh, jangan-jangan ini gara-gara kebanyakan nonton talk show sehingga kata-kata Katro itu mengendap di benak pikiran saya. Semoga kata katro itu gak bakal keluar lagi, karena cukup membikin sedih hati ini manakala menggunakannya, walau tak ada niatan apa pun.

Semoga kata katro itu di kemudian hari bakal diganti dengan kata "HEBAT". Namun gimana dengan kasus Temasek ini? Kitanya yang katro ataukah mereka yang smart? Andaikan kejadian seperti ini tidak berulang lagi di masa depan, tentulah bangsa kita boleh jadi lebih makmur nantinya.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Siapa yang katro di Meruya?

Posted: 23 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

Warga Meruya Selatan (kampung sebelah saya) rame-rame siap mati untuk menentang eksekusi tanah, yang akhirnya dibatalkan. Kisruh di tahun 1977 ini bermula ketika para calo tanah menjual kembali 44 hektar tanah yang dijual ke salah satu swasta. Setelah bertarung sampai tingkat kasasi, akhirnya MA memutuskan pengembang swasta ini sebagai pemenang dan sempat memenjarakan sang calo tanah (ada 3 orang, yang satu sudah mati, yang satu hilang dan yang satu sudah cacat).

Masalahnya, tanah yang di-resale itu kini telah menjadi komplesk DPR, Unilever, Univ Mercu Buana, berbagai perumahan dll. Nah lho. Entah dari mana beredar rumor bahwa 21 Mei lalu akan dieksekusi, hingga ramai-ramai ditentang oleh gubernur DKI, seleb, FBR, rakyat dll. Katronya lagi, ketua PN Jakbar mengatakan anti eksekusi, padahal kalaupun perintah eksekusi itu ada, maka itu akan datang dari PN Jakbar.

Katronya lagi, MA itu adalah institusi hukum tertinggi di sini. Kalau putusan MA itu ditentang, jangan pernah bilang ini negara hukum, karena siapa lagi yang harus dipercaya. Adakah MA itu katro hingga menghasilkan keputusan yang salah namun sensitif dan berefek besar seperti ini?

Katronya lagi, BPN mengeluarkan sertifikat bahwa tanah ini tidak bermasalah. Dengan dasar itulah rakyat berani beli, karena kalau sertifikaat BPN itu aspal, trus sertifikat siapa lagi yang dipercaya? Adakah oknum BPN bermain? Masak sih BPN itu gak tau tanah di situ sedang disengketakan.

Yang kasian ya rakyat dan pihak swasta. Bukankah kedua-duanya menjadi korban? Bayangkan, anda kerja keras dan nabung bertahun-tahun, dan beli tanah bersertifikat. Tiba-tiba anda harus tergusur, karena tertipu, tanpa mendapatkan ganti rugi apa pun. Bagaimana perasaan anda? Kemana anda harus pindah sedangkan uang gak didapat dan di Jakarta tanah harganya selangit? Pihak swasta pun terang-terangan bingung dirinya dihujat, karena mereka juga korban, lantas kenapa dirinya dihujat dan jadi musuh bersama?

Membingungkan. Sebenarnya siapa yang katro yah? MA kah? BPN kah? Swasta kah? Rakyat kah? Atukah para pendukung anti eksekusi seperti gubernur, Satpol PP, FBR, pengacara dan seleb? Yang jelas penipunya, para calo tanah bajigur telah "terhukum" di dunia dan mungkin akhirat nanti. Yang jelas para media massa seneng banget dapat berita baru dan semangat banget mengipasinya.

Wew, jangan banyak-banyak dong yang katro. Hati-hati lho, katro itu penyakit menular. Gaswat kan kalo buanyak banget yang jadi katro? Bisa-bisa kerja kita cuma ber haha-hihi saja setiap hari, bukan kerja keras memperbaiki nasib bangsa.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com
gaktahanmacetnyajakarta

Registrasi nan katro, kapankah diperbaikinya?

Posted: 17 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/17/time/105030/idnews/781859/idkanal/10

Gedung DPR diancam bom. Otomatis para penghuninya harus menghentikan pekerjaannya dulu sekaligus harus merelakan dirinya dievakuasi. Tim Gegana Polri pun bergegas menyisir keberadaan bom tersebut. Dan lagi-lagi hasilnya NIHIL. Ketipu Nih Yee, mungkin begitu kira-kira ejekan sang "pengancam" teror. Tapi kalo polisi gak menyisir, terus kejadian bener-bener ada ledakan, mereka bakal disalahin juga. Sedang andai menyisir dan gak ketemu, yahh pastilah jengkel dikerjain melulu.

Dan ini bukan kali pertama terjadi, namun sudah puluhan kali. Ada sebagian pelaku yang tertangkap, ada yang gak. Di antara yang tertangkap, ada bocah SD, orang stress dll. Gimana cara mereka meneror? Ya umumnya via SMS lah yang dikirim ke nomor-nomor polisi.

Lho bukankah nomor hand phone mereka sudah teregistrasi? Mereka terjadi berulang-ulang dan banyak yang gak tertangkap? Di sinilah konyolnya registrasi nomor HP kita. Seingat saya awal tahun 2006 memang dicanangkan nomor HP harus diregistrasi. Saya pun dikirimi SMS berulang-ulang. Katro-nya, setelah saya me-registrasi, masih juga dikirimi SMS sejenis. Lantas kemana data yang pernah saya berikan itu? Apakah mereka asal kirim ke berbagai nomor sebagai reminder saja.

Yang paling KATRO lagi, registrasi cuma via SMS, dan ditanya nomor KTP, alamat dll. Tapi gak ada verifikasi data-nya. Saya sampai geleng-geleng kepala memikirkan kok bisa-bisanya gak perlu verifikasi data dari pelanggan. Kalau mereka kirim data palsu gimana? Tapi kan ada nomor KTP. Halah, di Indonesia itu jangankan KTP palsu, paspor palsu saja gak susah bikinnya kok. Gak heran deh, kalo pelaku teror bom bisa tetap nekat dan jarang tertangkap.

Mereka baru bisa tertangkap kalau mereka itu katro juga. Dari data palsu yang di registrasi sudah pasti polisi gak bisa melacak. Wong registrasi dilakukan sendiri bukan via toko HP yang jual nomornya. Mereka tertangkap kalau setelah mengirim nomor itu, trus SIM card-nya tidak dibuang, melainkan dipakai lagi. Di sinilah sinyalnya tertangkap dan polisi bisa memburunya.
Dalam urusan registrasi, sikap negeri jiran nan mini kita patut ditiru.

Di sini hampir semua nomor HP adalah pasca bayar, dalam artian kita beli nomor, makai dulu trus keluar tagihan. Di Indonesia juga sudah mulai ada pelayanan sejenis. Namun di sini ada juga nomor yang bisa dibeli sebagai prepaid card, seperti kebanyakan yang dipakai di Indonesia. Minggu lalu saya coba beli nomor dan prepaid Singetl. Dulu asal beli oke, namun kini harus diregistrasi. Untuk verifikasinya saya diminta bawa Pasport.

Alasannya di situ ada fotonya, jadi cashier di convenient store bisa ngeliat langsung memang orang tersebut yang membeli atau bukan. Green Card saya yang gak ada picture-nya pun ditolak. Pokoknya harus Paspor atau identitas lain yang ada picture-nya. Demikian verifikasi dilakukan. Data yang di record complet dan Paspor kita di scan lalu dikirim datanya ke Pusat. Dengan demikian gak ada yang neko-neko menyalah-gunakan prepaid card.

Entahlah, saya gak tau, kalau di operator kita, apakah data kita akan rapi tersimpan ataukah hanya sekedar sebagai syarat saja. Namun gak terpikir kenapa mereka gak mem-verifikasi data? Ataukah nantinya setelah semua data masuk, terus mereka mengecek sendiri nomor KTP para pelanggan itu? Musykil banget rasanya. Ini kan tindakan masa bodoh juga, yang penting beres sebagai syarat.

Tapi gak usah heranlah kalau teror bom itu terus berulang secara konyol. Karena memang sistemnya yang mendukung kekonyolan ini. Satu lagi yang konyol, kalau kita ngisi data buat undian, begitu undian selesai, harusnya kupon undian berisi nama perserta yang tidak terpilih itu, harus dibakar. Tapi ini gak, malah disembarangin. Di sinilah terjadi yang namanya penipuan dapat mobil dari ini itu, dll dengan memakai data confidential yang terbuang itu. Ya modusnya, sang pemenang disuruh nyetor pajak sebesar 20% dari harga hadiah itu. Kalo mobil berharga 150 juta, berarti pajaknya 30 juta. Begitu pajak dibayar, ci luk ba, ketipu nihh yeee.

Saya pun suatu kali pernah dapat kiriman surat sebagai pemenang undian berhadiah 7 Keajaiban salah satu Hypermarket. Waktu itu katanya saya dapat Honda Jazz, klop banget dengan idaman keluarga kami akan mobil mungil ini. Ketika isteri telpon tentang surat itu, serta merta saya langsung REJECT isi surat dan saya jelaskan prinsip saya sbb.

Di dunia ini hasil ada karena usaha. Untuk dapat hasil yang baik, berarti kita harus kerja keras, biar bisa dibilang you deserve to get it. Jangan berpikir kita itu orang yang paling beruntung di dunia, sehingga bisa dapat undian yang peluang menangnya nol koma nol nol nol sekian persen. Forget it. Kalau pun terjadi, itu semata karena Allah SWT baik ke kita, namun jangan pernah berharap banyak karena kita bukan orang yang istimewa dan orang biasa-biasa saja.

Pulang ke rumah, saya cek, weww, ternyata orang kita kalo nipu itu profesional. Suratnya keren, ada TTD notaris, dan pengesahan dari Dirut Hipermarker itu, dan data-data lainnya. Pendeknya bener-bener profesional. Suatu langkah yang patut ditiru, karena kerjanya profesional, hanya sayang salah sasaran. Wajar saja orang-orang gedean pun banyak yang tertipu dengan beginian.

Kalau mau diperluas, bukan cuma undian begini, undian SMS maupun Investasi bodong seperti Drussel, QSAR sudah cukup membuat Katro para pejabat kita dan orang kaya kita. Udah tau gak masuk akal, masih pada ngikut. Tapi kenapa masih terjadi berulang-ulang? Itu karena kita KATRO akibat terlalu GREEDY dan senengnya berpikir enak, gak mau kerja tapi dapat duit gede. Ini cerminan sifat dasar kita yang pemalas dan bokis.

Whatever lah, cuma yang bikin saya jengkel, saya dapat surat itu bukankah karena tindakan sang hipermarket yang serampangan dengan menelantarkan data yang kita berikan. Sejak saat itu akhirnya saya pribadi memutuskan gak akan ikut ngisi undian-undian katro. Lagipula saya sadar bahwa saya bukan orang yang istimewa untuk bisa beruntung menang hadiah segede itu. Lotere sendiri kalau secara agama, akhirnya jatuhnya ke meragukan bahkan cenderung haram. So, no benefit at all yah?

Hmm, mau lotere, mau registrasi nomor HP, semuanya dilakukan secara katro. Piyee nihh. Semoga ke depannya ada perbaikan. Bosen kan jadi katro melulu? Biarin aja Mas Tukul dewek-an yang Katro, dan kita gak perlu ikutan katro :P. Bukan apa-apa, negara gak bisa dibetulin kalo yang ngebetulin pada katro. Kalo untuk urusan ecek-ecek begini kita dah katro, gimana untuk urusan besar. Nanti jadinya malah Katro Kuadrat deh. Pisss yah, hanya sekedar fenomena di antara kita.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Logika terbalik kultur berbeda

Posted: 11 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

Bulan lalu saat tugas di Jakarta, karena untuk keperluan apply sesuatu, saya pergi ke appointed dokter untuk melakukan simple test kesehatan. Selain pengambilan urine, di situ juga ada daftar pertanyaan yang harus dijawab. Namun alangkah terkejutnya sang dokter, ketika saya berkata bahwa baru-baru ini di negeri jiran saya melakukan test HIV.

Reaksi saya juga gak kalah terkejutnya atas reaksi dia, walau lantas saya jelaskan bahwa test HIV itu dilakukan sebagai persyaratan untuk mendapatkan Green Card yang baru. Dia coba mengerti tapi tetap saja sampai sekarang saya masih diburu untuk memberikan copy hasil test HIV tersebut kepada mereka.

Dipikir-pikir, jangan-jangan logika di sana terbalik. Bukankah yang namanya health check dll jarang dilakukan oleh orang-orang sana, dan terkadang tes itu dilakukan untuk mengkonfirmasi atau membuktikan praduga sesuatu. Semprul, boleh jadi di pikiran mereka, saya itu diduga kena AIDS, karena itu saya melakukan test HIV.

Kalau di jiran, test HIV menjadi compulsory untuk perpanjangan izin kerja maupun izin tinggal. Ini dimaksudkan untuk pencegahan masuknya bibit penyakit ini ke sini. Sekali kita terbukti kena HIV, boleh jadi malam itu juga kita bakal disuruh hengkang dari negeri tersebut. Tes kesehatan lain bersifat optional. Namun biasanya saat pertama kali datang, harus dilakukan general check up. Dan gak sedikit yang secara pribadi melakukan regular general check up.

Wew, apakah ini karena beda kultur, beda pemikiran, sehingga logika antara tetangga pun jadi terbalik. Yang satu berpikir tes dilakukan karena ada praduga dan hasil tes yang akan mengkonfirmasi kebenaran praduga itu. Namun yang satunya lagi berpikir, tes adalah untuk pencegahan, gak peduli ada atau gak-nya sesuatu yang salah itu.

Kalau mau diperluas lagi, dalam kehidupan sehari-hari, bukankah biasanya kita baru meributkan sesuatu kalau sesuatu itu telah terjadi? Lihat saja dari kasus bencana-bencana, kecelakaan dll, namun gak pernah terpikir sebelumnya bagaimana supaya hal itu tidak terjadi.

Agak beda, maaf, dengan beberapa negara yang lebih di depan kita. Contohnya, di Jepang, yang paling ekstrem, setiap sesuatu itu ada manual khusus yang di training kan secara reguler. Misalnya mereka kerap melakukan pelatihan anti gempa bumi secara reguler. Sopir bus pun bahkan punya buku manual andaikan terjadi pembajakan bus, dan ini dituruti dengan patuh.

Pernah ada kejadian pembajakan bus, dan sopirnya berlaku seperti manual yang ada, alias harus diam, berada di posisi mana dll. Lucu kayak robot, namun sang sopir gak disalahin walau keliatan bego, alasannya dia cuma ikut petunjuk yang ada di buku manual.

Logika terbalik yang menarik, yang bersumber dari kultur dan pemikiran masing-masing. Mana yang benar, mana yang baik, semuanya relatif. Cuma, saya pribadi berharap kita bisa merevisi lagi logika kita agar punya kebiasaan untuk memikirkan pencegahan sesuatu, dibandingkan baru meributkan atau memikirkannya, apalagi saling menyalahkan setelah segala sesuatu itu terjadi.

Hanya opini dari seorang yang dhoif dan naif. Ada yang punya opini lain?

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Beda kualitas suara penyanyi seniman dengan karbitan

Posted: 11 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

http://www.youtube.com/watch?v=-B29Vzq3y-8&mode=related&search=

Nonton salah satu acara talk show yang menghadirkan penyanyi legendaris kita, seperti Rafika Duri, Soendari Soekotjo dll, sempet surprise juga dengan sang bintang tamu. Bukan apa-apa, suara medru mereka luar biasa.

Mbak Soendari yang jagoan di Keroncong, memang luar biasa suaranya, merdu dan bening. Kenapa yah kualitas suara mereka bisa berbeda jauh dengan para idol-idolan yang sedang heboh di televisi, atau pun bahkan dengan para penyanyi belia?

Cari penyanyi tampaknya mudah, dan ini sudah dibuktikan dengan acara idol. Bahkan artis-artis sinetron pun dengan suara yang ngepas pun bisa jadi penyanyi karbitan. Vokalis grup-grup musik pun gak semua bagus suaranya. Ada yang kualitas suaranya bakekok, namun kebetulan musiknya enak, lagunya pun meledak.

Penyanyi karbitan ataupun asal-asalan memang mudah ditemukan. Namun mencari seniman penyanyi, dengan suara yang berkualitas memang sulit. Rasanya saat ini sulit menemukan penyanyi yang kualitas suaranya seperti Soendari, Rafika, KD, Trie Utami, Dewi Yull dll.

Zaman telah berganti, kini bukan lagi cuma suara yang penting. Penampilan, wajah dan gaya boleh jadi lebih didahulukan daripada kualitas suara. Maaf, bukan ngejelekin, ada penyanyi dangdut, yang baik suara dan tampangnya ngepas, namun punya ciri khas goyangan mesum, kok malah ngetop dan dipanggil sana-sini. Giliran diingetin, weww yang ngingetin malah dihujat, dan pamor goyang itu bukan tambah surut, malah jadi hebat karena promosi gratis kehebohannya.

Cuma sekedar opini karena kangen penyanyi berkualitas suara menakjubkan.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Melayu (belum) boleh (2)

Posted: 10 Mei 2007

Kalo kata Mas Tukul, "Kalau ingin menjadi besar, harus membesarkan orang lain. Ingin menjadi besar, kok malah ngecilin orang lain. Ibaratnya orang bercermin, kalau kita tersenyum, maka bayangan di cermin pun akan tersenyum. Pan gak mungkin kitanya tersenyum, tapi bayangan cermin kita cemberut". Ini cuma ucapan seorang Tukul lho.

Kembali ke laptop. Tentang Melayu, saya cuma prihatin aja Mas, sebagai sesama Muslim, walau sedih karena gak bisa bantu mereka apa-apa saat ini. Hanya pikiran saya melayang, apakah ini cermin ke-frustasi-an dari sosok-sosok yang ter-marjinalisasi? Ekonomi kurang, mau melanjutkan pendidikan ke level tinggi mentok, hingga akhirnya cuma dapat kerja kelas rendahan, padahal biaya hidup di sini tingginya bukan main. Pendeknya, hidup di sini sudah kompetitif, sedangkan mereka agaknya, mungkin, sulit melihat titik terang ke arah perbaikan nasib mereka. Ini akhirnya berujung kepada rasa frustasi.

Fenomena sejenis mudah kita temui di perkampungan padat nan kumuh. Kebetulan saya dulu pernah sempet merasakannya di daerah Kemayoran, sebelum babe beli rumah di kawasan asri di Jaksel. Kalo mau liat contoh real di Jakarta, coba saja ke kawasan Galur. Di situ kawasan berjuta masalah (maaf yah orang Galur). Mau pencolong, narkoba, kapak merah dll, dah lengkap deh. Para ustadz bisa memperbaiki daerah itu? Wew, udah puluhan tahun gak keliatan hasilnya tuh.

Hidup ini memang indah, buat mereka yang sudah secure dalam hal kebutuhan dasar hidup. Namun belum tentu indah buat mereka yang perutnya keroncongan. Jangan berpikir bahwa orang lain yang keroncongan akan sekuat mentalnya seperti kaum alim yang tetap takwa meskipun sering terkpasa berpuasa.

Pada akhirnya, itu akan berujung pada gimana ekonomi diperbaiki. Dengan Melayu ini pun kaitannya demikian. Urusan memperbaiki akhlak, mungkin para ustadz yang pegang peranan utama, namun bagaimana dengan urusan lain yang lebih bersifat "duniawi" namun sesungguhnya menunjang masalah akhlak dan moral ini? Nah di situlah, mungkin, ke depannya peran kita. Ini masalah pan ujung-ujungnya ke ekonomi dan pendidikan juga. Melayu sini begitu, ya karena ekonomi dan pendidikannya yang terjepit.

So, intinya perbaikan akhlak dan moral semata tak cukup kalau tidak dibarengi dengan perbaikan kesejahteraan dan peningkatan harkat hidup.

Getooo, kalo menurut saya sih. Ngenes aja lihat banyak kejadian Melayu ngawur. Itu kan menandakan hal ini mayoritas. Perlukah kita pikirin atau gak, ya "sa bodo teing, wong bukan bangsa kita". Hanya hikmahnya saja yang perlu kita ambil, karena ada contoh sepadan juga di kita, yang perlu diperbaiki, mungkin dengan andil kita.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Melayu (belum) boleh (1)

Posted: 10 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

Semalam di bis, mata orang-orang satu bis tertuju kepada sepasang muda-mudi dengan pandangan yang kesal. Bagaimana tidak, sepasang merpati itu dengan tidak tau malunya, dengan mupeng (Muka Pengeng) berasyik masyuk di dalam bis. Yang cowok memepet sang cewek sambil, maaf yahh kiss2 gitu.

Yang lebih menyedihkan lagi, keduanya adalah Melayu. Bukan sekali ini saya lihat muda-mudi Melayu berpakaian seronok ataupun bertingkah tak tau malu. Saya juga pernah dengar, kehamilan di luar nikah sudah bukan hal yang aneh lagi di kalangan mereka. Ditambah lagi, kebanyakan dari level pendidikan mereka tertinggal dari etnis lain, sehingga ketika bekerja, bisa jadi sopir pun sudah bersyukur. Kadang di HDB yang saya lintasi, malam-malam mereka suka nongkrong bagai gak ada kerjaan, kongkouw-kongkouw duduk di bawah dengan sampah berserakan.

Bukan apa-apa, kalo etnis lain saya gak terlalu peduli. Namun Melayu itu kan 100% Muslim dan itu berarti saudara kita juga. Jadinya ngenes bin prihatin kalau mereka sampai terseret jauh ke nilai-nilai minus. Melayu Bangkit? Melayu Boleh? Agaknya masih jauh panggang dari api untuk berpikir ke sana. Semoga fenomena semalam hanyalah fenomena minoritas yang kebetulan tampak.

Namun bagaimana kah sesungguhnya kondisi etnis Melayu di sini? Adakah akan membaik dari beragam segi, sedang dalam annual speech-nya tahun lalu, PM Lee menyebut bahwa etnis saudara kita ini adalah yang paling tertinggal.

Entahlah, dan apa hubungannya langsung dengan kita? Yang jelas prihatin lihat kondisi semalaman. Kalo nyatanya seperti itu mayoritasnya, dan itu berarti Melayu (Belum) Boleh (maksudnya belum bisa mengejar ketertinggalan).

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Kebebasan masa lalu yang mahal harganya

Posted: 9 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

Kemarin pergi dengan seorang kolega yang Singaporean, di jalan sempat diskusi tentang situasi dan kondisi di Indonesia. Dengan PD saya berkilah, bahwa kondisi ekonomi bisa diperbaiki, dan bangsa Indonesia sudah berada di jalan yang benar ke arah sana. It's a matter of time. Namun ada satu anugerah yang tidak diperoleh saat masih berada dalam cengkeraman rezim masa lalu.

Anugerah itu bernama KEBEBASAN, yang nilainya tak dapat dihargai dengan berapa pun besarnya uang. Dulu, untuk unjuk rasa saja susah. Mau demo ya silahkan, tapi jangan ditanggung kalau setelah itu sang pemimpin demo hilang. Inilah anugerah yang mungkin belum diraih secara mutlak oleh tetangga-tetangga kami maupun pelbagai negeri lainnya. Dulu yang namanya kebebasan cukup mahal dan kita khawatir yang namanya agen ganda bertebaran dimana-mana.

Saya jadi ingat semasa kuliah di negeri utara dulu waktu jaman Pak Harto. Sesama mahasiswa (kebanyakan Bapak-bapak dosen), waktu ngumpul ngomongnya hati-hati sekali. Sebab kita gak tau siapa di situ yang sesungguhnya jadi spy/kepanjangan rezim waktu itu.
Kuatirnya, bolehlah kita di situ nekat ngomong sembarangan. Namun kalo pulang, dan dilaporin oleh si spy, karier kita, bahkan keluarga kita akan diganggu nantinya. Wew, "menakutkan" dan "mencekam" juga masa-masa itu. Siapa sih yang gak takut dengan Rezim nusantara waktu itu?

Ada sih orang yang dicurigai jadi partisan rezim kita. Cuma, dimana-mana yang namanya agen ganda sulit diketahui (wew ini dari beberapa buku yang pernah saya baca). Yang jelas agen ganda itu tentunya dapat imbalan entah berupa materi langsung maupun credit point khusus. Curiga secara langsung dihindari karena kuatir salah dan menyakiti perasaan orang tersebut. Namun kewaspadaan satu sama lain jalan terus. Ngomong masalah politik atau meng-kritik Pemerintah, hanya benar-benar dengan orang yang kita "tsiqoh" semata.

Saya ingat waktu itu, bahkan ada beberapa orang dari pihak tertentu, yang diblok gak boleh ikut kumpul-kumpul, karena dikuatirkan mereka adalah agen ganda, dan sejawat kami diminta keep kewaspadaan terhadap mereka. Walau dalam pergaulan keseharian sebagai sesama mahasiswa sepantaran, teman saya ini biasa-biasa saja. Namun, karena senior meminta waspada, ya waspada curiga hati-hati jalan terus sembari bergaul biasa dengan dia.

Hmmm, kenangan zaman rezim Babe 10 tahun yang lalu. Agen ganda memang susah dicari. Dan kolaborator kayak gini gak jarang berasal dari orang yang gak kita sangka-sangka.

Gimana dengan mereka-mereka yang merantau di suatu negara yang mungkin belum punya kebebasan mutlak (misalnya: Thailand dll deh, jadi deg2an nih)? Gak masalah selama mereka gak ngurusin urusan internal negeri setempat apalagi hal politik. Gimana pun juga di situ kita adalah sebagai tamu yang bermukim. Sudah barang tentu tuan rumah gak akan suka kalau urusan dapur mereka diorek-orek oleh sang tamu.

Nenek moyang kita sendiri sudah mengajarkan prinsip bagus: "Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung". Dengan begini selain kita bisa mempertahankan sikap santun kita, kita juga bisa selamat dimana-mana. Kecuali kita punya keberanian dan kekuatan untuk mengimplemantasikan, "Belalah kebenaran walau pahit sekalipun".

Thanks and Best Regards,

Papa Fariz

Takluknya "sang musuh bersama"

Posted: 7 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

Akhirnya Pak Soegiharto benar-benar terpental dari Kementrian BUMN, meskipun sanggup menorehkan prestasi meningkatkan profit BUMN sekitar 30%.

Ketika kabar Pak Sugi akan dibuang berhembus, Ketua FSB-BUMN Pak Fransiscus Xaverius Arief Supyono berujar bahwa FSB akan mengadakan kendurian atas "ditendangnya" Pak Sugi, sekaligus berharap agar special task force alias tukang bersih-bersih, yang dikomandani Mas Lendo Novo, juga ikutan lenyap seiring kepergian Pak Sugi.

Mengapa FSB terlihat begitu "bersebrangan" dengan menterinya yang kinerjanya terlihat apik dan profesional dari luar? Entahlah. Yang pasti bukan cuma FSB saja yang bertepuk tangan, para elit politik pun merasa girang. "Musuh bersama kini telah ditaklukkan". Mengenai alasan sikap FSB, mungkin ini urusan internal Kementrian BUMN yang orang luar tidak tau.

Pak Sugi digantikan oleh Pak Sofyan Jalil. Kehadiran Pak Sofyan bisa diterima oleh FSB, karena Pak Sofyan dulunya Deputi Menneg BUMN semasa Pak Tanri Abeng, so bisa lebih "ngertiin" kondisi internal BUMN.

Kalau Pak Sugi adalah dari kalangan profesionalis, maka Pak Sofyan Jalil, pria Aceh yang mantan Menkominfo ini dulunya pernah jadi tim sukses SBY-JK semasa Pilpres dulu.
Demikian sekilas kabar tentang kesuksesan takluknya "musuh bersama".

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com


http://www.antara.co.id/arc/2007/5/7/presiden-umumkan-reshuffle-kabinet/

Presiden Umumkan "Reshuffle" Kabinet

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wapres Jusuf Kalla, Senin, sekitar pukul 15.00 WIB di Istana Merdeka Jakarta mengumumkan reshuffle kabinet terbatas yang terdiri dari tujuh posisi menteri yang diganti maupun yang digeser.Ketujuh menteri tersebut adalah Sofyan Djalil yang sebelumnya menjabat Menkominfo menjadi Menteri Negara BUMN menggantikan Sugiharto.

Mohammad Nuh, mantan rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, dipercaya sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika.

Hendarman Supandji, mantan Jampidsus dan Ketua Timtastipikor menjadi Jaksa Agung menggantikan Abdul Rahman Saleh.

Hatta Radjasa yang sebelumnya menjabat Menteri Perhubungan, menjadi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) menggantikan Yusril Ihza Mahendra.

Jusman Syafii Djamal mantan Dirut PT Dirgantara Indonesia dan anggota Komisi Nasional Keselamatan Transportasi dipercaya sebagai Menteri Perhubungan menggantikan Hatta Radjasa.

Ketua Fraksi Partai Golkar yang juga ahli hukum Andi Mattalata dipercaya menjadi Menteri Hukum dan HAM menggantikan Hamid Awaluddin.

Sedangkan yang terakhir adalah Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhamad Lukman Edy dipercaya menjadi menteri Pembangunan Daerah Tertinggal menggantikan Saifullah Yusuf.(*)

Arisan yok, arisan!

Posted: 7 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

http://www.youtube.com/watch?v=Qjkf16n84hI

Bingung ngumpul reguler namun non formil? Gak usah pusing, solusinya mudah, yakni Arisan. Boleh jadi arisan merupakan budaya Indonesia yang merupakan perlambang dari sifat persaudaraan kita sekaligus untuk cara efektif menjalin tali silaturrahmi.

Sebenarnya ada beberapa cara no formil lainnya yang sering dijadikan fasilitas gathering. Di antaranya adalah forum kesamaan sesuatu, semisal hobby dll, atau pun pengajian. Pengajian dan forum, cenderung jatuhnya bersifat suka rela. Gak datang pun gak masalah, karena gak ada komitmen maupun loyalitas. Namun kalau keduanya sudah diformilkan, maka jatuhnya akan dituntut loyalitas dan komitmen.

Arisan berada di tengah-tengah. Di situ gak ada loyalitas, yang ada hanyalah komitmen. Maksudnya komitmen membayar, lebih bagus lagi komitmen datang untuk tiap kali acara. Ini kelebihan arisan, yang sampai kini masih dipraktekkan secara luas di masyarakat, baik yang konotasinya baik maupun yang konotasinya buruk (kayak di film Arisan).

Keluarga besar dari kampung halaman orang tua saya, sampai saat ini aktif mengadakan arisan bulanan sebagai pilar utama paguyuban mereka. Apa bisa gitu dikumpulin mereka via pengajian ataupun forum? Forum hobby? Susah brur, gak semua orang punya hobby yang sama.

Pengajian? Wew, gak semua orang doyan dengerin ceramah apalagi kalo pak ustadz nya membosankan. Di samping acara utamanya arisan, di situ jadi ajang ngumpul santai, bicara ini itu, dan kalau memang perlu dirapatkan sesuatu yang penting, dengan mudah dijalani, toh orang-orangnya sudah pada ngumpul kok.

Di RT sebelah dekat rumah, ngumpulin orang juga dilakukan oleh Bu RT dengan jalan mengadakan arisan RT. Apalagi yang bisa bikin mereka ngumpul reguler, selain lewat arisan. Kegiatan lain, semisal perayaan ini itu, waktunya kan gak reguler. Wew, jadi ingat jadi semasa kecil dulu sempat tinggal di perkampungan padat di kawasan Kemayoran. Di situ acara paling menarik dan paling heboh adalah arisan RT. Kagak pake acara masak-masakan, yang penting semuanya kumpul di depan rumah salah satu warga sambil ngocok arisan. Jadi kangen masa-masa itu.

So, masih bingung buat ngumpul-ngumpul reguler yang non formil? Adain aje arisan. Loyalitas gak perlu, namun komitmen tetap ada. Coba deh sampeyan abis narik arisan, trus gak nongol lagi apalagi gak bayar, bisa-bisa benjut tuh dijitakin member lainnya.Arisan yuk, arisan!

PS: Sila dibuka video klip-nya. Arisan heboh, apalagi ada "Tombo Ngantuk"-nya.:)

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

http://id.wikipedia.org/wiki/Arisan
Arisan adalah kelompok orang yang mengumpul uang secara teratur pada tiap-tiap periode tertentu. Setelah uang terkumpul, salah satu dari anggota kelompok akan keluar sebagai pemenang. Penentuan pemenang biasanya dilakukan dengan jalan pengundian, namun ada juga kelompok arisan yang menentukan pemenang dengan perjanjian.

Di Indonesia, dalam budaya arisan, setiap kali salah satu anggota memenangkan uang pada pengundian, pemenang tersebut memiliki kewajiban untuk menggelar pertemuan pada periode berikutnya arisan akan diadakan.

Arisan beroperasi di luar ekonomi formal sebagai sistem lain untuk menyimpan uang, namun kegiatan ini juga dimaksudkan untuk kegiatan pertemuan yang memiliki unsur "paksa" karena anggota diharuskan membayar dan datang setiap kali undian akan dilaksanakan.

Amanah dikejar, aji mumpung dilakoni

Posted: 6 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

Jabatan itu adalah amanah. Kinerja dan hasilnya, sesungguhnya, kalau mau disadari, bukan hanya dipertanggungjawabkan di dunia semata, melainkan juga di hadapan Ilahi nanti. Semakin tinggi jabatan tersebut, maka tanggung jawab dan pengaruhnya akan semakin besar. Kalau Pak RT salah memegang amanat, hanya satu RT yang kelimpungan.

Namun kalau jabatan itu adalah jabatan publik, apalagi sampai selevel negara, tentunya kalau terjadi something wrong, satu negara lah yang bisa-bisa kena getahnya. Pendeknya jabatan itu berat. Andaikan ia itu sadar bahwa nantinya semua akan dibawa ke hadapan Ilahi, tentulah hatinya akan cemas dan bergetar si daat dibebani suatu amanat yang teramat besar dan vital.

Tapi kenapa yah, menyoroti kehebohan minggu-minggu belakangan ini, kok agaknya fenomena yang sebaliknya malah terjadi di kita? Semuanya seakan-akan berlomba-lomba mencari jabatan. Ada partai yang menuntut jatah menteri lebih banyak sambil "ngacungin goloknya". Ada partai yang "ngamuk" ketika jatah jumlah menterinya dipotong". Ada yang begitu sumringah dan girang saat dinyatakan dirinya bakal diangkat sebagai petinggi negara.

Namun sebaliknya, yang bakal diturunkan pun tentunya kecewa dan mencak-mencak, langsung maupun tak langsung. Jabatan salah satu kementrian negara yang sebenarnya sudah baik kinerjanya pun, dikoyak-koyak, karena memang jadi incaran dan konon sudah sejak lama jadi sapi perahan parpol di nusantara.

Ibaratnya jadi menteri itu mendapat durian runtuh yang membawa bakal membawanya ke janjang lebih tinggi, baik itu dari segi nama, popularitas dan kekayaan. Apakah mereka tidak menyadari bahwa jabatan itu, sekali lagi, amanah yang amat sangat berat pertanggungjawabannya nanti? Ataukah mereka masih berpikir secara instant untuk memanfaatkan aji mumpung terhadap segala hal, selama dia berkuasa.

Sudah bukan kisah usang bahwa banyak menteri yang kekayaannya maupun bisnisnya melonjak selagi dia memegang jabatannya. Ataukah sebaiknya kita berbaik sangka saja bahwa mereka begitu nafsu dan sumringah mengincar jabatan menteri karena ingin secara langsung mendarmabaktikan diri dan kemampuannya bagi bangsa dan negara?

Entahlah, hanya hati kecil ini kadang menjadi sok tau dan sok keminter dengan menilai minus dan prihatinpara orang tua kita yang terlihat begitu "nafsu" untuk meraih posisi menteri. Adakah posisi menteri, dan mungkin posisi lain, jadi ajang untuk bla bla dan bla, dengan prinsip aji mumpung, yang memang sudah bersemayam di kebanyakan kita?

Ataukah jangan-jangan hati nurani saya yang terlalu kotor sehingga berpikir yang bukan-bukan tentang mereka itu? Semoga Allah mengampuni diri saya, dan menghilangkan sifat su'udzhan itu. Dan semoga yang benar adalah harapan bahwa mereka bukanlah nafsu, melainkan semangat untuk mengabdikan dirinya demi kesejahteraan bangsa dan negara.

Entahlah, hanya sekedar refleksi bahwa jabatan itu adalah amanah yang nantinya harus dipertanggungjawabkan jua di hadapan Ilahi.
Maaf kalau gak berkenan. Barangkali ada yang punya opini dan pemikiran lainnya?

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Andai Ku Tahu

Posted: 5 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

http://www.youtube.com/watch?v=UkpmDp57gPw

Andai ku tahu kapan tiba ajalku
Ku akan memohon Tuhan tolong panjangkan umurku

Andai ku tahu kapan tiba masaku
Ku akan memohon Tuhan jangan Kau ambil nyawaku

Aku takut akan semua dosa-dosaku
Aku takut dosa yang terus membayangiku

Andai ku tahu malaikat-Mu kan menjemputku
Izinkan aku mengucap kata tobat pada-Mu

Ampuni aku dari segala dosa-dosaku
Ampuni aku menangis ku bertobat pada-Mu

Aku manusia yang takut neraka
Namun aku juga tak pantas di surga

Andai ku tahu kapan tiba ajalku
Izinkan aku mengucap kata tobat pada Mu

Nge-pop dan sedikit-nge-rock, namun liriknya bernuansa religius dan cukup menyentuh hati. Salah satu lagu terbaik yang pernah ada. Pertama dengar dari pengamen keliling beberapa waktu lalu. Enak didengar dan lain nuansanya, gak seperti lagu-lagulain yang cuma berkisah tentang roman picisan. Kok jadi kayak nasyid yang dimusik-in yah? :)

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com

Cihuyy Empat Mata di upload lagi

Posted: 4 Mei 2007

Assalaamu 'alaikum,

Buat para penggemar Empat Mata, ada kabar gembira nih. Akhirnya kini sudahmuncul volunteer baru yang meng-upload video Empat Mata di Youtube.Kalau dulu uploader-nya adalah barrock81, maka kini adalah potlot14 dan awadudu.Ketik saja barrock81 atau potlot14 atau awadudu di search box-nya Youtube.Maka anda akan menemukan klip video kesayangan anda.

Semalam nonton Empat Mata episode terbaru dengan bintang tamu Shanty, Dewi Gitadan Mas Sudjiwo Tejo. Wew, lucu juga dan cukup membikin cengar-cengir. Namunada kejutan di situ. Ternyata Mas Tukul gak dapat cipika-cipiki lagi. He he, kasiandeh Tukul. Apa karena gara-gara protes anak SD, seperti yang diberitakan di berbagaimedia massa, seperti di bawah ini?

BTW, tentang anak SD, tadi pagi juga ditayangkan di Liputan 6, di suatu sekolahdi Bogor, para anak SD mengadakan parodi, seperti Republik BBM, untuk menyindirberbagai pejabat. Beberapa waktu lalu, ada juga parodi anak SD meniru kelakuan para praja IPDN. Anak SD sekarang pintar-pintar dong, sampai sudah memikirkanmasalah negara dan politik? Beda banget dengan jaman saya kecil, dimana semasaSD, selain belajar, kita taunya main galah asin, petak umpet, baca majalan Bobo danAnanda, nonton Kum-kum dan Unyil dll. Apa jaman udah berubah gitu?

Wah, IMHO, saya berpikirnya kebalik. Ini gak natural banget. Di Singapore dan Jepang gak sampai kayak gitu banget. Saya kasian ngeliatnya, karena secara pribadimenilai sebagai suatu bentuk eksploitasi keluguan mereka oleh pihak pendidik dansekolah. Sang pendidik dan pihak sekolah memanggil para media massa termasukstasiun TV bahwa di sekolahnya akan ada parodi politik bangsa. Lantas sekolahdan anak-anak itu masuk TV. Dengan demikian sekolah tersebut terangkat namanya.Ujung-ujungnya uang pangkal dan bayaran sekolah jadi gede deh, karena sekolahtersebut jadi ngetop. Ahhhh mudah-mudahan ini cuma buruk sangka saya saja.

Cuma, kok rasanya, gak natural banget gitu lho, kalau anak sekecil itu sudah "dipaksa" memikir masalah yang bukan kapasitasnya dan belum waktunya.Weww, kayak pahlawan kesiangan aja, kecil-kecil udah ngurusin politik dan moral.Kasian deh loo, keluguanmu sampai di eksploitasi gitu. Ini pendapat pribadi semata,barangkali ada yang punya pendapat lain.

Wassalaam,

Papa Fariz
FS account: boedoetsg@yahoo.com